BERITA TERKINI
Pekan Kuliner Can Tho 2026 Dorong Kuliner Tay Do Jadi Penggerak Pariwisata

Pekan Kuliner Can Tho 2026 Dorong Kuliner Tay Do Jadi Penggerak Pariwisata

Pekan Kuliner Kota Can Tho 2026 akan digelar pada 28 Agustus hingga 2 September di Taman Sungai Hau, Kelurahan Cai Khe. Mengusung tema “Masakan Do Barat – Intisari Kawasan Sungai,” ajang ini direncanakan menghadirkan sekitar 100 stan yang diisi pengrajin, koki, restoran, hotel, serta pelaku usaha produksi dan perdagangan makanan untuk menampilkan hidangan khas dari berbagai daerah.

Selain menawarkan ragam makanan tradisional, penyelenggara menekankan keterkaitan kuliner dengan pariwisata, produk OCOP, promosi citra destinasi, dan pengalaman budaya. Sejumlah ruang tematik seperti Tay Do Cuisine, kios pedagang kaki lima, hingga pasar pedesaan, dipadukan dengan area informasi tur, rute perjalanan, suvenir, dan makanan khas lokal. Dengan konsep itu, pekan kuliner diarahkan menjadi ekosistem pengalaman, bukan semata tempat mencicipi hidangan.

Direktur Pusat Promosi Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Kota Can Tho, Nguyen Thi Kieu Duyen, menilai kuliner sejak lama menjadi unsur yang meninggalkan kesan kuat bagi wisatawan yang datang ke Can Tho. Namun, menurutnya, agar makanan benar-benar menjadi produk pariwisata, promosi perlu bergeser dari sekadar memperkenalkan menu per menu menjadi membangun cerita, ruang, dan pengalaman yang terhubung dengan budaya setempat. Arah tersebut, kata dia, menjadi salah satu fokus Can Tho City Food Week 2026 melalui penggabungan kegiatan bisnis, demonstrasi kuliner, promosi pariwisata, dan produk lokal.

Dalam skema itu, wisatawan tidak hanya dapat menikmati makanan, tetapi juga mempelajari makanan khas lokal dan produk OCOP, memilih tur dan rencana perjalanan, serta mencari suvenir. Pendekatan ini dinilai membuka peluang kuliner terlibat lebih dalam dalam rantai nilai pariwisata: hidangan khas dapat menjadi daya tarik utama perjalanan, produk lokal dapat dikembangkan sebagai oleh-oleh, dan cerita tentang asal bahan, cara pengolahan, hingga kebiasaan makan bisa menjadi bagian dari pengalaman budaya.

Di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat, unsur lokal dipandang penting untuk diferensiasi. Can Tho disebut memiliki keunggulan berupa budaya sungai, pasar terapung, kebun buah, hasil bumi lokal, serta kekayaan kuliner. Jika unsur tersebut diorganisasi menjadi produk dengan cerita yang menarik dan standar layanan yang sesuai, hal itu dinilai berpotensi memperpanjang masa tinggal dan meningkatkan pengeluaran wisatawan.

Karena itu, penguatan merek “Tay Do Cuisine” tidak diposisikan sebagai kampanye media selama sepekan. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan merek tersebut dikenal dalam jangka panjang dan diasosiasikan dengan hidangan, produk, tempat, serta pengalaman yang mewakili Can Tho. Dalam konteks ini, penyelenggaraan acara kuliner dapat memantik perhatian media dalam waktu singkat, tetapi pembangunan merek destinasi membutuhkan keterlibatan banyak pemangku kepentingan dan keterkaitan erat antara kuliner, pariwisata, perdagangan, dan budaya.

Pekan kuliner tahun ini juga menempatkan restoran, hotel, pelaku usaha, perusahaan produksi dan perdagangan makanan, serta pengrajin dan koki sebagai aktor utama. Mereka dinilai menjadi pihak yang paling langsung menentukan kualitas produk kuliner sekaligus kemampuan mengubah nilai budaya menjadi pengalaman bagi wisatawan.

Salah satu peserta, Nguyen Ngoc Tran dari stan “Pedesaan Vietnam Barat,” menyampaikan bahwa pihaknya membawa kue-kue tradisional dari kampung halaman seperti kue beras, kue pisang, kue kulit babi, serta kue buah yang disebut lekat dengan kenangan masa kecil masyarakat Vietnam Selatan. Melalui partisipasi tersebut, ia berharap budaya tradisional dapat tersebar melalui kuliner lokal.

Nguyen Thi Kieu Duyen menambahkan, efektivitas pekan kuliner tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, melainkan juga dari kemampuannya menciptakan koneksi baru bagi pelaku usaha, mendorong konsumsi produk lokal, dan memasukkan kuliner ke dalam program pariwisata. Faktor-faktor itu, menurutnya, akan menentukan apakah sebuah merek tetap memiliki daya hidup setelah acara berakhir.

Ia juga menyoroti bahwa setelah perluasan batas administratif, Can Tho memiliki ruang lebih besar untuk membangun kisah destinasi melalui sistem produk, budaya, dan kuliner yang semakin beragam. Situasi tersebut sekaligus menuntut identifikasi yang lebih jelas atas nilai-nilai yang dapat mewakili merek kuliner kota, agar keragaman pilihan tidak berujung pada ketiadaan identitas yang khas.

Dalam jangka panjang, merek “Kuliner Tay Do” diharapkan berkembang menjadi lini produk yang menjadi bagian tetap dari kegiatan pariwisata kota, mulai dari restoran, hotel, dan objek wisata hingga program pengalaman, festival, dan produk oleh-oleh. Dengan demikian, Pekan Kuliner Kota Can Tho 2026 dipandang sebagai ujian penting dalam proses mengubah kuliner dari keunggulan budaya menjadi sumber daya pengembangan pariwisata. Ketika hidangan khas disertai kisahnya, disajikan dalam suasana yang tepat, dan dihubungkan dengan perjalanan menjelajahi destinasi, kuliner dinilai dapat menjadi alasan wisatawan memilih Can Tho.