PANDEGLANG — Peresmian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuan di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Rabu (28/5/2025), diwarnai aksi unjuk rasa massa yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Peduli Banten (G2B). Mereka memprotes dugaan praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dalam proses rekrutmen pegawai non-ASN di RSUD tersebut.
Koordinator aksi, M. Basyir, menyampaikan keberatan terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai tidak transparan. Ia merujuk pada Keputusan Gubernur Banten Nomor 133 Tahun 2025 tentang perubahan rencana kebutuhan pengangkatan pegawai non-ASN pada BLUD RSUD Labuan untuk periode 2025–2029. Selain itu, G2B juga menyoroti Keputusan Gubernur Nomor 134 Tahun 2025 dan Nomor 89 Tahun 2025 yang berkaitan dengan pengangkatan pegawai non-ASN serta penerapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di RSUD Labuan dan RSUD Cilograng.
Dalam orasinya, Basyir menilai proses seleksi pegawai sarat kejanggalan, terutama terkait jadwal tahapan seleksi. Menurut dia, pelaksanaan Computer Assisted Test (CAT) semestinya selesai pada 20 April 2025, namun disebut masih berlangsung hingga 25 April. Ia juga menyebut pengumuman hasil seleksi diundur ke 29 April tanpa disertai surat keputusan resmi.
“Proses rekrutmen pegawai ini penuh kejanggalan. Tahapan seleksi tidak sesuai jadwal. Misalnya, pelaksanaan Computer Assisted Test (CAT) seharusnya selesai 20 April 2025, tetapi faktanya masih berlangsung hingga 25 April. Pengumuman hasil pun diundur ke 29 April tanpa ada surat keputusan resmi,” ujar Basyir.
Ia menduga penundaan dan pelanggaran prosedur tersebut menjadi indikasi adanya praktik KKN oleh panitia seleksi.
Di tengah aksi protes, Gubernur Banten Andra Soni tetap meresmikan RSUD Labuan. Dalam sambutannya, Andra menyampaikan apresiasi kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Banten periode 2017–2022, Wahidin Halim dan Andika Hazrumy, yang disebut menginisiasi pembangunan rumah sakit tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wahidin Halim dan Bapak Andika Hazrumy yang telah memulai pembangunan RSUD ini. Juga kepada para tokoh dan kepala daerah terdahulu yang berjasa,” kata Andra.
Andra berharap RSUD Labuan dapat menjadi pusat layanan kesehatan bagi masyarakat Labuan dan wilayah sekitarnya. Ia juga menilai keberadaan rumah sakit tersebut tidak hanya berdampak pada layanan medis, tetapi turut memengaruhi ekonomi lokal dan pembangunan wilayah.
“Rumah sakit ini tidak hanya penting dalam aspek layanan medis, tetapi juga berdampak pada ekonomi lokal dan pembangunan wilayah,” ungkapnya.

