BERITA TERKINI
Preferensi Pasangan Sah, Menghakimi Perempuan Bukan

Preferensi Pasangan Sah, Menghakimi Perempuan Bukan

Perbincangan tentang isu perempuan di media sosial kerap memantik pro dan kontra, terutama ketika menyentuh patriarki dan misogini. Dalam situasi seperti itu, perbedaan pendapat bukan hal baru, tetapi cara menyampaikan pendapat sering kali menjadi sumber persoalan.

Dalam sebuah unggahan, penulis menanggapi pernyataan seorang laki-laki yang mengaku memutuskan pacarnya karena sang pacar tidak bisa memasak. Namun, perhatian penulis justru tertuju pada komentar seorang perempuan yang menyetujui keputusan tersebut dan menyimpulkan bahwa perempuan yang tidak bisa memasak adalah pemalas. Ia menyatakan memasak sebagai keterampilan dasar yang wajib dikuasai semua perempuan, serta menyebut memasakkan suami dan dipuji sebagai kebanggaan.

Penulis menilai komentar itu sebagai contoh internalisasi patriarki. Masalahnya bukan pada preferensi seseorang yang menyukai kegiatan memasak atau merasa bangga ketika masakannya dihargai pasangan, melainkan ketika standar pribadi dipakai untuk menghakimi perempuan lain. Bagi penulis, pernyataan “saya suka masak” berbeda dari tudingan bahwa “yang tidak bisa masak itu pemalas.”

Penulis juga menekankan bahwa memasak adalah keterampilan, bukan naluri. Tidak semua orang bisa atau menyukai kegiatan tersebut, dan kemampuan memasak tidak seharusnya dijadikan ukuran moral. Selain itu, selera makan setiap orang berbeda, sehingga kemampuan memasak pun tidak otomatis menjamin kecocokan dalam relasi.

Di tengah diskusi itu, muncul komentar laki-laki lain yang menyatakan bahwa jika perempuan berhak punya kriteria pasangan, laki-laki juga berhak punya kriteria perempuan tanpa dilabeli misoginis. Penulis menilai pernyataan tersebut melenceng dari konteks, karena yang sedang dibahas adalah tindakan menghakimi perempuan lain, bukan larangan memiliki preferensi.

Menurut penulis, pola serupa kerap berulang di ruang digital: ketika perempuan menyuarakan ekspektasi, standar, atau preferensi, sebagian laki-laki merasa diserang dan merespons dengan sindiran atau istilah yang merendahkan. Penulis mencontohkan kemunculan istilah “hoeflation” saat ia membahas biaya perawatan perempuan yang lebih mahal, yang ia duga merupakan permainan kata bernada merendahkan.

Penulis menegaskan bahwa memiliki selera dan kriteria pasangan adalah hal wajar. Namun, ketika preferensi berubah menjadi serangan terhadap perempuan yang tidak sesuai standar—misalnya dengan label seperti “ani-ani vibe”, “enggak layak dikawinin”, “sok high value”, atau “sok independen padahal maunya dinafkahin”—penulis menilai itu bukan lagi soal preferensi, melainkan bentuk misogini.

Dalam pandangannya, bila seseorang bertemu calon pasangan yang tidak sesuai kriteria, respons paling sederhana adalah menolak tanpa memaksa orang lain berubah atau melontarkan hinaan. Penulis juga mengingatkan pentingnya berkaca pada diri sendiri sebelum menuntut orang lain memenuhi standar tertentu.

Adapun terkait komentar laki-laki di unggahan tersebut, penulis memilih untuk tidak menanggapinya. Ia menyebut tidak menulis untuk menyenangkan laki-laki atau berdebat dengan akun anonim, dan memilih mengarahkan energinya pada hal yang dianggap lebih berdampak.

Di akhir, penulis menyampaikan pesan kepada perempuan yang ragu atau goyah karena komentar orang di media sosial: tidak perlu menurunkan standar hanya karena ada pihak yang menganggap standar itu tidak masuk akal. Ia mengajak perempuan menyimpan energi untuk menjalani hidup yang dipilih dan dinikmati, dengan atau tanpa validasi dari kolom komentar.