Tikus kerap menjadi masalah di rumah, terutama di area dapur. Selain mengotori dan merusak barang, hewan pengerat ini dikenal sebagai pembawa berbagai penyakit. Salah satu yang belakangan banyak dibicarakan adalah Hantavirus, yang dapat menimbulkan gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan muntah. Pada kondisi lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius yang berisiko mengancam jiwa.
Penularan Hantavirus disebut dapat terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan urin, kotoran, atau air liur tikus. Risiko juga dapat muncul ketika debu yang telah terkontaminasi terhirup tanpa disadari. Dapur menjadi lokasi yang kerap menarik tikus karena menyediakan sumber makanan, tempat bersembunyi, dan suasana hangat.
Sejumlah bahan dapur disebut dapat dimanfaatkan untuk mengusir tikus secara alami. Penjelasan yang beredar menyebut, zat kimia alami dalam berbagai bumbu dan bahan masak mampu mengiritasi selaput lendir hidung tikus, mengganggu sistem penciuman, dan mengacaukan kemampuan mereka mendeteksi makanan. Kondisi itu membuat tikus merasa tidak nyaman dan cenderung menjauh mencari tempat lain.
Disebut pula bahwa senyawa aktif seperti belerang, minyak atsiri, capsaicin, dan alkaloid dapat berperan sebagai penolak alami hama. Penggunaan bahan dapur dinilai lebih aman dibanding racun kimia karena mengurangi risiko paparan pada anak-anak, hewan peliharaan, serta potensi mencemari makanan. Informasi yang beredar juga menyebutkan catatan dari International Journal of Environmental Research and Public Health (2023) bahwa penggunaan bahan alami secara rutin dan benar dapat menurunkan tingkat kontaminasi bakteri dan virus di area dapur hingga lebih dari 60 persen.
Berikut rangkuman tujuh bahan dapur yang disebut tidak disukai tikus, beserta cara penggunaan yang umum disarankan.
1. Bawang putih dan bawang merah
Kedua jenis bawang ini disebut mengandung allicin dan belerang (sulfur) yang menghasilkan aroma menyengat. Bau tersebut diklaim dapat mengiritasi saluran pernapasan dan selaput lendir hidung tikus sehingga membuatnya menghindar.
Cara pakai: bawang digeprek atau diiris kasar lalu diletakkan di sudut dapur, bawah lemari, dekat tempat sampah, atau jalur yang sering dilalui tikus. Disarankan diganti setiap 2–3 hari atau saat aromanya berkurang. Alternatif lain, bawang direbus, lalu air rebusannya disemprotkan ke celah-celah.
2. Cabai dan lada (hitam/putih)
Cabai mengandung capsaicin dan lada mengandung piperin. Senyawa ini diklaim menimbulkan sensasi perih dan panas, termasuk dari uap atau aromanya, sehingga mengganggu indera tikus dan membuatnya menjauh.
Cara pakai: bubuk cabai, bubuk lada, atau cabai kering yang dihancurkan ditaburkan tipis pada jalur masuk, lubang, atau sudut ruangan. Bisa juga dicampur sekitar 2 sendok makan bubuk cabai/lada dengan 1 liter air, direbus sebentar, didinginkan, lalu disemprotkan ke celah-celah. Penggunaan perlu hati-hati agar tidak terhirup atau terkena mata.
3. Cuka putih
Cuka putih mengandung asam asetat dengan bau masam tajam. Aroma ini disebut dapat mengganggu reseptor penciuman tikus. Selain itu, cuka juga kerap digunakan untuk membantu membersihkan area yang diduga terpapar kotoran atau urin tikus.
Cara pakai: campurkan cuka putih dan air dengan perbandingan 1:1, masukkan ke botol semprot, lalu semprotkan ke sudut dapur, lemari makanan, bawah wastafel, dan area yang sering dilewati. Alternatif lain, kapas dicelupkan ke cuka murni dan diletakkan di wadah kecil di sudut ruangan. Disarankan dilakukan sekitar dua hari sekali agar aromanya tetap terjaga.
4. Daun salam
Daun salam disebut mengandung minyak atsiri, eugenol, dan cineol yang beraroma khas. Aroma ini diklaim tidak disukai tikus dan dapat mengganggu kenyamanan mereka jika terhirup terus-menerus. Informasi yang beredar juga menyebut daun salam aman diletakkan dekat bahan makanan.
Cara pakai: daun salam segar atau kering diremas agar aromanya keluar, lalu diletakkan di rak makanan, lemari piring, atau sudut dapur. Bisa juga dihancurkan menjadi serbuk dan ditaburkan. Disarankan diganti sekitar seminggu sekali.
5. Cengkeh
Cengkeh dikenal memiliki aroma kuat karena kandungan eugenol. Bau tajamnya diklaim mengganggu tikus dan bertahan lama.
Cara pakai: biji cengkeh utuh diletakkan di sudut ruangan atau wadah kecil di lemari makanan. Bisa juga menggunakan minyak cengkeh yang diteteskan pada kapas, lalu diletakkan di jalur tikus. Disebutkan aromanya dapat bertahan sekitar 1–2 minggu.
6. Kayu manis
Kayu manis mengandung kumarin dan minyak atsiri yang beraroma manis namun tajam. Aroma ini diklaim mengganggu indera penciuman tikus dan membuatnya tidak nyaman.
Cara pakai: gunakan batang kayu manis atau bubuknya. Bubuk dapat ditaburkan di sudut dapur, sementara batang dapat diikat dan digantung di lemari atau sudut ruangan. Disarankan diganti sekitar sebulan sekali atau saat aromanya memudar.
7. (Bahan-bahan alami penolak berbasis senyawa aktif bumbu dapur)
Informasi yang beredar menekankan bahwa berbagai bumbu dapur dengan kandungan minyak atsiri, belerang, atau senyawa pedas dapat berperan sebagai penolak alami. Efektivitas disebut bergantung pada konsistensi penggunaan dan kekuatan aroma yang masih bertahan di area yang rawan dilalui tikus.
Terlepas dari pilihan bahan yang digunakan, kunci pencegahan tetap bertumpu pada kebersihan dapur dan pengelolaan makanan. Menutup rapat bahan pangan, membersihkan sisa makanan, serta rutin mengganti bahan penolak agar aromanya tetap kuat disebut dapat membantu mengurangi peluang tikus bersarang dan menurunkan risiko paparan penyakit yang dibawanya.

