Sambal Serai Melayu kini berkembang sebagai salah satu usaha kuliner yang menarik perhatian di Medan. Di balik produk ini ada Siska S.Sos M.Pd, pengusaha muda asal Sumatera Utara yang merintis bisnis sambal khas Melayu dengan tujuan memperkenalkan cita rasa dari daerah asalnya kepada khalayak yang lebih luas.
Siska, yang juga berprofesi sebagai dosen kuliner dan Geneologi Melayu di USU, menuturkan gagasan usaha tersebut berawal dari kebiasaannya membuat sambal serai untuk keluarga. Dari situ, ia melihat peluang karena sambal khas ini belum banyak dikenal di luar daerah. Ia kemudian mengemas sambal serai dalam bentuk yang lebih praktis agar dapat dipasarkan secara lokal maupun nasional.
Dalam dialog pada acara Etalase 884 di Programa 4, Jumat (05/12/2025), Siska menjelaskan bahwa sebelum fokus pada sambal, ia sempat membuat kue-kue kering dan kue tradisional Melayu. Ketika keluarganya mengalami kesulitan ekonomi, ia mencari alternatif usaha dan memilih menjual sambal serai khas Melayu. “Awalnya saya membuat kue – kue kering dan kue tradisional Melayu, kemudian pada saat keluarga saya mengalami kesulitan ekonomi muncul ide untuk menjual sambal serai khas Melayu ini sebagai usaha,” ujarnya.
Dari sisi rasa, Sambal Serai Melayu memiliki karakter yang membedakannya dari sambal lain. Perpaduan cabai, serai, bawang, dan rempah-rempah khas Melayu menghasilkan sensasi pedas yang segar dan harum. Sambal ini disebut cocok sebagai pelengkap nasi dan dapat dipadukan dengan berbagai hidangan.
Siska menambahkan, ia menggunakan ikan lele dalam racikannya. Menurutnya, aroma serai menjadi ciri yang membuat sambal tersebut berbeda. “Saya menggunakan ikan lele didalamnya dan sambal ini tidak hanya pedas, tapi juga memiliki wangi serai yang khas. Itu yang membuatnya beda. Rasa pedasnya memang kuat, tapi ada rasa segar yang bisa menambah kenikmatan makan,” kata Siska.
Meski memiliki basis penggemar di kalangan masyarakat Melayu, Siska menilai pasar sambal ini tidak terbatas pada komunitas tertentu. Ia melihat minat generasi muda dan penikmat kuliner terhadap makanan pedas dan cita rasa otentik sebagai peluang untuk memperluas jangkauan.
Untuk pemasaran, Siska memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Ia juga memilih kemasan kaleng “seperti sarden” agar lebih praktis dibawa dan dinilai terjangkau. Menurutnya, produk tersebut sudah merambah ke Malaysia. “Saya kemas dalam bentuk kemasaan kaleng seperti sarden lebih praktis yang memudahkan konsumen untuk membawa sambal ke mana saja dan harganya juga terjangkau, sambal ini juga sudah merambah ke Malaysia, saya menggunakan media sosial untuk memasarkan produk berbasis kuliner tradisional ini,” jelasnya.

