BERITA TERKINI
Rebutan Lahan Parkir di Pasar Wadai Ramadhan Banjarmasin: Ketika Ruang Kecil Memicu Luka Besar

Rebutan Lahan Parkir di Pasar Wadai Ramadhan Banjarmasin: Ketika Ruang Kecil Memicu Luka Besar

Isu yang Membuatnya Tren

Perkelahian dua juru parkir di Pasar Wadai Ramadhan, Banjarmasin, berakhir maut. Korban HS (38) meninggal setelah luka tusuk, pelaku RF (26) ditangkap.

Berita ini cepat menjadi percakapan publik karena terjadi di ruang yang semestinya identik dengan kebersamaan Ramadhan. Pasar kuliner berubah menjadi lokasi tragedi.

Di Google Trends, topik semacam ini biasanya naik ketika menyentuh tiga hal sekaligus. Kekerasan, ruang publik yang ramai, dan rasa aman yang tiba-tiba runtuh.

-000-

Alasan pertama mengapa isu ini menjadi tren adalah kedekatannya dengan pengalaman sehari-hari. Banyak orang pernah berurusan dengan parkir, pungutan, dan batas wilayah.

Ruang parkir bukan sekadar tempat kendaraan berhenti. Ia sering menjadi arena negosiasi kuasa, penghasilan harian, dan harga diri, terutama di lokasi padat pengunjung.

-000-

Alasan kedua adalah konteks Ramadhan dan pasar wadai yang ikonik. Publik bereaksi lebih kuat saat kekerasan terjadi di momen yang diasosiasikan dengan ketenangan.

Tragedi di bulan suci memunculkan pertanyaan moral. Mengapa sebuah kesalahpahaman bisa melompat jauh menjadi penusukan yang mematikan?

-000-

Alasan ketiga adalah tema senjata tajam yang dibawa di ruang publik. Detail bahwa pisau diselipkan di pinggang menyalakan kecemasan tentang normalisasi kekerasan.

Ketika orang merasa membawa senjata itu wajar, publik membaca sinyal rapuhnya kontrol sosial. Keresahan itu menyebar cepat lewat percakapan digital.

-000-

Kronologi Singkat Berdasarkan Keterangan Polisi

Polsek Banjarmasin Tengah menyebut peristiwa terjadi Sabtu (21/2/2026). Kepala Unit Reserse Kriminal, Ipda Raihan Fakhri, memaparkan hasil pemeriksaan saksi.

Menurut keterangan itu, korban HS dan pelaku RF sama-sama bekerja sebagai juru parkir. Keduanya diduga terlibat rebutan lahan parkir di kawasan Pasar Wadai Ramadhan.

Diduga ada kesalahpahaman soal batas area parkir. Pelaku kemudian mendatangi korban, terjadi cekcok, lalu perkelahian.

Saat adu mulut, pelaku mengambil pisau yang diselipkan di pinggang. Pelaku menusukkan pisau ke arah punggung korban, kata Raihan.

Korban dibawa pengunjung ke rumah sakit untuk pertolongan. Korban menjalani perawatan dan sempat dioperasi selama dua hari.

Korban dinyatakan meninggal dunia setelah perawatan tersebut. Polisi menangkap pelaku, dan RF mengakui perbuatannya di hadapan penyidik.

Pelaku ditahan di Polsek Banjarmasin Tengah. Ia dijerat Pasal 458 ayat (1) atau Pasal 466 ayat (3) atau Pasal 466 ayat (2) UU No 1 Tahun 2023.

Ancaman pidananya disebut di atas 10 tahun penjara. Di titik ini, proses hukum berjalan, sementara publik menanggung pertanyaan yang lebih luas.

-000-

Parkir sebagai Ekonomi Harian yang Rentan

Rebutan lahan parkir sering terlihat sepele bagi pengunjung. Namun bagi pekerja informal, beberapa meter ruang bisa berarti makan hari itu atau tidak.

