Seorang perantau asal Semarang membagikan pengalamannya saat mencoba sejumlah kuliner khas Jakarta. Ia mengaku lidahnya yang terbiasa dengan cita rasa Semarang dan Yogyakarta—mulai dari gurih kuat hingga manis legit—tidak selalu sejalan dengan beberapa makanan ikonik ibu kota yang ia cicipi.
Meski menyukai kegiatan jalan-jalan dan antusias mengeksplorasi kuliner lokal, pengalaman berburu makanan khas Jakarta justru membuatnya merasa “kaget” dan akhirnya merindukan masakan yang lebih akrab dengan seleranya. Ia menegaskan, ketidakcocokan ini bukan berarti kuliner Jakarta buruk, melainkan persoalan preferensi pribadi.
Soto Betawi menjadi salah satu makanan yang paling sulit ia nikmati. Jika selama ini ia terbiasa dengan soto berkuah bening, soto Betawi menurutnya memiliki karakter yang berbeda karena kuahnya kental dan menggunakan susu. Ia menyebut tidak bisa mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung susu hewani, sehingga aroma susu yang dominan membuatnya mual. Ia juga mengakui tidak mencari tahu terlebih dahulu komposisi soto tersebut sebelum memesan.
Pengalaman serupa terjadi saat ia mencoba kerak telor. Jajanan legendaris Betawi itu dinilainya bermasalah pada tekstur. Menurutnya, perpaduan beras ketan yang setengah matang, telur bebek, dan serundeng kelapa yang sangat kering menimbulkan sensasi kasar di mulut. Ia sempat berekspektasi kerak telor akan lembut seperti telur dadar, tetapi justru merasakan tekstur yang menurutnya “seret” dan membuatnya menyerah setelah beberapa suapan.
Pada semur jengkol, persoalan utama baginya adalah aroma. Sebagai penyuka petai, ia awalnya cukup percaya diri mencoba jengkol. Namun, ia menilai aroma semur jengkol yang disajikan terlalu menyengat, bahkan ia menggambarkannya mirip belerang. Setelah dicicipi, ia merasakan sensasi rasa seperti tanah yang mendominasi. Ia berpendapat, mungkin rasa jengkol akan lebih bisa diterima jika diolah dengan bumbu yang dapat menyamarkan aromanya.
Terakhir, ia menyoroti kue rangi yang awalnya menarik perhatian karena proses memasaknya yang tradisional dan memunculkan kesan nostalgia. Ia sempat mengira kue tersebut akan mirip kue putu yang lembut. Namun, setelah dicoba, ia mendapati teksturnya keras dan alot. Ia juga menyebut saat ini sedang memakai kawat gigi, sehingga memakan kue rangi terasa menyulitkan. Pengalaman itu bahkan berujung pada lepasnya salah satu bracket behel saat ia memaksakan diri mengunyahnya.
Di akhir ceritanya, ia menekankan bahwa pengalaman ini tidak dimaksudkan untuk menilai buruk kuliner Jakarta. Menurutnya, Jakarta memiliki ragam makanan yang melegenda hingga yang viral, tetapi kecocokan rasa tetap bersifat personal. Ia menyimpulkan, ada kalanya seseorang cukup mengenal tanpa perlu memaksakan diri untuk menyukai—termasuk dalam urusan makanan.

