BERITA TERKINI
Program Telur Harian di Lampung Selatan Sasar Siswa Malnutrisi, Dorong Kebiasaan Gizi Seimbang

Program Telur Harian di Lampung Selatan Sasar Siswa Malnutrisi, Dorong Kebiasaan Gizi Seimbang

Bandar Lampung—Pagi itu, Jumat (31/7/2026), halaman SD Negeri 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, mulai ramai oleh aktivitas senam bersama. Di antara ratusan siswa berseragam olahraga hijau-kuning, Ilham Rahmad Wibowo (9) tampak bersemangat mengikuti gerakan guru. Siswa kelas III itu terlihat lebih mungil dibanding teman sebayanya, namun tetap tersenyum sepanjang kegiatan.

Usai senam, para siswa berbaris mencuci tangan di depan kelas masing-masing. Setelah itu, kotak Makan Bergizi Gratis (MBG) dibagikan. Menu pagi tersebut berisi nasi putih, sayur capcay, sepotong daging rendang, dan empat buah kelengkeng. Namun ada tambahan khusus: sebutir telur rebus yang disiapkan bagi anak-anak yang mengalami malnutrisi.

Di SD Negeri 1 Budidaya, dari total 186 siswa, tercatat sedikitnya delapan anak mengalami malnutrisi. Ilham termasuk di dalamnya. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Ribit Erlan Wahyudi (38) dan Widi Astuti (36).

Ilham juga menjadi salah satu dari 159 anak di 15 sekolah di Lampung Selatan yang menjadi sasaran Program Makan Telur Setiap Hari yang diinisiasi PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk melalui JAPFA for Kids. Saat jam istirahat, Ilham mengupas telur rebusnya perlahan lalu menyantapnya bersama menu makan siang. “Alhamdulilkah enak makanannya, apalagi ditambah ada telur nya,” kata Ilham.

Ilham mengaku menyukai telur, terutama telur ceplok. Namun sebelumnya ia tidak bisa menikmatinya setiap hari. Sejak program hadir pada pertengahan Juli 2026, ia dapat mengonsumsi telur setiap hari sebagai tambahan dari menu MBG, sehingga memperoleh asupan dua jenis protein.

Di sela aktivitas sekolah, Ilham juga menyampaikan cita-citanya. “Cita-cita saya mau jadi TNI,” ujarnya.

Tahun ini, JAPFA for Kids dilaksanakan di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Megamendung (Kabupaten Bogor), Gondangrejo (Kabupaten Karanganyar), Margasari (Kabupaten Tegal), Paciran (Kabupaten Lamongan), Sidomulyo (Kabupaten Lampung Selatan), Batang Anai (Kabupaten Padang Pariaman), Teluk Bintan (Kabupaten Bintan), dan Oba Utara (Kota Tidore Kepulauan).

Program tersebut menyasar anak sekolah dasar yang mengalami malnutrisi melalui pendampingan yang melibatkan guru, fasilitator, tenaga kesehatan, orang tua, dan sekolah. Guru mencatat perkembangan siswa, fasilitator mendampingi orang tua dan mengedukasi siswa, tenaga kesehatan memantau perkembangan anak, dan orang tua diajak memahami pentingnya protein hewani untuk tumbuh kembang anak.

Di Lampung, JAPFA for Kids pertama kali hadir pada 2008 dengan menjangkau enam sekolah dan 1.632 siswa di Lampung Tengah dan Lampung Timur. Program kemudian diperluas ke Lampung Selatan (2010), Tanggamus dan Pringsewu (2012), Pesawaran (2013), Lampung Timur (2015), Lampung Tengah (2016), dan Lampung Selatan (2019). Tahun ini program kembali hadir di Lampung Selatan dengan menjangkau 15 sekolah, 2.051 siswa, dan 165 guru melalui edukasi gizi, pembiasaan hidup sehat, serta pendampingan bagi sekolah, guru, dan orang tua.

Widi Astuti menceritakan, sebelumnya ia mengira tubuh Ilham yang lebih pendek dan kurus disebabkan faktor keturunan. Ia juga tidak rutin menimbang berat badan anak. Selain itu, ayah Ilham diketahui merokok di rumah, yang disebut turut memengaruhi kondisi kesehatan dan tumbuh kembang anak.

“Masa sih iya anak saya kurang gizi? Selama ini makannya normal. Badannya kecil mungkin karena bawaan, soalnya ayah sama ibunya badannya juga kecil,” kata Widi. Setelah mendapat penjelasan dari pihak sekolah dan bidan desa, ia mulai memahami bahwa status gizi tidak hanya diukur dari seberapa sering anak makan, tetapi juga kualitas asupan hariannya.

Widi mengakui Ilham jarang makan sayur, namun menyukai lauk tertentu, terutama telur. Ia juga menyebut kondisi ekonomi keluarga membuat konsumsi telur tidak bisa rutin. Ayah Ilham bekerja sebagai buruh pengantar kelapa jika ada pesanan, sementara ia mengurus rumah tangga dan memberi makan beberapa kambing.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menyebut JAPFA for Kids menggunakan pendekatan terintegrasi, mulai dari intervensi gizi hingga edukasi sekolah dan keluarga. Menurutnya, program memberikan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan, Juli hingga Desember 2026, bagi siswa yang mengalami malagizi, disertai pemantauan berat dan tinggi badan melalui aplikasi digital. Program juga mencakup edukasi pembiasaan hidup sehat, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta pemantauan berkala.