Di banyak kota, pekerjaan juru parkir berada di simpang antara kebutuhan dan ketidakpastian. Penghasilan bergantung pada keramaian, cuaca, dan toleransi sosial.

Pasar kuliner Ramadhan memperbesar tekanan itu. Arus kendaraan melonjak, lahan terbatas, dan waktu berjualan singkat, sehingga kompetisi terasa lebih tajam.

Ketika batas area parkir tidak jelas, konflik menjadi mudah muncul. Apalagi jika tidak ada mekanisme mediasi cepat yang dihormati semua pihak.

Di sini, kesalahpahaman disebut sebagai pemicu. Namun kesalahpahaman jarang berdiri sendiri.

Ia biasanya menumpang pada lapisan lain, seperti rasa tersinggung, ketakutan kehilangan penghasilan, dan kebiasaan menyelesaikan masalah dengan adu fisik.

-000-

Riset yang Relevan: Keramaian, Stres, dan Eskalasi

Dalam kajian psikologi sosial, keramaian dapat meningkatkan stres dan memperpendek jarak toleransi. Lingkungan padat membuat orang lebih cepat bereaksi defensif.

Riset tentang agresi juga kerap menyoroti peran “pemicu situasional”. Suhu, kebisingan, dan tekanan ekonomi dapat mempercepat eskalasi konflik kecil.

Di ruang publik yang sempit, konflik sering berubah menjadi pertarungan status. Bukan lagi soal uang semata, melainkan soal siapa yang berhak menguasai ruang.

Di kasus ini, polisi menyebut ada pisau yang dibawa pelaku. Keberadaan senjata membuat eskalasi jauh lebih berbahaya.

Dalam literatur kriminologi, akses senjata meningkatkan fatalitas. Konfrontasi yang mungkin berakhir dorong-dorongan bisa berubah menjadi kematian dalam hitungan detik.

Riset-riset semacam itu tidak menjelaskan kasus ini secara tunggal. Namun ia membantu publik membaca pola, bahwa tragedi sering lahir dari kombinasi tekanan.

-000-

Isu Besar Indonesia: Informalitas, Tata Kelola, dan Rasa Aman

Tragedi di Pasar Wadai Ramadhan mengarah pada isu besar Indonesia. Pertama, besarnya sektor kerja informal yang menopang ekonomi harian.

Ketika penghidupan bergantung pada ruang yang tidak tertata, konflik menjadi risiko pekerjaan. Negara hadir terutama setelah tragedi, bukan sebelum.

Isu kedua adalah tata kelola ruang publik. Pasar musiman yang ramai memerlukan pengaturan parkir, batas kerja, dan pengawasan yang jelas.

Jika pengaturan diserahkan pada negosiasi informal, yang kuat cenderung menang. Yang lemah menanggung ketidakpastian, dan gesekan menjadi rutinitas.

Isu ketiga adalah rasa aman warga di ruang publik. Pengunjung pasar kuliner ingin menikmati makanan, bukan menyaksikan pertumpahan darah.

Ketika kekerasan terjadi di tempat ramai, dampaknya melampaui korban dan pelaku. Ia menggerus kepercayaan sosial, dan memicu ketakutan kolektif.

-000-

Pelajaran dari Kasus Serupa di Luar Negeri

Di sejumlah negara, konflik di ruang publik kerap muncul dari perebutan “territory” ekonomi kecil. Misalnya, perselisihan antar pedagang kaki lima atau pengelola parkir.

Di beberapa kota besar dunia, otoritas kota membangun sistem perizinan, zonasi, dan mediasi komunitas untuk mengurangi benturan antar pekerja informal.

Di sisi lain, ada contoh ketika pengawasan lemah dan kelompok informal menguasai ruang parkir. Konflik antar individu bisa berubah menjadi kekerasan berulang.

Rujukan global ini tidak untuk menyamakan konteks. Namun ia menunjukkan pola umum, bahwa ruang ekonomi mikro butuh aturan yang dipahami dan ditegakkan.

