Nasi Jamblang merupakan salah satu kuliner khas Cirebon yang telah ada sejak masa penjajahan Belanda. Makanan ini dikenal dengan ciri khas nasi yang dibungkus daun jati dan disajikan bersama berbagai lauk pauk tradisional. Meskipun persaingan bisnis nasi Jamblang semakin ketat, beberapa warung legendaris di Cirebon berhasil mempertahankan kualitas dan cita rasa aslinya.
Warung Nasi Jamblang Mang Dul: Menjaga Warisan Keluarga
Fitri, pemilik Warung Nasi Jamblang Mang Dul, terlihat sibuk melayani pembeli di warungnya yang berada di sebuah ruko di pusat kota Cirebon. Warung tersebut merupakan bisnis keluarga yang diwariskan dari ayahnya, Muhammad Abdullah atau yang dikenal sebagai Mang Dul. Warung ini sudah beroperasi sejak tahun 1970-an, awalnya hanya berupa satu bakul keliling di sekitar kolam renang Kota Cirebon.
Di warung Mang Dul, pengunjung dapat memilih berbagai lauk pauk seperti tempe goreng, sayur tahu, sambal goreng berbahan cabai dan cumi hitam, yang semuanya disajikan di atas nasi yang dibungkus daun jati. Aroma daun jati yang khas menyatu dengan masakan menciptakan sensasi rasa yang membedakan nasi Jamblang Mang Dul dari tempat lain.
Fitri menjelaskan bahwa kunci keberhasilan warung mereka adalah menjaga kualitas dan rasa yang konsisten. "Kalau orang makan akan cari sendiri, kadang orang Jakarta tahu beda rasanya. Di sini bedanya dengan tahu sayur, daging, telur dadar, dan perkedel. Orang tahu ciri khasnya tahunya Mang Dul," ujarnya.
Asal Usul Nasi Jamblang dari Desa Jamblang
Nasi Jamblang berasal dari Desa Jamblang, sebuah daerah pinggiran kota Cirebon. Di desa ini, nasi Jamblang pertama kali dibuat oleh Abdul Latief dan istrinya, Mbah Pulung, yang hidup pada pertengahan abad ke-19. Mereka membagikan nasi ini secara cuma-cuma kepada para pekerja pabrik gula, pabrik spiritus di Palimanan, dan pekerja pembangunan rel kereta api antara tahun 1847 hingga 1883.
Penggunaan daun jati sebagai pembungkus nasi memiliki fungsi praktis selain memberikan aroma khas, yaitu menjaga agar nasi tidak cepat basi. Kusdiman, salah satu keturunan Mbah Pulung, mengungkapkan bahwa pada masa itu plastik belum ada dan daun jati merupakan bahan yang mudah didapat di sekitar mereka.
Kebangkitan Bisnis Nasi Jamblang Keturunan Mbah Pulung
Penjualan nasi Jamblang keluarga Mbah Pulung mencapai puncaknya pada tahun 1960-1970an. Namun, bisnis ini sempat menurun karena para keturunannya memilih untuk meniti karier di bidang lain dan meninggalkan usaha kuliner tersebut. Kusdiman dan Tien Rustini, generasi kelima keluarga Mbah Pulung, yang tinggal di Jakarta sejak tahun 1970-an, kembali terjun ke bisnis kuliner ini setelah pensiun pada 2004. Hal ini dipicu oleh meningkatnya kunjungan wisatawan ke Cirebon.
Mereka kemudian membuka Warung Nasi Jamblang Tulen di depan Pasar Jamblang, Kabupaten Cirebon, dengan tujuan mengembalikan cita rasa dan menu asli warisan keluarga. Kusdiman menjelaskan, "Kami berusaha mengembalikan menu-menu khas yang mulai jarang dijual, seperti dendeng bumbu laos, dan cara memasaknya dengan menggunakan kayu bakar seperti dahulu."
Meskipun menghadapi tantangan karena lokasi warung yang kurang strategis dibandingkan pusat kota, usaha mereka mulai menunjukkan perkembangan dan semakin banyak diminati oleh pengunjung.
Perkembangan Nasi Jamblang di Era Modern
Seiring waktu, semakin banyak pengusaha baru yang membuka usaha nasi Jamblang di Cirebon. Namun, warung-warung yang menjaga kualitas dan cita rasa tradisional tetap menjadi pilihan utama konsumen. Nasi Jamblang kini tidak hanya menjadi santapan favorit warga lokal, tetapi juga semakin dicari oleh wisatawan yang berkunjung ke kota yang dikenal dengan julukan Kota Udang ini.
Fitri dari warung Mang Dul mencatat bahwa dalam sehari mereka dapat menghabiskan hingga dua kuintal beras, dan jumlah ini bisa meningkat dua kali lipat pada akhir pekan serta saat libur panjang seperti Idul Fitri. Hal ini menunjukkan bahwa nasi Jamblang tetap memiliki tempat penting dalam budaya kuliner Cirebon dan terus bertahan di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat.