BERITA TERKINI
Pemkab Pasaman Barat dan Tanoto Foundation Perkuat Kolaborasi Percepatan Penurunan Stunting

Pemkab Pasaman Barat dan Tanoto Foundation Perkuat Kolaborasi Percepatan Penurunan Stunting

Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat memperkuat upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting melalui kolaborasi dengan Tanoto Foundation. Sinergi yang telah berjalan sejak 2021 itu disebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi Pasaman Barat yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

Fokus utama intervensi pencegahan stunting diarahkan pada pemenuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini dikenal sebagai window of opportunity karena berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pada masa kehamilan, ibu hamil didorong memenuhi asupan gizi seimbang, mengonsumsi suplementasi zat besi sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kesehatan ibu sekaligus mencegah risiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama menjadi perhatian, kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi seimbang dan kaya protein hewani. Upaya ini ditujukan untuk mendukung pertumbuhan optimal dan mencegah stunting sejak dini.

Bupati Pasaman Barat Yulianto menegaskan penanganan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan komitmen berkelanjutan dari pemerintah daerah, mitra pembangunan, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting pada balita di Kabupaten Pasaman Barat tercatat 26,6 persen pada 2024. Sementara itu, berdasarkan data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) tahun 2026, prevalensi stunting tercatat 10,5 persen.

“Ini menjadi tugas besar kita bersama untuk memastikan seluruh anak di Pasaman Barat mendapatkan asupan gizi yang baik, pelayanan kesehatan yang berkualitas, serta pola pengasuhan yang tepat. Upaya ini harus terus diperkuat agar penanganan stunting dapat berjalan optimal,” ujar Yulianto, Selasa (3/11/2026).

Yulianto juga menyampaikan apresiasi kepada Tanoto Foundation atas komitmen dan kerja sama dalam mendukung percepatan pencegahan dan penurunan stunting di Kabupaten Pasaman Barat sejak 2021.

Kepala Bappelitbangda Kabupaten Pasaman Barat Joni Hendri menjelaskan strategi percepatan penurunan stunting dilakukan melalui penguatan aksi konvergensi lintas sektor dan Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku (Social and Behaviour Change Communication/SBCC).

Melalui aksi konvergensi, program organisasi perangkat daerah (OPD) diintegrasikan agar intervensi pencegahan dan penanganan stunting menjangkau keluarga sasaran secara tepat. Intervensi itu mencakup pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi, penyediaan air minum aman, sanitasi layak, serta edukasi pengasuhan anak.

Sementara pendekatan SBCC diarahkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui komunikasi partisipatif yang disesuaikan dengan konteks sosial budaya setempat. Pendekatan ini diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat, mendorong penerapan pola hidup bersih dan sehat, pemenuhan gizi anak, serta pemanfaatan layanan kesehatan secara rutin.

Dalam pelaksanaannya, komunikasi perubahan perilaku difokuskan pada enam pesan kunci pencegahan stunting, yakni pemenuhan gizi ibu hamil; inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI eksklusif; pemberian MPASI bergizi dan kaya protein hewani bagi anak usia 6–24 bulan; pemantauan pertumbuhan anak secara rutin di posyandu; penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk cuci tangan pakai sabun; serta pemanfaatan air bersih dan sanitasi layak.

Regional Lead Tanoto Foundation Medi Yusia menyatakan kolaborasi dengan Pemkab Pasaman Barat merupakan langkah strategis untuk memastikan intervensi pencegahan dan penurunan stunting berjalan berkelanjutan, terintegrasi, dan tepat sasaran.

Menurut Medi, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, organisasi filantropi, akademisi, media, hingga masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas petugas di garis depan seperti kader posyandu, bidan desa, dan tenaga penyuluh kesehatan karena berinteraksi langsung dengan keluarga sasaran.

“Keberhasilan penanganan stunting di Kabupaten Pasaman Barat diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat merupakan kunci untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujarnya.

Melalui kolaborasi berkelanjutan antara Pemkab Pasaman Barat dan Tanoto Foundation, percepatan penurunan stunting diharapkan semakin efektif dan memberi dampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, sejalan dengan upaya menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.