Nama Khofifah Indar Parawansa kembali ramai dibicarakan setelah open house Idul Fitri di rumah pribadinya, Jemursari, Surabaya, Minggu (22/3/2026).
Ribuan warga datang sejak pagi, mengantre rapi di bawah tenda yang disiapkan beberapa hari sebelumnya.
Di momen ketika ruang publik sering terasa jauh, peristiwa sederhana seperti bersalaman di gerbang rumah mendadak menjadi magnet perhatian.
Open house itu bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi panggung kecil yang memperlihatkan bagaimana warga menafsirkan kedekatan, akses, dan kebersamaan.
Di tengah arus kabar yang cepat, foto antrean, sapaan, dan semangkuk soto ayam bisa mengalahkan isu lain, karena menyentuh rasa yang sangat manusiawi.
-000-
Isu yang Membuatnya Menjadi Tren
Ada pertanyaan yang mengiringi tren ini: mengapa open house seorang gubernur di rumah pribadi bisa menyita perhatian begitu besar?
Jawabannya berlapis, dan berangkat dari hal yang tampak remeh, tetapi sesungguhnya menjelaskan suasana sosial kita hari ini.
Pertama, Idul Fitri adalah musim emosi kolektif. Silaturahmi bukan hanya ritual, melainkan kebutuhan sosial yang memulihkan rasa menjadi bagian dari komunitas.
Ketika tradisi itu diwujudkan dalam antrean panjang, publik melihat bukti konkret bahwa kebersamaan masih mungkin, meski hidup makin terfragmentasi.
Kedua, ada kerinduan pada pemimpin yang bisa disentuh, dalam arti harfiah. Warga datang, menyalami, lalu pulang membawa cerita tentang akses.
Dalam demokrasi, akses sering terasa abstrak. Open house memberi bentuk yang kasat mata, meski hanya beberapa detik di depan gerbang.
Ketiga, narasi ekonomi kerakyatan ikut mengangkatnya. Khofifah melibatkan pedagang ultra mikro untuk menjamu tamu, bukan memasak tim internal atau katering.
Di saat banyak program ekonomi terasa teknokratis, tindakan yang bisa dilihat dan dirasakan lewat makanan menjadi simbol dukungan yang mudah dipahami.
-000-
Adegan di Pagi Hari: Antrean, Salam, dan Sepiring Tahu Campur
Sejak pagi, warga berdatangan. Tenda berdiri, barisan terbentuk, dan kesabaran diuji oleh panas dan waktu.
Khofifah tampil dengan gamis kuning bermotif bunga, senada dengan jilbabnya. Ia berdiri di depan gerbang menyambut satu per satu tamu.
Yang datang bukan hanya ibu-ibu. Anak-anak, bapak-bapak, hingga pengemudi ojek online ikut larut dalam momen lebaran itu.
Setelah bersalaman, warga menikmati kuliner khas Jawa Timur. Ada soto ayam, pecel semanggi, nasi goreng jawa, sampai tahu campur.
Hidangan itu bukan sekadar menu. Ia adalah bahasa sosial, cara paling cepat untuk mengatakan: “Anda diterima sebagai tamu.”
-000-
UMKM di Meja Makan: Simbol yang Mudah Dibaca Publik
Khofifah menyebut pelibatan pedagang ultra mikro sebagai bagian kebersamaan. Ia ingin “melarisi UMKM” lewat hidangan riyayan di Jemursari.
Di titik ini, open house berubah dari peristiwa privat menjadi pesan publik. Ia menyatukan silaturahmi dengan perputaran ekonomi kecil.
Riset tentang UMKM di Indonesia kerap menekankan bahwa usaha mikro menyerap tenaga kerja besar dan menjadi bantalan saat guncangan ekonomi.
Karena itu, setiap simbol keberpihakan pada pelaku ultra mikro cepat memperoleh resonansi, apalagi bila hadir dalam bentuk yang bisa dicicipi.
Namun simbol juga menuntut kehati-hatian. Dukungan yang bermakna perlu berlanjut dalam kebijakan yang konsisten, bukan berhenti di momen seremonial.
