Tren kecantikan di internet terus berganti dengan cepat. Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih cermat memilah mana metode perawatan yang benar-benar efektif dan mana yang hanya memunculkan sensasi sesaat.
Para dokter kulit pun kerap menemui pasien dengan kondisi wajah yang memburuk setelah mengikuti tren kecantikan viral yang menyesatkan. Salah satu tren yang belakangan ramai dibicarakan adalah red light therapy, yang disebut-sebut memiliki manfaat yang diakui secara medis.
Menurut American Academy of Dermatology, red light therapy merupakan prosedur noninvasif yang memanfaatkan paparan cahaya merah atau inframerah dekat untuk meningkatkan aktivitas seluler pada jaringan kulit. Metode yang dikenal sebagai fotobiomodulasi ini kerap digunakan untuk membantu menangani masalah seperti jerawat meradang, menyamarkan garis penuaan, hingga menekan laju kerontokan rambut.
Secara teknis, cahaya pada kisaran 630–660 nanometer disebut dapat menembus sekitar satu hingga dua milimeter ke dalam dermis. Pada lapisan tersebut, mitokondria di dalam sel fibroblas menyerap energi cahaya. Proses ini kemudian memacu energi sel yang berperan dalam pembentukan elastin dan kolagen.
Dokter kulit bersertifikat sekaligus pendiri Marmur Medical, Ellen Marmur, mengatakan ia mengandalkan cahaya LED merah karena beberapa alasan. Menurut dia, cahaya tersebut dapat menenangkan kulit yang meradang sehingga mendukung perbaikan kolagen, membantu memperbaiki bekas luka dengan menyelaraskan kolagen baru, serta mendorong pertumbuhan rambut dengan meningkatkan kesehatan kulit kepala.
Meski begitu, para ahli menekankan bahwa hasilnya tidak instan dan membutuhkan kedisiplinan. Profesor Klinis Madya Dermatologi di Yale School of Medicine, Mona Gohara, menyebut penggunaan perangkat harus dilakukan secara rutin agar terlihat manfaatnya. Ia mengibaratkan perangkat ini seperti keanggotaan pusat kebugaran untuk wajah: mendaftar saja tidak cukup tanpa latihan yang konsisten.
Dokter kulit bersertifikat sekaligus pendiri bersama ERLY, Hallie McDonald, juga menilai red light therapy bukan “keajaiban semalam”, melainkan prosedur berbasis riset. Ia menyebut sebagian besar penelitian mendukung penggunaan red light therapy tiga hingga lima kali per minggu selama setidaknya delapan hingga 12 minggu sebelum mulai terlihat adanya perbaikan pada kulit.