Kasus Banjarmasin mengingatkan bahwa tanpa tata kelola, persaingan kecil dapat menjadi tragedi besar. Dan tragedi besar selalu meninggalkan luka sosial.

-000-

Mengapa Perkelahian Bisa Melompat Menjadi Pembunuhan

Publik kerap bertanya, mengapa orang bisa menusuk hanya karena parkir. Pertanyaan itu wajar, namun jawabannya jarang sederhana.

Ada faktor kedekatan fisik, emosi yang naik cepat, dan adanya senjata. Ada pula faktor budaya penyelesaian konflik yang kadang mengagungkan keberanian fisik.

Di banyak tempat, konflik kecil tidak punya jalur penyelesaian yang cepat dan adil. Saat itu, orang memilih jalur yang mereka anggap paling efektif.

Efektif tidak selalu berarti benar. Dalam situasi genting, “menang sekarang” terasa lebih penting daripada “selamat bersama”.

Ketika pisau sudah terhunus, ruang untuk mundur mengecil. Keputusan sepersekian detik dapat mengubah hidup dua keluarga untuk selamanya.

-000-

Kontemplasi: Ramadhan, Keramaian, dan Sunyi Setelahnya

Pasar wadai adalah simbol pertemuan. Orang datang membawa daftar belanja, nostalgia rasa, dan harapan berbuka yang hangat.

Namun di balik lampu-lampu lapak, ada pekerja yang menjaga aliran kendaraan. Mereka berdiri di tepi keramaian, menanggung panas, hujan, dan risiko.

Kematian HS membuat kita berhenti sejenak. Ada keluarga yang menunggu kepulangan, lalu menerima kabar paling pahit.

Di sisi lain, RF kini menghadapi proses hukum dengan ancaman pidana berat. Satu tindakan mengunci masa depan, dan menambah daftar duka.

Ramadhan sering mengajarkan pengendalian diri. Tragedi ini seperti cermin retak, memantulkan betapa sulitnya menahan amarah saat hidup terasa sempit.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, proses hukum perlu berjalan transparan dan akuntabel. Publik berhak tahu penanganan perkara dilakukan profesional, tanpa spekulasi yang memperkeruh suasana.

Kedua, pengelola kawasan dan pemerintah setempat perlu mengevaluasi tata kelola parkir di lokasi keramaian musiman. Batas area harus jelas dan disosialisasikan.

Ketiga, perlu mekanisme mediasi cepat di lapangan. Petugas koordinator atau pos pengaduan bisa mencegah cekcok berkembang menjadi perkelahian.

Keempat, pengawasan terhadap senjata tajam di ruang publik perlu diperkuat sesuai ketentuan yang berlaku. Pencegahan lebih murah daripada pemakaman.

Kelima, pendekatan kesejahteraan untuk pekerja informal perlu diperluas. Semakin stabil penghasilan, semakin kecil insentif untuk mempertaruhkan nyawa demi ruang sempit.

Keenam, edukasi resolusi konflik berbasis komunitas penting dilakukan. Bukan seminar seremonial, melainkan pelatihan praktis yang dekat dengan realitas lapangan.

-000-

Penutup

Tragedi di Pasar Wadai Ramadhan bukan sekadar berita kriminal. Ia adalah peringatan tentang rapuhnya ruang publik ketika ekonomi harian bertemu amarah dan senjata.

Di tengah keramaian, kita sering lupa bahwa setiap orang membawa beban. Namun beban tidak boleh menjadi alasan untuk melukai, apalagi menghilangkan nyawa.

Jika ada pelajaran yang bisa dipetik, ia terletak pada keberanian menata hal-hal kecil. Karena sering kali, yang kecil itulah yang menentukan hidup dan mati.

Seperti kutipan yang kerap diulang dalam berbagai tradisi kebijaksanaan: “Kita tidak bisa mengendalikan angin, tetapi kita bisa mengatur layar.”