BERITA TERKINI
Menperin Buka KRISTAInterFOOD 2026 di NICE PIK 2: Industri Mamin Jangan Dipandang Sebelah Mata

Menperin Buka KRISTAInterFOOD 2026 di NICE PIK 2: Industri Mamin Jangan Dipandang Sebelah Mata

Industri makanan dan minuman (mamin) terus menegaskan perannya sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional. Sektor ini tidak hanya menjadi penopang penting manufaktur, tetapi juga mencatat surplus perdagangan hampir US$25 miliar serta menyerap sekitar 6,9 juta tenaga kerja.

Kontribusi tersebut menjadi sorotan dalam pembukaan KRISTAInterFOOD 2026, pameran dagang internasional industri makanan dan minuman yang memasuki penyelenggaraan ke-27. Pameran ini dibuka Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Muhammad Sarmuji, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Rabu (4/11/2026).

Dalam sambutannya, Sarmuji menegaskan industri mamin tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia menyebut kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas mencapai 41,86% pada semester I-2026.

“Artinya hampir setengah dari industri pengolahan nonmigas kita ditopang oleh industri makanan dan minuman. Investasinya juga begitu, terus mengalir. Rp47,74 triliun pada semester pertama dan 59% di antaranya berasal dari dalam negeri,” ujar Sarmuji.

Dari sisi pertumbuhan, industri mamin mencatat kinerja 6,77% pada semester I-2026, meningkat 0,68 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini dinilai mencerminkan daya tahan sektor pangan di tengah dinamika perekonomian dan persaingan industri global.

Kinerja perdagangan internasional juga menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari–Agustus 2026, ekspor industri makanan dan minuman Indonesia tercatat sebesar US$34,65 miliar, sedangkan impor sekitar US$9,7 miliar. Dengan demikian, sektor ini membukukan surplus neraca perdagangan hampir US$25 miliar.

“Jadi jangan remehkan urusan makanan dan minuman, ternyata surplusnya sangat besar bagi neraca perdagangan kita. Industri makanan dan minuman juga menyerap tenaga kerja sebanyak 6,9 juta tenaga kerja,” kata Sarmuji.

Pemerintah menilai pengembangan industri mamin masih memiliki ruang yang besar. Sejumlah agenda yang terus didorong meliputi penguatan produktivitas, inovasi, pemanfaatan bahan baku lokal, peningkatan nilai tambah, serta perluasan akses pasar. Upaya lain yang menjadi perhatian adalah penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir, dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam Indonesia, khususnya komoditas pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Salah satu strategi yang disampaikan Sarmuji ialah pengembangan produk antara atau intermediate product. Melalui pendekatan ini, pelaku industri pangan tidak hanya menghasilkan produk akhir untuk konsumen, tetapi juga memproduksi bahan olahan yang dapat digunakan sebagai input oleh industri lain.

“Produk antara memungkinkan pelaku usaha pangan mengambil peran yang lebih luas dalam rantai nilai, tidak hanya menjual produk akhir pada konsumen, tetapi juga memasok kebutuhan bagi usaha dan industri lain,” tutur Sarmuji.

Penyelenggaraan KRISTAInterFOOD 2026 disebut menjadi salah satu wadah untuk memperkuat industri mamin nasional. Pameran berlangsung pada 4–7 November 2026 dan untuk pertama kalinya digelar di NICE PIK 2. Area pameran menempati luas 60.000 meter persegi yang terbagi dalam tiga gedung utama dan 11 hall.

CEO Krista Exhibitions, Daud D Salim, menyatakan penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum penting karena berlangsung di lokasi baru dengan kapasitas pameran lebih besar. “Pertama-tama kami mengucap syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas perkenan-Nya pameran KRISTAInterFOOD kembali hadir untuk ke-27 kalinya. Kali ini di gedung yang baru, gedung yang lebih besar dan terbesar di Indonesia,” ujarnya.

KRISTAInterFOOD 2026 menghadirkan sekitar 1.100 peserta dari 16 negara, termasuk 100 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sejumlah paviliun internasional turut berpartisipasi, antara lain dari Thailand, Amerika Serikat, dan China. Penyelenggara menargetkan 95.000 pengunjung profesional dari 30 negara.

Selain mempertemukan produsen, pemasok, distributor, importir, dan pembeli, rangkaian acara juga mencakup Seafood Show Asia Expo serta ALL Indonesia Cooltech Expo. Daud menyebut ajang ini dirancang sebagai platform untuk memperluas jaringan perdagangan dan membuka peluang kerja sama bisnis di pasar domestik maupun internasional.

Salah satu program yang diangkat ialah Indonesia Food Innovation (IFI) yang berkolaborasi dengan Kementerian Perindustrian. Program IFI 2026: Intermediate Product Edition berfokus pada pengembangan produk antara berbasis sumber daya lokal menjadi produk inovatif dengan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi, sekaligus sejalan dengan upaya penguatan hilirisasi industri pangan.

Di luar agenda pameran dan bisnis, KRISTAInterFOOD 2026 juga menghadirkan kompetisi untuk mendorong peningkatan keterampilan sumber daya manusia di industri kuliner. La Cuisine Cooking Competition dan Global Chef Championship 2026 melibatkan sekitar 1.100 chef dari 13 negara dalam lebih dari 30 kategori, termasuk kuliner tradisional dan internasional. Kompetisi ini juga menampilkan kekayaan gastronomi Indonesia melalui sajian khas Nusantara seperti tumpeng dan sate.

Untuk sektor kopi, penyelenggara menghadirkan kompetisi bersama Dewan Kopi Indonesia, meliputi KIROC (Roasting), Cup Taster, Coffee Signature, dan Manual Brew. Sementara Gelato World Tour 2026 mempertemukan 10 kontestan dari 10 negara untuk memperebutkan satu tiket menuju kompetisi puncak di Italia.

Area pameran dibagi berdasarkan kategori industri. Building A menampilkan produk pangan, bahan baku, seafood, daging, frozen food, peralatan dapur, serta paviliun internasional. Building B difokuskan pada industri bakery dan pastry, termasuk mesin produksi, bahan baku, dan solusi pengemasan. Adapun Building C menghadirkan produk kopi, teh, cokelat, minuman, mesin pengolahan, hingga kebutuhan hospitality dan food service.

Penyelenggaraan KRISTAInterFOOD 2026 didukung sejumlah kementerian, antara lain Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perdagangan, Kementerian UMKM, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dukungan juga datang dari berbagai asosiasi industri, termasuk GAPMMI, ACP, IPBS, IKABOGA, APCA, AP5I, APFFI, serta Indonesian Packaging Federation (IPF) dan asosiasi lain di sektor pangan, kuliner, perikanan, rumput laut, hingga pengemasan.