BERITA TERKINI
Nasi Kapau Kramat Senen, Imah Babaturan Bandung, dan Dakkochi Denpasar: Mengapa Menu Buka Puasa Ini Mendadak Jadi Tren

Nasi Kapau Kramat Senen, Imah Babaturan Bandung, dan Dakkochi Denpasar: Mengapa Menu Buka Puasa Ini Mendadak Jadi Tren

Ramadan selalu memindahkan pusat perhatian publik dari panggung besar ke meja makan.

Tahun ini, salah satu yang ramai dicari adalah nasi kapau di Kramat Senen.

Di saat yang sama, Bandung menawarkan ragam kuliner Nusantara di Imah Babaturan.

Denpasar ikut menyita rasa ingin tahu lewat sate ayam jumbo, dakkochi, di Pasar Takjil Kampung Sunda Bali.

Gabungan tiga titik ini membentuk satu peta kecil selera Indonesia.

Ia menjelaskan mengapa berita kuliner sederhana bisa menanjak di Google Trend.

-000-

Isu yang Membuatnya Tren: Buka Puasa sebagai Momen Kolektif

Isu utamanya bukan sekadar makanan enak.

Yang sedang dicari publik adalah rujukan, tempat, dan menu untuk berbuka puasa.

Berita KompasTV menyorot nasi kapau Kramat Senen yang diminati pengunjung.

Juga menampilkan pilihan menu Nusantara di Bandung.

Dan mengangkat dakkochi yang diburu jelang magrib di Denpasar.

Di ruang digital, informasi seperti ini cepat berubah menjadi kompas sosial.

Orang ingin tahu, lalu ingin ikut, lalu ingin membagikan.

-000-

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Menjadi Tren

Pertama, Ramadan memperbesar kebutuhan praktis.

Menjelang berbuka, waktu terasa sempit.

Orang mencari rekomendasi cepat, aman, dan sudah “teruji” ramai pengunjung.

Karena itu, kata kunci seperti “menu buka puasa” mudah melonjak.

Kedua, kuliner adalah bahasa identitas.

Nasi kapau membawa reputasi masakan Minang yang kuat di ingatan kolektif.

Bandung menampilkan narasi “Nusantara” yang memeluk banyak daerah.

Denpasar menghadirkan dakkochi yang terasa kekinian.

Perpaduan tradisi dan tren membuat orang merasa relevan, apa pun latarnya.

Ketiga, konten kuliner sangat visual dan mudah diceritakan ulang.

Dendeng balado, gulai tunjang, dan gulai tambusu memancing imaji rasa.

Kolak candil ubi ungu memanggil nostalgia.

Ayam fillet panjang yang dibakar dengan saus pedas atau mayones memancing rasa penasaran.

-000-

Kramat Senen: Nasi Kapau sebagai Rasa yang Menetap

Di Kramat Senen, nasi kapau menjadi menu berbuka yang banyak diminati.

Di sana, sejumlah pedagang menyajikan aneka lauk khas.

Berita menyebut dendeng balado dan dendeng sapi cabe hijau.

Ada pula berbagai masakan olahan gulai.

Mulai dari gulai ayam, gulai tunjang, hingga gulai tambusu yang khas.

Di titik seperti ini, kuliner bekerja sebagai penanda kota.

Ia bukan hanya dagangan, melainkan ingatan yang bisa dimakan.

-000-

Bandung: “Nusantara” sebagai Janji Keberagaman

Di Bandung, Imah Babaturan menyediakan menu masakan Nusantara untuk berbuka.

Daftarnya berlapis, dari soto Bandung hingga nasi liwet Solo.

Ada oseng cumi cabai hijau dan oseng lidah sapi.

Ada pecel lele yang akrab di banyak kota.

Takjil jadul juga disebut, seperti kolak candil ubi ungu.

Ketika sebuah tempat menawarkan “Nusantara”, ia sedang menawarkan rasa sebagai pertemuan.

Orang datang bukan hanya untuk kenyang.

Orang datang untuk merasakan Indonesia dalam porsi yang bisa dibagi.

-000-

Denpasar: Dakkochi dan Selera Generasi Baru

Di Denpasar, warga mencari sate ayam jumbo atau dakkochi.

Ia dijual di Pasar Takjil Kampung Sunda Bali.

Potongan ayam fillet ditusuk panjang, lalu dibakar hingga kecokelatan.

Saat dibakar, daging dilumuri saus berbagai varian.

Mulai pedas, barbeque, hingga mayones.

Satu tusuk disebut dijual Rp25 ribu.

Dakkochi menunjukkan bagaimana pasar takjil ikut berubah.

Tradisi tetap ada, namun bentuknya bernegosiasi dengan selera baru.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Makanan Mudah Mengikat Emosi

Dalam psikologi, makanan sering terkait memori dan emosi.

Aroma dan rasa dapat memanggil pengalaman masa lalu dengan cepat.

Itu sebabnya menu “jadul” kerap terasa menenangkan.

Kolak candil, misalnya, bukan sekadar manis.

Ia bisa menjadi penghubung ke rumah, keluarga, dan kebiasaan lama.

Dalam sosiologi, makan bersama juga dipahami sebagai ritual sosial.

Ramadan memperkuat ritual itu melalui jeda harian yang sama, menjelang magrib.

Ketika banyak orang berburu menu yang sama, muncul rasa kebersamaan.

Rasa kebersamaan inilah yang sering diterjemahkan algoritma sebagai “tren”.

