BERITA TERKINI
Sei Mamtuaku dan Hindia Koffie en Eaten Perkuat USP untuk Bertahan di Tengah Persaingan Kuliner

Sei Mamtuaku dan Hindia Koffie en Eaten Perkuat USP untuk Bertahan di Tengah Persaingan Kuliner

Persaingan bisnis kuliner yang kian ketat mendorong pelaku usaha untuk terus memperkuat identitas produknya. Salah satu strategi yang dinilai penting adalah memiliki unique selling point (USP) atau keunggulan yang membedakan sebuah merek dari para kompetitornya.

Pemilik Sei Mamtuaku dan Hindia Koffie en Eaten, Intan Rizki, menilai keunikan produk perlu dievaluasi secara berkala agar bisnis tidak berhenti berkembang di tengah perubahan tren dan preferensi pelanggan. Dalam talkshow Muda Kreatif di RRI Pro 2 Malang, Senin (19/10/2026), Intan menyebut merek yang tidak memiliki USP berisiko mengalami stagnasi.

Menurut Intan, keunggulan sebuah merek tidak cukup hanya bertumpu pada produk yang sudah dikenal pelanggan. Pelaku usaha juga perlu mencari aspek yang bisa terus dikembangkan, mulai dari menu, konsep tempat, hingga fasilitas yang diberikan kepada konsumen.

Ia mencontohkan pengembangan kedua bisnisnya dilakukan bertahap. Sei Mamtuaku berfokus pada sajian daging asap dengan beragam pilihan sambal serta pengembangan menu. Sementara itu, Hindia Koffie en Eaten mengembangkan pilihan makanan, minuman kopi, dan fasilitas untuk pengunjung.

Intan juga menekankan pentingnya evaluasi rutin untuk memahami kebutuhan pelanggan. Baginya, pengembangan usaha tidak semata menambah produk, melainkan juga memperhatikan pengalaman yang didapat konsumen saat berkunjung.

Salah satu fasilitas yang disediakan Hindia Koffie en Eaten adalah perlengkapan mandi gratis bagi pelanggan. Fasilitas itu ditujukan untuk membantu pengunjung yang membutuhkan tempat membersihkan diri, termasuk mereka yang sedang dalam perjalanan atau memiliki jadwal kereta.

Intan menilai kemampuan membaca kebutuhan pelanggan menjadi salah satu kunci menjaga keberlangsungan bisnis. Pelaku usaha, menurutnya, perlu terus beradaptasi agar konsumen memiliki alasan kuat untuk kembali berkunjung.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa persaingan bisnis kuliner tidak hanya berkaitan dengan rasa dan harga, tetapi juga ditentukan oleh karakter merek, inovasi, serta nilai tambah yang diberikan kepada pelanggan.