BERITA TERKINI
Pengusaha UMKM Bantul Bagikan Tips Merintis Usaha dari Nol: Mulai dari Passion dan Perluas Relasi

Pengusaha UMKM Bantul Bagikan Tips Merintis Usaha dari Nol: Mulai dari Passion dan Perluas Relasi

Rifqi, pelaku UMKM asal Bantul, membagikan pengalamannya merintis usaha dari nol. Ia menekankan pentingnya memulai bisnis dari passion serta membangun relasi melalui komunitas agar usaha bisa bertahan dan berkembang.

Menurut Rifqi, jiwa wirausaha sudah tumbuh sejak kecil. Ia kerap mengikuti ibunya berjualan di sekolah sambil menjalani aktivitas sebagai guru. Pengalaman itu kemudian ia lanjutkan saat mondok di pesantren dengan mencoba usaha kecil-kecilan.

Saat menempuh pendidikan SMP hingga SMA, Rifqi melihat peluang dari kebiasaan teman-temannya yang membawa Walkman. Ia memanfaatkan kebutuhan tersebut dengan berjualan baterai Walkman. “Mungkin teman-teman saya nggak kepikiran waktu itu jualan seperti itu. Tapi toh jualan batu baterai saya laris. Itu saya lakukan saat SMP dan SMA,” kata Rifqi.

Setelah menikah, Rifqi mulai membangun usaha konveksi bersama suaminya. Mereka sempat berfokus pada produk batik, terutama untuk kebutuhan seragam sekolah dari tingkat TK hingga SMA, serta seragam kantoran.

Pada 2020, Rifqi merambah sektor penyuplai kopi. Ia melihat permintaan biji kopi, terutama yang sudah diolah, meningkat pesat seiring tumbuhnya kedai kopi di Yogyakarta. Setahun kemudian, pada 2021, ia dan suaminya kembali mengembangkan produk keripik ikan. Dua tahun berikutnya, mereka menambah produk baru berupa keripik keju mozzarella.

Rifqi menjelaskan, diversifikasi produk membuat mereka bisa menjangkau pasar yang berbeda. Saat mengikuti pameran kuliner, mereka dapat membawa tiga produk sekaligus: kopi, keripik ikan, dan keripik keju. “Masing-masing produk punya pasar. Kalau keripik ikan lebih ke orang tua, kalau keripik keju lebih ke anak muda usia 25-35 tahun, dan kalau kopi lebih ke kalangan pria,” ujarnya.

Dalam membangun bisnis, Rifqi juga menyoroti pentingnya bergabung dengan komunitas. Menurutnya, komunitas membuka kesempatan untuk memperluas relasi, bukan hanya dengan sesama pelaku usaha, tetapi juga dengan berbagai instansi seperti perbankan, pemerintah, hingga perusahaan teknologi.

Dari jejaring tersebut, pelaku usaha bisa memperoleh pelatihan bisnis dan, dalam beberapa kesempatan, bantuan modal baik berupa pengadaan barang maupun uang. Rifqi menilai relasi perlu terus diperluas agar pelaku usaha tidak berhenti berkembang. “Pada intinya kalau orang mau terjun ke dunia bisnis itu kita jangan pernah merasa puas dengan relasi yang ada. Jadi kita harus ikut banyak komunitas,” kata Rifqi.

Ia menambahkan, komunitas juga menjadi ruang berproses dan saling mendukung. Rifqi mencontohkan perubahan pada aspek kemasan produknya yang berkembang dari plastik transparan hingga menjadi seperti sekarang. Selain itu, lingkungan yang positif dinilai dapat menjaga semangat berbisnis.

Adapun bagi mereka yang ingin memulai usaha, Rifqi menekankan pentingnya mengenali passion sejak awal. Menurutnya, bisnis yang hanya mengikuti tren berisiko sulit bertahan dalam jangka panjang. “Jadi sebelum memulai usaha, orang itu harus tahu dulu passion yang dimiliki yang nantinya akan menjadi bidangnya dalam berbisnis,” ujarnya.

Rifqi menyarankan cara sederhana untuk menemukan passion, yakni dengan melihat kebiasaan sehari-hari. Hobi bercocok tanam, misalnya, bisa dikembangkan menjadi usaha tanaman. Ketertarikan pada ternak dapat diarahkan pada usaha yang berkaitan dengan perawatan hewan. Sementara kegemaran memasak bisa menjadi pintu masuk ke bisnis kuliner. “Jadi bisa mulai dari hobi,” pungkasnya.