-000-

Riset Lain yang Membantu Membaca Fenomena “Berburu Takjil”

Studi pemasaran menunjukkan kelangkaan waktu meningkatkan keputusan impulsif.

Menjelang buka, orang cenderung memilih opsi yang terlihat pasti.

Keramaian, ulasan, dan liputan media memberi sinyal kepastian.

Karena itu, rekomendasi lokasi seperti Kramat Senen atau pasar takjil mudah viral.

Di ekonomi perkotaan, pusat kuliner juga menjadi simpul perputaran uang harian.

Ramadan memperbesar arus itu dalam jam-jam tertentu.

Berita kuliner lalu berfungsi sebagai peta arus, bukan sekadar cerita rasa.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Ekonomi Rakyat dan Ketahanan Budaya

Di balik nasi kapau, ada pedagang, pekerja dapur, dan rantai pasok.

Di balik restoran Nusantara, ada pilihan bahan, resep, dan tenaga kerja.

Di balik dakkochi, ada kreativitas produk dan kompetisi pasar takjil.

Isu besarnya adalah ekonomi rakyat.

Ramadan sering menjadi periode penting bagi pelaku usaha makanan.

Keramaian bisa berarti tambahan penghasilan, tetapi juga tantangan stok dan harga.

Isu besar lain adalah ketahanan budaya.

Masakan Minang, menu Nusantara, dan takjil jadul adalah arsip hidup.

Ia bertahan bukan di museum, melainkan di piring yang terus dipesan.

-000-

Ketika “Nusantara” Menjadi Ruang Dialog

Label “Nusantara” terdengar sederhana, tetapi muatannya politis dan kultural.

Ia mengandaikan keberagaman bisa duduk dalam satu meja.

Di tengah polarisasi wacana publik, kuliner kadang menjadi jalan damai.

Orang boleh berbeda pandangan, tetapi tetap sepakat bahwa soto Bandung menghangatkan.

Atau bahwa gulai tambusu punya tempat khusus di hati sebagian orang.

Kuliner tidak menyelesaikan konflik sosial.

Namun ia bisa membuka percakapan yang lebih manusiawi.

-000-

Referensi Luar Negeri: Fenomena Serupa di Ruang dan Waktu Berbeda

Di banyak negara, momen keagamaan juga memicu lonjakan pencarian makanan.

Di Inggris, misalnya, Ramadan sering diikuti meningkatnya pasar makanan halal dan iftar komunitas.

Di Turki, tradisi makan setelah puasa memunculkan keramaian di ruang publik dan pasar.

Di Korea Selatan, tren jajanan jalanan yang viral kerap dipicu konten visual.

Dakkochi sebagai sate ayam bergaya Korea mengingatkan pada dinamika itu.

Di Amerika Serikat, festival makanan lokal sering menjadi penanda identitas kota.

Mirip dengan bagaimana Kramat Senen dikenali lewat rute rasa yang khas.

Perbandingan ini tidak menyamakan konteks.

Namun membantu melihat bahwa makanan adalah infrastruktur sosial di banyak tempat.

-000-

Membaca Peran Media: Dari Liputan ke Peta Selera

Berita KompasTV menyajikan referensi menu berbuka dari beberapa kota.

Ada jurnalis dan juru kamera yang melaporkan langsung suasana.

Model liputan seperti ini mengubah berita menjadi panduan praktis.

Di era digital, panduan praktis mudah memicu pencarian lanjutan.

Nama menu, lokasi, dan harga menjadi kata kunci.

Ketika publik mengulang kata kunci itu, tren terbentuk.

Di sinilah media punya tanggung jawab ganda.

Memberi informasi, sekaligus menjaga agar euforia tidak meminggirkan akurasi.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik bisa menanggapi tren kuliner dengan sadar, bukan sekadar ikut-ikutan.

Pilih menu sesuai kebutuhan, kesehatan, dan kemampuan.

Tren seharusnya membantu keputusan, bukan menambah beban.

Kedua, dukung pelaku usaha secara adil.

Jika tempat ramai, tetap jaga ketertiban dan hormati pekerja yang melayani.

Berikan ulasan seperlunya, tanpa berlebihan.

Ketiga, pemerintah daerah dan pengelola pasar dapat memperkuat tata kelola.

Keramaian jelang buka butuh pengaturan kebersihan dan arus pengunjung.

Ini penting agar ruang publik tetap nyaman.

Keempat, media dan pembuat konten sebaiknya menekankan konteks.

Bukan hanya “mana yang viral”, tetapi juga apa nilai budaya dan ekonomi di baliknya.

Tren akan lebih sehat jika publik diajak memahami, bukan hanya mengonsumsi.

-000-

Penutup: Rasa yang Mengingatkan Kita pada Sesama

Di Kramat Senen, Bandung, dan Denpasar, orang bergerak karena alasan yang mirip.

Mereka ingin menutup hari dengan rasa yang menenangkan.

Di sela lapar dan doa, ada pilihan kecil yang terasa penting.

Menu berbuka tidak mengubah dunia sendirian.

Namun ia mengajari kita bahwa kebersamaan sering dimulai dari hal paling sederhana.

Seporsi nasi kapau, semangkuk soto, atau satu tusuk sate yang dibagi cerita.

Pada akhirnya, tren kuliner Ramadan adalah cermin.

Ia memantulkan kerinduan kita pada rumah, pada kota, dan pada Indonesia yang mau duduk bersama.

Seperti kutipan yang kerap diingat saat hidup terasa cepat: “Kita tidak bisa mengubah arah angin, tetapi kita bisa menyesuaikan layar.”