BERITA TERKINI
Pemkab Pasaman Barat Perkuat Intervensi Gizi 1.000 HPK untuk Tekan Stunting

Pemkab Pasaman Barat Perkuat Intervensi Gizi 1.000 HPK untuk Tekan Stunting

Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, terus memperkuat percepatan pencegahan dan penurunan stunting melalui kolaborasi dengan Tanoto Foundation. Upaya ini berfokus pada intervensi pemenuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Bupati Pasaman Barat Yulianto mengatakan kolaborasi tersebut telah berjalan sejak 2021. Pada fase kehamilan, ia menekankan pentingnya asupan gizi seimbang bagi ibu hamil, suplementasi zat besi sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta pemeriksaan kehamilan secara rutin untuk mendukung kesehatan ibu dan menekan risiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Setelah bayi lahir, Yulianto menyebut pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama menjadi langkah penting yang dilanjutkan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) bergizi seimbang dan kaya protein hewani. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mendukung pertumbuhan optimal dan mencegah stunting sejak dini.

Ia menegaskan penanganan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan komitmen berkelanjutan dari pemerintah daerah, mitra pembangunan, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi balita stunting di Pasaman Barat tercatat 26,6 persen pada 2024. Sementara itu, berdasarkan data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) tahun 2026, prevalensi stunting tercatat 10,5 persen.

“Ini menjadi tugas besar kita bersama untuk memastikan seluruh anak di Pasaman Barat mendapatkan asupan gizi yang baik, pelayanan kesehatan yang berkualitas, serta pola pengasuhan yang tepat. Upaya ini harus terus diperkuat agar penanganan stunting dapat berjalan optimal,” kata Yulianto. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Tanoto Foundation atas komitmen dan kerja sama yang telah berjalan sejak 2021.

Sementara itu, Kepala Bappelitbangda Pasaman Barat Joni Hendri menjelaskan strategi percepatan penurunan stunting dilakukan melalui penguatan aksi konvergensi lintas sektor dan Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku (Social and Behaviour Change Communication/SBCC).

Melalui aksi konvergensi, berbagai program organisasi perangkat daerah (OPD) diintegrasikan agar intervensi pencegahan dan penanganan stunting dapat menjangkau keluarga sasaran secara tepat. Intervensi tersebut mencakup pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi, penyediaan air minum yang aman, sanitasi layak, serta edukasi pengasuhan anak.

Adapun pendekatan SBCC diarahkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui komunikasi yang partisipatif dan sesuai dengan konteks sosial budaya setempat. Joni Hendri mengatakan pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan mendorong keluarga menerapkan pola hidup bersih dan sehat, memenuhi kebutuhan gizi anak, serta memanfaatkan layanan kesehatan secara rutin.