BERITA TERKINI
Pangan Lokal Dinilai Berpeluang Naik Kelas Jadi Produk Kuliner Bernilai Tinggi

Pangan Lokal Dinilai Berpeluang Naik Kelas Jadi Produk Kuliner Bernilai Tinggi

Pangan lokal Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kuliner bernilai ekonomi tinggi. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan inovasi agar bahan pangan yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk mentah dapat diolah menjadi produk yang sesuai dengan tren dan kebutuhan konsumen.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) sekaligus pengamat ekonomi, Dr. Heri Prabowo, S.E., M.M, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan bahan pangan yang beragam, mulai dari singkong, jagung, hingga rempah-rempah. Meski demikian, menurutnya, sebagian besar potensi tersebut belum diolah secara optimal.

“Potensinya sangat besar. Namun, potensi itu masih sifatnya bahan mentah atau belum olahan yang mengikuti tren pasar saat ini,” kata Heri dalam wawancara, Selasa, 1 September 2026.

Heri menilai inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah pangan lokal. Pengolahan bahan baku menjadi produk siap konsumsi, kreasi produk baru, hingga pemberian pengalaman berbeda kepada konsumen disebut dapat meningkatkan nilai ekonomi pangan lokal berkali-kali lipat.

Ia mencontohkan pengembangan singkong menjadi rengginang. Produk tersebut dibuat dengan bentuk seperti rengginang pada umumnya, tetapi menggunakan singkong sebagai bahan baku sehingga menghadirkan cita rasa dan sensasi yang berbeda.

Menurut Heri, peluang pengembangan pangan lokal juga tidak hanya berasal dari produk utama. Limbah dari proses produksi dapat dimanfaatkan menjadi produk lain yang bernilai ekonomi. Salah satunya, bonggol jagung yang bisa diolah menjadi briket arang sebagai energi alternatif. Pemanfaatan limbah ini dinilai mampu menciptakan nilai tambah sekaligus mendukung pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan.

Selain inovasi, Heri menekankan pentingnya membaca tren konsumen, terutama generasi muda. Ia menilai aspek tampilan dan kemasan menjadi faktor yang turut menentukan minat beli, di samping rasa dan pembaruan produk.

“Segmen saat ini dengan adanya bonus demografi itu usia-usia muda lebih banyak menikmati baik dari aspek promosinya ataupun packaging-nya. Yang terpenting dari rasa dan inovasi produk,” ujarnya.

Karena itu, pelaku UMKM pangan lokal didorong untuk terus mengikuti perubahan permintaan pasar, termasuk memanfaatkan digitalisasi, mengembangkan varian rasa, memperbaiki kemasan, dan menciptakan inovasi produk. Dengan strategi tersebut, pangan lokal diharapkan tidak hanya menjadi bahan konsumsi sehari-hari, tetapi juga berkembang menjadi produk kuliner unggulan yang memiliki daya saing dan nilai ekonomi lebih tinggi.