Istilah flamingo era belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Tren ini kerap digunakan untuk menggambarkan fase yang dialami sebagian ibu, bukan hanya terkait kelelahan fisik, tetapi juga sisi mental dan emosional yang menyertai rutinitas harian.
Dalam berbagai unggahan yang viral, banyak perempuan mengaku merasa “hilang” atau “tenggelam” di tengah peran dan tanggung jawab yang terus berjalan. Di saat yang sama, menjadi ibu juga menghadirkan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Dari situ, flamingo era muncul sebagai cara bercerita tentang dilema emosional: berada di persimpangan antara rasa syukur memiliki keluarga dan perasaan kehilangan karena ruang untuk diri sendiri tidak lagi sebesar dulu.
Sejumlah pengalaman yang sering muncul dalam percakapan di media sosial antara lain hilangnya rasa percaya diri setelah melahirkan akibat perubahan fisik, kesulitan membagi waktu antara karier dan urusan rumah tangga, rindu terhadap hobi atau impian pribadi yang tertunda, hingga berkurangnya momen tenang untuk sekadar merawat diri.
Simbol flamingo dinilai relevan untuk menggambarkan fase tersebut. Seperti bulu flamingo yang dapat kembali cerah ketika tubuhnya pulih, perempuan juga dipandang bisa mendapatkan kembali “warna” dirinya. Prosesnya disebut dapat memakan waktu, dan sering kali menjadi lebih memungkinkan ketika anak sudah lebih mandiri—saat ibu bisa kembali menghidupkan mimpi, mengejar karier, atau merawat diri dengan lebih leluasa.
Ada beberapa alasan mengapa istilah ini cepat menarik perhatian dan menjadi populer di media sosial. Pertama, bahasa yang puitis dan mudah dipahami. Alih-alih sekadar menyebut “lelah jadi ibu”, flamingo era menghadirkan gambaran visual yang membuat pengalaman itu terasa lebih dekat, sekaligus menyimpan harapan bahwa akan ada masa untuk kembali bersinar.
Kedua, istilah ini dianggap mewakili perasaan kolektif. Banyak perempuan mengalami hal serupa, tetapi tidak selalu mudah mengungkapkannya. Dengan adanya istilah yang sama, mereka merasa memiliki bahasa bersama untuk bercerita. Ketiga, tren ini ikut membuka ruang untuk saling menguatkan. Cerita tentang flamingo era kerap disertai pesan optimistis bahwa fase tersebut bersifat sementara, dan para ibu dapat saling mendukung melewatinya.
Pada akhirnya, pembahasan tentang flamingo era menjadi pengingat bahwa peran sebagai ibu bukan hanya soal merawat anak, tetapi juga menjaga diri agar tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan dan tuntutan yang datang bersamaan.