-000-
Silaturahmi sebagai Modal Sosial
Khofifah menautkan tradisi riyayan dengan penguatan seduluran. Ia mengutip keyakinan bahwa silaturahmi meluaskan rezeki dan memanjangkan umur.
Di luar dimensi keagamaan, ada konsep yang sepadan dalam ilmu sosial: modal sosial, yakni jejaring dan kepercayaan yang memudahkan kerja bersama.
Penelitian klasik Robert Putnam tentang modal sosial menunjukkan bahwa pertemuan tatap muka memperkuat kepercayaan, yang kemudian menurunkan biaya koordinasi.
Dalam bahasa sehari-hari, jika orang saling percaya, gotong royong lebih mudah lahir. Konflik lebih mudah diredam karena ada relasi yang sudah terbangun.
Open house memberi ruang bagi modal sosial itu, meski singkat. Ia mempertemukan warga dari latar berbeda dalam satu antrean yang sama.
-000-
Kesaksian Warga: Tradisi yang Menjadi Agenda Hidup
Fauziah, warga Ampel Surabaya, menyebut kunjungannya sebagai agenda rutin. Ia datang setiap hari kedua Lebaran, dan tahun ini memasuki tahun ketujuh.
Ia datang bersama anak-anak. Ia menyampaikan rasa senang, memuji hidangan yang banyak dan enak, lalu mendoakan kesehatan serta rezeki untuk Khofifah.
Kesaksian seperti ini penting karena memperlihatkan tradisi yang bertahan. Ia bukan peristiwa sekali lewat, melainkan kebiasaan yang ditunggu.
Di sisi lain, kebiasaan itu juga menandai adanya kebutuhan warga untuk merasa dekat dengan pusat keputusan, walau hanya lewat ritual tahunan.
-000-
Ojol Perempuan dan Makna Representasi
Koordinator Gaspol ojol Perempuan untuk Jatim, Dhea, mengatakan mereka mengupayakan silaturahmi tiap tahun karena Khofifah peduli pada perempuan rentan.
Dhea juga menyinggung sedikitnya pemimpin perempuan. Baginya, keberadaan pemimpin perempuan yang dirasakan dekat menjadi sumber motivasi.
Pernyataan itu menjelaskan lapisan lain dari tren. Bukan hanya soal makanan dan antrean, tetapi juga soal representasi dan pengalaman kelompok rentan.
Dalam studi kebijakan publik, representasi sering memengaruhi rasa percaya. Ketika warga merasa “terlihat,” mereka lebih mau terlibat dalam proses sosial.
-000-
Mengapa Peristiwa Ini Menyentuh Indonesia Hari Ini
Indonesia sedang menghadapi tantangan besar dalam menjaga kohesi sosial. Polarisasi, ketimpangan, dan tekanan ekonomi membuat jarak antarkelompok terasa melebar.
Di situasi seperti itu, perayaan yang menekankan pertemuan fisik menjadi semacam penawar. Ia mengingatkan bahwa perbedaan bisa duduk dalam ruang yang sama.
Isu besar lain adalah kepercayaan terhadap institusi. Banyak warga menilai layanan publik dan politik terlalu rumit, terlalu jauh, atau terlalu formal.
Open house menawarkan bentuk akses yang sederhana. Ia tidak menggantikan mekanisme institusional, tetapi memberi pengalaman emosional tentang kedekatan.
Selain itu, Indonesia menaruh harapan besar pada ekonomi rakyat. Ketika pedagang ultra mikro dilibatkan, publik membaca pesan keberpihakan pada lapisan bawah.
-000-
Pelajaran Konseptual: Antara Simbol, Ritual, dan Kebijakan
Ritual sosial punya kekuatan membangun makna. Antropolog seperti Victor Turner menulis bahwa ritus komunal dapat menciptakan rasa kebersamaan sementara.
Rasa kebersamaan itu penting, tetapi sifatnya rapuh jika tidak ditopang struktur. Dalam konteks pemerintahan, struktur itu adalah kebijakan yang adil dan konsisten.
