Surabaya — Di tengah dominasi kopi, boba, dan aneka minuman kekinian, muncul tren berbeda di kalangan generasi muda Indonesia sepanjang 2025: “party jamu”. Istilah ini merujuk pada kegiatan berkumpul sambil minum jamu tradisional bersama teman, yang kemudian viral di media sosial lewat unggahan momen nongkrong dengan minuman rempah, alih-alih minuman tinggi gula atau alkohol ringan.
Fenomena tersebut menunjukkan pergeseran selera dan gaya hidup Gen Z yang mulai mencari pilihan yang dinilai lebih sehat, terasa lebih autentik, sekaligus memiliki keterikatan dengan budaya lokal. Jamu tidak lagi diposisikan semata sebagai minuman tradisional, melainkan menjadi bagian dari ritual santai dan pengalaman sosial.
Ada beberapa alasan jamu menarik bagi pelajar dan anak muda. Pertama, bahan-bahannya yang identik dengan rempah seperti kunyit, beras kencur, temulawak, dan jahe memberi citra alami serta kerap dikaitkan dengan upaya menjaga kebugaran. Sejumlah anak muda menyebut jamu dipilih untuk menghindari minuman yang tinggi gula atau sebagai alternatif aktivitas minum bersama yang tetap terasa menyenangkan.
Kedua, jamu tradisional relatif terjangkau dan mudah diakses, sehingga dianggap ramah bagi kantong pelajar maupun mereka yang belum memiliki penghasilan tetap. Ketiga, aspek sosial dan budaya menjadi daya tarik tersendiri: “party jamu” menjadikan jamu sebagai medium berkumpul, berbagi cerita, dan membangun pengalaman bersama—bukan sekadar konsumsi minuman.
Di balik popularitasnya, jamu juga kerap dikaitkan dengan manfaat kesehatan. Sejumlah artikel kesehatan menyebut jamu herbal dapat mengandung antioksidan serta dikaitkan dengan dukungan terhadap imunitas, pencernaan, dan metabolisme. Beberapa jenis jamu juga dikenal luas di masyarakat: kunyit asam sering diasosiasikan dengan kandungan kurkumin yang bersifat anti-inflamasi, beras kencur kerap dikonsumsi untuk membantu pencernaan, dan temulawak dikaitkan dengan upaya menjaga stamina.
Dalam tren ini, beberapa varian jamu menjadi favorit di kalangan Gen Z. Kunyit asam disebut dipilih saat merasa lelah atau selera makan menurun. Beras kencur kerap diminum ketika perut terasa kembung atau aktivitas harian padat. Sementara jamu jahe atau temulawak sering dikonsumsi ketika membutuhkan dorongan energi, termasuk setelah begadang mengerjakan tugas.
Meski demikian, ada catatan penting yang menyertai tren tersebut. Jamu bukan obat instan untuk masalah kesehatan serius, sehingga konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan bila ada keluhan yang mengkhawatirkan. Selain itu, kualitas dan sumber jamu perlu diperhatikan agar terhindar dari risiko kontaminasi atau campuran bahan yang tidak lazim, terutama pada produk yang tidak terstandarisasi.
Bagi pelajar dan generasi muda, “party jamu” menawarkan beberapa peluang. Dari sisi kebiasaan, tren ini bisa menjadi cara mengganti konsumsi minuman manis tinggi kalori atau berkafein dengan alternatif yang dianggap lebih ringan. Dari sisi sosial, kegiatan minum jamu bersama dapat memperkuat komunitas serta mendukung pedagang jamu tradisional, yang pada akhirnya ikut menjaga budaya dan ekonomi lokal. Sementara di ranah media sosial, tren ini membuka ruang konten seputar gaya hidup sehat, budaya lokal, hingga ide usaha kecil berbasis jamu.
Namun, tantangan tetap ada. Tren “party jamu” berisiko menjadi sekadar jargon bila tidak disertai pemahaman yang tepat. Klaim manfaat juga tidak boleh dimaknai sebagai jaminan penyembuhan penyakit serius seperti diabetes atau gangguan jantung. Karena itu, menjaga keseimbangan antara gaya hidup sehat dan aktivitas akademik atau kerja dinilai penting agar jamu tidak hanya menjadi tren sesaat, melainkan bagian dari rutinitas yang lebih bermakna.
Secara keseluruhan, “party jamu” mencerminkan perubahan preferensi Gen Z pada 2025: dari minuman instan yang serba cepat menuju minuman rempah tradisional yang dipandang lebih dekat dengan kesehatan, kebersamaan, dan identitas budaya. Di tengah arus gaya hidup modern, jamu menemukan panggung baru sebagai bagian dari keseharian generasi muda.

