BERITA TERKINI
Pelaku UMKM Boven Digoel Dorong Pemerintah Sediakan Pusat Pemasaran Produk Lokal

Pelaku UMKM Boven Digoel Dorong Pemerintah Sediakan Pusat Pemasaran Produk Lokal

Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal di Kabupaten Boven Digoel mendorong pemerintah daerah menyediakan tempat khusus untuk memasarkan berbagai produk budaya dan kuliner khas setempat. Mereka menilai dukungan pemerintah tidak cukup hanya melalui promosi, tetapi perlu diwujudkan dalam bentuk ruang pemasaran bersama.

Aspirasi itu disampaikan dalam Dialog RRI Fest RRI Boven Digoel, Kamis, 27 Agustus 2026. Para pelaku UMKM berharap adanya pusat pemasaran yang memudahkan masyarakat maupun pengunjung menemukan produk lokal tanpa harus mencari ke berbagai lokasi.

Pelaku UMKM busana dan aksesori budaya, Sarabeka Omba, mengatakan keberadaan tempat khusus akan mempermudah pembeli mendapatkan karya dari suku-suku yang ada di Boven Digoel. “Saya berharap ada satu tempat khusus yang diperuntukkan bagi masyarakat untuk menjual aksesori dan hasil karya dari lima suku yang ada di Boven Digoel. Jadi, masyarakat yang datang mencari oleh-oleh tidak perlu mencari ke mana-mana karena sudah ada tempat khusus,” ujarnya.

Menurut Sarabeka, pusat tersebut dapat menjadi wadah pemasaran produk budaya, termasuk busana adat dan aksesori khas masyarakat Wambon, Awyu, Korowai, Muyu, serta kelompok masyarakat lainnya. Ia menilai pengumpulan produk dalam satu lokasi juga akan memudahkan pengunjung memilih dan membeli. Selain itu, pusat produk budaya dinilai dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya Boven Digoel kepada masyarakat dari luar daerah.

Harapan serupa disampaikan Finsensia Warem. Ia menekankan perlunya dukungan yang lebih nyata dari pemerintah, terutama penyediaan tempat yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha. “Dukungan yang kami harapkan dari pemerintah bukan hanya melalui promosi, tetapi juga adanya tempat khusus untuk kami memasarkan hasil usaha. Kalau ada tempat khusus, masyarakat yang datang dari luar daerah juga bisa lebih mudah melihat dan membeli produk-produk lokal yang kami punya,” katanya.

Finsensia menambahkan, tempat khusus tersebut dapat menjadi wadah bersama bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk lokal sekaligus memudahkan masyarakat mendapatkan hasil karya khas Boven Digoel. Ia berharap pemerintah daerah dan dinas terkait dapat melihat potensi yang ada dan menyediakan satu lokasi pemasaran bersama agar produk masyarakat dapat dikumpulkan dan dipasarkan di satu tempat.

Dari sektor kuliner, pelaku UMKM Aplonia Omba menyampaikan bahwa bahan baku makanan lokal seperti sagu, ubi, dan keladi masih mudah diperoleh. Namun, ia menilai kendala utama saat ini adalah belum adanya tempat khusus untuk menjual makanan olahan lokal. “Kalau untuk bahan baku sebenarnya tidak banyak kendala, karena sagu, ubi, dan keladi masih tersedia. Yang menjadi kendala sampai sekarang adalah belum ada tempat khusus untuk menjual makanan lokal kami,” ujarnya.

Aplonia berharap pemerintah bersama dinas terkait dapat menyediakan ruang khusus untuk pemasaran produk. Menurutnya, keberadaan pusat pemasaran dapat menjadi wadah memperkenalkan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal Boven Digoel.

Secara umum, para pelaku UMKM berharap pemerintah daerah dan dinas terkait memberi perhatian terhadap potensi tersebut melalui penyediaan pusat produk lokal yang dapat menjadi ruang pemasaran bersama bagi UMKM di Boven Digoel.