Maka, publik wajar menikmati simbol, tetapi juga wajar menagih kesinambungan. Dukungan UMKM misalnya, perlu hadir dalam akses pasar dan perlindungan usaha.
Di sisi lain, pemimpin juga perlu ruang untuk membangun kedekatan yang tidak selalu bisa diukur angka. Ada nilai psikologis yang sering luput dari laporan kinerja.
-000-
Referensi Luar Negeri: Tradisi “Open House” di Negara Lain
Tradisi menerima warga saat hari besar bukan hanya milik Indonesia. Di beberapa negara, pemimpin juga menggelar acara serupa untuk memperkuat kedekatan.
Malaysia, misalnya, dikenal dengan tradisi “rumah terbuka” saat Hari Raya, yang sering dihadiri pejabat dan warga lintas latar.
Di Inggris, acara “garden party” di lingkungan kerajaan menjadi contoh lain. Ia bukan Idul Fitri, tetapi sama-sama memanfaatkan ritual pertemuan untuk membangun simbol.
Kesamaannya ada pada pesan: pemimpin membuka pintu, warga datang sebagai tamu. Bedanya terletak pada konteks budaya dan jarak sosial yang menyertainya.
Perbandingan ini membantu kita memahami bahwa kedekatan pemimpin bukan semata strategi politik. Ia juga bagian dari tradisi sosial yang diolah berbeda tiap negara.
-000-
Risiko yang Perlu Diingat: Romantisasi dan Harapan Berlebih
Peristiwa yang hangat mudah memicu romantisasi. Kita bisa terlalu cepat menyimpulkan bahwa kedekatan simbolik otomatis berarti semua persoalan selesai.
Padahal, antrean open house tidak serta-merta menjawab masalah layanan publik, kemiskinan, atau perlindungan pekerja. Ia hanya membuka ruang percakapan.
Di sisi lain, skeptisisme berlebihan juga tidak adil. Tradisi silaturahmi punya nilai sosial yang nyata, terutama ketika masyarakat lelah oleh pertengkaran.
Sikap yang sehat adalah menempatkannya pada porsi tepat. Mengapresiasi kebersamaan, sambil tetap menuntut kebijakan yang berpihak dan terukur.
-000-
Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik dapat menjadikan momen ini sebagai pengingat bahwa ruang temu lintas kelas sosial masih penting. Silaturahmi bukan nostalgia, tetapi kebutuhan.
Kedua, pelibatan pedagang ultra mikro patut didorong menjadi pola berkelanjutan. Pemerintah daerah bisa memperluas akses UMKM ke event resmi lain.
Ketiga, kedekatan pemimpin dengan warga perlu disertai mekanisme aspirasi yang rapi. Antrean salam sebaiknya dilengkapi kanal pengaduan dan tindak lanjut.
Keempat, kelompok rentan yang merasa didengar perlu terus diberi ruang. Dukungan simbolik harus diterjemahkan menjadi perlindungan nyata dalam kebijakan.
Kelima, masyarakat perlu menjaga agar tradisi ini tidak menjadi arena saling serang. Lebaran seharusnya menjadi ruang merawat akal sehat dan empati.
-000-
Penutup: Energi Positif yang Perlu Dijaga
Khofifah berharap tradisi riyayan membentuk energi positif yang ditransformasikan menjadi gotong royong. Harapan itu terdengar sederhana, tetapi relevan.
Di Jemursari, ribuan orang berdiri dalam antrean yang sama. Mereka pulang dengan rasa kenyang, tetapi juga dengan cerita tentang pertemuan.
Di negara sebesar Indonesia, cerita semacam itu adalah bahan bakar kepercayaan. Kepercayaan tidak lahir dari slogan, melainkan dari pengalaman yang dirasakan.
Namun kepercayaan juga harus dijaga dengan kerja yang konsisten. Ritual membuka pintu akan lebih bermakna jika diikuti kebijakan yang membuka kesempatan.
Pada akhirnya, silaturahmi adalah cara kita mengingat bahwa manusia lebih luas daripada perannya. Seperti kata bijak yang kerap diulang saat lebaran: “Yang terpenting bukan menang, melainkan tetap saling memanusiakan.”

