Sebuah penelitian menyoroti stabilitas kualitas DNA yang diperoleh dari swab bukal (usap bagian dalam pipi) hingga 14 hari penyimpanan. Temuan ini dinilai relevan bagi kebutuhan analisis genetik, termasuk untuk kepentingan forensik, terutama di wilayah yang menghadapi kendala waktu pengiriman sampel ke laboratorium.
Dalam praktik analisis DNA forensik pada individu hidup, darah dan swab bukal merupakan dua sumber materi genetik yang umum digunakan. Namun, pengambilan darah bersifat invasif dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Sebaliknya, swab bukal menawarkan alternatif non-invasif dan tanpa rasa sakit. Di Indonesia, tantangan geografis kerap membuat proses transit atau penyimpanan sampel memakan waktu lebih lama, sehingga ketahanan kualitas sampel menjadi faktor penting.
Penelitian ini mengevaluasi kualitas DNA dari usap bukal dengan membandingkan hasil segera setelah ekstraksi (hari ke-0) dan hasil setelah penyimpanan hingga hari ke-14. Parameter yang dinilai mencakup kemurnian dan konsentrasi DNA.
Hasilnya menunjukkan kemurnian DNA rata-rata (rasio A260/A280) relatif stabil dari hari ke-0 sampai hari ke-14, dengan rentang 1,75 hingga 1,96. Konsentrasi DNA juga hanya mengalami fluktuasi kecil, dengan nilai tertinggi pada hari ke-14 sebesar 597,70 mikrogram per mililiter dan terendah pada hari ke-7 sebesar 516,90 mikrogram per mililiter. Penelitian ini tidak menemukan variasi yang signifikan pada kemurnian maupun konsentrasi DNA seiring waktu, selama kondisi penyimpanan optimal dijaga.
Selain aspek stabilitas, swab bukal disebut memiliki sejumlah keunggulan praktis: biaya pengambilan relatif rendah, tidak menimbulkan rasa sakit, serta tidak memerlukan kondisi penyimpanan khusus di titik pengambilan sampel. Karakteristik ini dinilai dapat meningkatkan kepatuhan peserta dan mendukung studi genetik maupun forensik berskala besar atau berbasis lapangan, termasuk di daerah terpencil atau dengan sumber daya terbatas.
Meski demikian, penelitian ini juga mencatat keterbatasan. Ukuran sampel yang relatif kecil dapat memengaruhi kekuatan statistik temuan, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan populasi lebih besar untuk memastikan generalisasi hasil. Selain itu, studi ini belum mengevaluasi integritas DNA—parameter penting untuk menilai kualitas DNA secara menyeluruh, seperti panjang fragmen dan tingkat degradasi. Peneliti menyebut teknik seperti elektroforesis atau metode berbasis spektrometri dapat digunakan untuk menilai sejauh mana DNA tetap utuh selama penyimpanan.
Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menyimpulkan bahwa DNA dari swab bukal dapat tetap stabil dan layak digunakan untuk analisis genetik serta forensik hingga dua minggu, dengan syarat kondisi penyimpanan yang sesuai dipertahankan.

