Pelaku usaha kuliner berbasis daging babi mulai menghadapi kesulitan mendapatkan bahan baku pork belly impor. Terbatasnya stok di tingkat pemasok, ditambah kenaikan harga daging babi lokal yang dinilai belum konsisten dari sisi kualitas, membuat operasional restoran tertekan oleh biaya dan berisiko memengaruhi kepuasan pelanggan.
Mr Yoon, pelaku usaha kuliner K-Food, mengatakan pasokan pork belly impor kini semakin sulit diperoleh. Kondisi itu membuat operasional restoran yang bergantung pada kualitas potongan daging tertentu menjadi tidak menentu.
“Sekarang agak bermasalah. Daging babi impor sekarang susah dicari. Sementara daging babi di Indonesia juga sudah agak mahal,” kata Mr Yoon di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Menurut dia, persoalan bukan hanya pada ketersediaan, tetapi juga kualitas daging babi lokal yang dinilai belum memenuhi standar kebutuhan restorannya. Perbedaan tekstur dan mutu daging disebut membuat proses pengolahan lebih sulit dikendalikan.
Mr Yoon mengungkapkan, restorannya memiliki tiga pemasok daging babi. Namun saat ini hanya satu pemasok yang masih memiliki stok, itu pun mulai menghadapi kendala pasokan.
“Sekarang tersendat semua. Katanya susah mendapatkan stok karena impor sekarang tidak bisa. Di tingkat supplier, stok juga sudah mulai habis,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat pelaku usaha kesulitan menjaga kesinambungan pasokan. Ketika bahan baku impor semakin terbatas, restoran harus mencari alternatif dari produk lokal, meski kualitasnya dinilai memiliki variasi yang cukup lebar.
Mr Yoon menyebut, sebagian daging lokal dinilai bagus, tetapi sebagian lainnya terlalu keras atau terlalu lembut sehingga menghasilkan tekstur berbeda saat diolah.
“Kadang-kadang ada yang keras, kadang-kadang ada yang lembut. Jadi kualitasnya tidak rata dan kurang digemari konsumen kita,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan kualitas berdampak langsung pada pengalaman pelanggan. Menurutnya, sejumlah konsumen mengeluhkan aroma daging dan teksturnya yang keras, sehingga menjadi tantangan bagi restoran untuk mempertahankan cita rasa dan standar penyajian.
Di sisi lain, penggunaan daging babi lokal juga disebut belum tentu lebih ekonomis. Mr Yoon mengatakan harga daging babi lokal meningkat dan mendekati harga impor, sementara kualitas impor dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan restorannya.
“Daging impor memang mahal, tetapi kualitasnya lebih bagus. Sekarang daging lokal juga harganya sudah tinggi, hampir sama dengan impor. Dengan harga yang sama, mendapatkan daging berkualitas bagus justru susah,” ujarnya.
Kesenjangan antara harga dan kualitas itu membuat pelaku usaha berada dalam dilema. Mengandalkan bahan baku lokal berisiko menimbulkan ketidakkonsistenan rasa dan tekstur, sedangkan mempertahankan standar dengan daging impor terkendala ketersediaan.
Mr Yoon menilai kondisi ini berpotensi menambah beban modal, terutama bagi restoran yang perlu menjaga persediaan untuk kebutuhan operasional harian. Ia khawatir, jika situasi berlanjut, dampaknya akan merembet pada operasional restoran.
Atas kondisi tersebut, Mr Yoon berharap pemerintah memberikan kepastian terkait kebijakan dan mekanisme impor daging babi, khususnya pork belly, agar pelaku usaha dapat kembali memperoleh bahan baku sesuai kebutuhan.
“Saya minta impornya dibuka dulu. Nanti daging lokal dan impor juga bisa dibedakan. Sekarang harga daging lokal tinggi, tetapi kualitasnya masih jauh berbeda dengan impor,” katanya.
Ia juga menyebut memahami pemerintah memiliki kepentingan melindungi peternak lokal dan memastikan impor berjalan sesuai ketentuan. Karena itu, ia berharap kebijakan yang diterapkan dapat mempertimbangkan kebutuhan industri kuliner tanpa mengabaikan keberlangsungan usaha peternak dalam negeri.
Selain itu, Mr Yoon mengharapkan kepastian mengenai mekanisme dan jadwal perizinan impor agar pelaku usaha dan pemasok dapat menyusun perencanaan pembelian dengan lebih baik. Menurutnya, pasokan yang lebih terjamin dan mekanisme impor yang jelas akan membantu pelaku usaha menjaga kualitas makanan tanpa terus dibayangi kenaikan biaya yang berpotensi membebani konsumen.