BERITA TERKINI
Konsumen Makin Peduli Nutrisi, Ini Lima Tren yang Diprediksi Mewarnai Bisnis Kuliner 2027

Konsumen Makin Peduli Nutrisi, Ini Lima Tren yang Diprediksi Mewarnai Bisnis Kuliner 2027

Jakarta — Bisnis makanan kini tidak lagi cukup mengandalkan rasa dan harga. Konsumen semakin memperhatikan apa yang mereka makan, mulai dari kandungan nutrisi, bahan baku, hingga proses produksi di balik sebuah produk.

Perubahan perilaku tersebut membuka peluang baru bagi pelaku usaha kuliner. Produk tinggi protein, makanan dengan komposisi sederhana, hingga olahan berbahan pangan lokal dinilai berpotensi menarik perhatian konsumen pada 2027.

Gambaran itu sejalan dengan survei PricewaterhouseCoopers (PwC) dalam laporan Voice of the Consumer 2026. Sebanyak 73% konsumen Indonesia yang disurvei menyatakan berencana meningkatkan konsumsi produk segar seperti buah dan sayuran dalam 12 bulan mendatang. Responden juga mengungkapkan keinginan untuk mengonsumsi lebih banyak makanan tinggi protein.

Kondisi tersebut menunjukkan pelaku bisnis makanan perlu melihat peluang lebih luas daripada sekadar menciptakan menu baru. Memahami kebutuhan konsumen dan menawarkan nilai tambah melalui produk menjadi salah satu cara untuk bersaing.

Berikut lima tren yang disebut dapat menjadi inspirasi pengembangan bisnis kuliner.

1. Makanan tinggi protein dan serat

Protein selama ini identik dengan menu berbahan daging, telur, dan susu. Namun, sumber protein nabati juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih variatif. Kacang-kacangan, misalnya, tidak harus selalu hadir sebagai makanan pendamping, tetapi bisa diolah menjadi menu utama maupun camilan praktis dengan kandungan protein dan serat.

Whole Foods Market memprediksi produk seperti instant lentil bowl, camilan kacang arab, dan edamame akan semakin mendapat perhatian. Bagi pelaku usaha, tren ini dapat diterjemahkan menjadi produk siap santap, makanan ringan tinggi protein, atau menu praktis berbahan dasar kacang-kacangan dengan nilai tambah pada inovasi rasa dan kemudahan penyajian.

2. Produk dengan komposisi sederhana

Konsumen juga semakin memperhatikan daftar komposisi pada kemasan makanan. Kekhawatiran terhadap bahan tambahan dan makanan ultra-proses mendorong tren ingredient minimalism, yakni penggunaan bahan yang lebih sederhana dalam produk.

Tren ini membuka ruang bagi produsen untuk menawarkan produk dengan komposisi yang mudah dipahami. Informasi mengenai bahan baku, kandungan nutrisi, dan proses pengolahan juga dapat menjadi bagian dari daya tarik produk.

3. Irisan makanan dan kecantikan

Industri makanan dan wellness disebut semakin dekat dengan dunia kecantikan. Whole Foods Market memperkirakan tren beautrition—perpaduan nutrisi dan kecantikan—akan berkembang pada 2027.

Konsep ini mengangkat makanan dan minuman yang dikaitkan dengan perhatian terhadap kesehatan kulit serta asupan nutrisi. Contoh produk yang mulai mendapat perhatian antara lain camilan berbahan kolagen, minuman dengan kandungan antioksidan, serta makanan yang mengandung lemak sehat.

4. Bahan pangan lokal sebagai identitas

Persaingan bisnis kuliner tidak selalu harus dimenangkan lewat resep yang unik. Asal-usul bahan baku juga dapat menjadi pembeda yang membentuk karakter produk. Whole Foods Market mengangkat konsep terroir, yakni pengaruh kondisi tanah, iklim, dan lingkungan geografis terhadap karakter serta cita rasa suatu produk.

Konsep ini terlihat pada produk seperti madu dari wilayah tertentu, cokelat dari perkebunan khusus, atau kopi dengan karakter rasa khas daerah asalnya. Dengan keragaman komoditas pangan, pelaku usaha di Indonesia dapat mengangkat bahan lokal sekaligus memperkenalkan cerita mengenai daerah asal, petani, dan proses produksi.

5. Bisnis kuliner minim limbah

Bahan baku yang terbuang tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi efisiensi biaya produksi. Karena itu, pemanfaatan bahan pangan secara maksimal menjadi pendekatan yang dinilai berpeluang berkembang.

Whole Foods Market menyoroti tren pengolahan sisa produksi menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan ini memungkinkan pelaku usaha mencari sumber pendapatan tambahan sekaligus mengurangi bahan pangan yang terbuang, dengan catatan prosesnya memenuhi standar keamanan pangan serta memperhatikan kebersihan, kualitas bahan, dan masa simpan produk.

Secara keseluruhan, lima tren tersebut menunjukkan konsumen semakin mempertimbangkan nilai di balik makanan yang mereka beli. Kandungan nutrisi, kesederhanaan komposisi, keterkaitan dengan wellness, identitas bahan lokal, hingga efisiensi produksi menjadi faktor yang dapat diperhitungkan dalam pengembangan bisnis kuliner.