Retno menjelaskan, telur diberikan setiap hari, namun distribusinya dilakukan seminggu sekali kepada orang tua siswa dalam jumlah tujuh butir. Telur tersebut kemudian dibawa anak sebagai bekal ke sekolah untuk dikonsumsi setiap hari.

Di tingkat nasional, tantangan pemenuhan gizi anak masih menjadi perhatian. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sementara pemantauan JAPFA pada tujuh lokasi pelaksanaan program selama 2024 menunjukkan sekitar 10,1% siswa masih mengalami gizi kurang dan gizi buruk.

Retno juga menyampaikan hasil pelaksanaan program pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2024, terdapat 762 dari 1.479 siswa yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk dan meningkat menjadi gizi baik sebesar 51,5%. Pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa meningkat menjadi gizi baik sebesar 62,5%. Secara total hingga 2026, JAPFA for Kids disebut telah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi.

Dalam pelaksanaan program, pendampingan menjadi salah satu fokus. Dua bulan sebelum program berjalan, JAPFA merekrut pendamping dari 3.200 pendaftar dan memilih 12 fasilitator. Dua di antaranya, Debora Intan (24) dan Tamara Karent (26), ditempatkan di Lampung.

Debora mengatakan selama tiga pekan mendampingi sekolah, ia melihat perubahan kecil, seperti orang tua mulai mengolah telur dengan variasi menu selain digoreng. Ia juga mencatat perubahan kebiasaan hidup bersih siswa, misalnya mulai rutin mencuci tangan dan saling mengingatkan soal kebersihan kuku.

Tamara, lulusan Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fisipol UGM, menyebut ketertarikannya bergabung karena program menyasar anak-anak malnutrisi dan sejalan dengan bidang yang dipelajarinya. Sejak bertugas di Lampung pada 11 Juli 2026, ia bersama Debora mengunjungi dua hingga tiga sekolah setiap hari untuk memantau perkembangan siswa serta berdiskusi dengan wali murid dan guru terkait kendala di lapangan. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari kenaikan berat badan, tetapi juga perubahan kebiasaan harian, seperti aktivitas fisik melalui senam, kebiasaan mencuci tangan, dan pemahaman gizi seimbang.

Bidan desa Winarti (38) menyampaikan 159 anak dari 15 sekolah di Kecamatan Sidomulyo masuk kategori gizi kurang berdasarkan grafik pertumbuhan dan hasil pengukuran tenaga kesehatan. Ia mengapresiasi program pemberian telur harian karena telur dinilai mudah didapat, mudah diolah, dan kandungan gizinya cukup lengkap. Sebagai evaluasi, pihaknya akan melakukan pengukuran dan penimbangan setiap satu bulan sekali untuk melihat perubahan sebelum dan sesudah program berjalan.

Winarti menilai tantangan terbesar mengatasi gizi kurang tidak hanya soal ketersediaan makanan, tetapi juga pola asuh orang tua. Menurutnya, kesibukan orang tua sering membuat perhatian pada kualitas makanan kurang optimal. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran keluarga.

Camat Sidomulyo, Fran Sinatra Adung, juga mengapresiasi keterlibatan JAPFA. Ia menyebut peran swasta dapat melengkapi program pemerintah dalam menangani persoalan gizi anak di wilayahnya. Fran berharap 159 anak yang menjadi sasaran program dapat mengalami perbaikan status gizi dalam enam bulan ke depan.

Sementara itu, Spesialis Gizi Klinik dr Muningtya Philiyanisa Alam, M.Gizi, SpGK, menyatakan persoalan malnutrisi, gizi buruk, dan stunting merupakan masalah kompleks yang berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi, latar belakang pendidikan orang tua, status gizi ibu sebelum dan selama hamil, nutrisi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, hingga ketersediaan air bersih.

Terkait efektivitas pemberian satu butir telur per hari, Muningtya menekankan hasilnya bergantung pada kecukupan asupan nutrisi harian anak secara keseluruhan. Ia menilai pemberian telur dapat menjadi intervensi tambahan, namun bukan satu-satunya solusi. Untuk hasil optimal, program perlu dibarengi pola makan gizi seimbang yang mencukupi kebutuhan energi.

Muningtya menyebut telur memiliki keunggulan karena relatif terjangkau, mudah diolah, umumnya disukai anak, dan mengandung berbagai zat gizi. Namun, ia mengingatkan keberhasilan program tidak cukup hanya dilihat dari konsumsi telur atau kenaikan berat badan, melainkan perlu dinilai melalui pengukuran antropometri secara berkala. Dalam program yang berlangsung selama enam bulan ini, penilaian akhir dampak intervensi baru dapat dilihat setelah seluruh rangkaian program selesai.