BERITA TERKINI
Mahasiswa Unsri Rintis Cireng Beladas di Kambang Iwak, Perluas Pasar Lewat Digital dan Komunitas Kejar Mimpi

Mahasiswa Unsri Rintis Cireng Beladas di Kambang Iwak, Perluas Pasar Lewat Digital dan Komunitas Kejar Mimpi

Di tengah keramaian kawasan Kambang Iwak, Palembang, Indra Saputra memilih mengisi akhir pekan dengan berjualan. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri) itu merintis usaha kuliner bernama Cireng Beladas sejak 2024, sembari tetap menjalani aktivitas perkuliahan.

Indra menawarkan cireng dengan berbagai varian isian, mulai dari ayam suwir, bakso, keju, mozzarella, hingga sosis. Camilan berbahan dasar tepung tapioka tersebut ia racik dengan sentuhan rasa pedas yang disesuaikan dengan selera masyarakat Palembang.

Kambang Iwak yang berada di pusat kota menjadi salah satu ruang publik favorit warga untuk berolahraga, berekreasi, dan berburu kuliner. Jalur jogging yang mengelilingi taman membuat kawasan ini ramai dikunjungi, dari mereka yang menjaga kebugaran hingga keluarga yang menghabiskan waktu bersama. Melihat aktivitas itu, Indra memanfaatkan lokasi tersebut untuk memperkenalkan produknya sekaligus menjangkau pelanggan baru.

Setiap Sabtu dan Minggu, Indra turun langsung berjualan. Sementara pada hari kerja, pesanan Cireng Beladas tetap dilayani secara daring dengan dukungan jaringan reseller. Ia juga menyediakan opsi pembayaran tunai maupun nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk memudahkan transaksi.

Di balik kesibukan berjualan, Indra mengaku terdorong oleh keinginan membantu orang tua. Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, ia berupaya meringankan beban keluarga tanpa mengesampingkan pendidikan. Ayahnya, Damri Siregar, bekerja sebagai buruh harian lepas, sedangkan ibunya, Uun Triadawati, merupakan ibu rumah tangga.

Indra menyebut memulai usaha bukan perkara mudah, terutama ketika harus membagi waktu antara tugas kuliah, materi perkuliahan, dan pesanan pelanggan. Namun, ia menilai pengalaman tersebut menjadi proses belajar yang melengkapi pengetahuan bisnis yang diperolehnya di kampus. “Saya punya mimpi dan saya tidak mau mimpi itu hanya sekedar wacana. Meski sulit dengan berbagai tantangan, intinya jangan pernah malu untuk memulai,” kata Indra, Sabtu (3/10/2026).

Perjalanan Cireng Beladas, menurut Indra, juga dibangun dengan upaya membaca kebutuhan pasar. Sebelum memulai, ia melakukan survei sederhana untuk mengetahui tanggapan calon konsumen. Seiring berjalan, ia memanfaatkan pemasaran daring dan jaringan reseller agar usaha tetap berjalan ketika ia kembali fokus pada kegiatan perkuliahan.

Dalam perjalanannya, Indra juga terhubung dengan Kejar Mimpi Palembang, komunitas yang diinisiasi CIMB Niaga. Ia menilai komunitas tersebut memberinya ruang untuk belajar, berinteraksi dengan anak muda lain, serta mengembangkan pola pikir kewirausahaan.

Ketua Kejar Mimpi Palembang, Muhammad Marsyal Davarisa, mengatakan komunitas itu hadir sejalan dengan semangat Moving You Forward yang diusung CIMB Niaga. Menurutnya, Kejar Mimpi menjadi wadah bagi anak muda untuk belajar, berkolaborasi, membangun jejaring, dan mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam dunia kerja maupun kewirausahaan.

“Kejar Mimpi Palembang telah mendorong para anggota untuk tidak segan bermimpi. Melalui dorongan dan literasi yang kuat, banyak alumni yang telah menjadi pengusaha dan memiliki karier yang bagus. Termasuk Indra yang saat ini tengah merintis usaha kuliner yang cukup bagus perkembangannya,” ujar Marsyal.

Sejak dibentuk pada Januari 2020, Kejar Mimpi Palembang disebut telah melibatkan sekitar 30.000 anak muda melalui berbagai kegiatan dan program pengembangan kapasitas, di antaranya Kejar Mimpi Volunteer Graduation, Kejar Mimpi Connect to School, Kejar Mimpi Skill UP, Kejar Mimpi Care Environment, Kejar Mimpi Bonding, dan Kejar Mimpi Talks. Secara nasional, komunitas Kejar Mimpi hadir sejak 2017 dan hingga 2025 tercatat melibatkan lebih dari 221.000 peserta melalui 1.909 program dengan tiga pilar utama: literasi keuangan, pemberdayaan karier, serta kecakapan digital dan teknologi.

Peran generasi muda dalam kewirausahaan juga disorot Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono. Ia menilai anak muda memiliki potensi besar mendorong produktivitas dan mengembangkan kewirausahaan karena adaptif terhadap teknologi, kreatif, dan inovatif.

“Dengan karakteristik yang adaptif terhadap teknologi, kreatif, dan inovatif, generasi muda memiliki potensi besar untuk mendorong produktivitas, mengembangkan kewirausahaan, serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Sumatera Selatan,” kata Bambang. Ia menambahkan, ekonomi digital membuka peluang memperluas jangkauan pasar, mengembangkan inovasi produk, dan meningkatkan efisiensi usaha.

Menurut Bambang, pengembangan potensi generasi muda perlu ditopang literasi digital, literasi keuangan, serta kemampuan berinovasi dan berwirausaha. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha agar potensi tersebut berkembang berkelanjutan.

Dari sisi penguatan literasi keuangan, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menilai kedekatan generasi muda dengan layanan keuangan digital membawa peluang sekaligus tantangan. “Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan karena kemudahan akses perlu diimbangi dengan pemahaman yang baik agar anak muda mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak dan terhindar dari berbagai risiko keuangan,” ujarnya.

Arifin menyebut literasi keuangan membantu anak muda mengelola pendapatan, menentukan prioritas kebutuhan, membangun kebiasaan menabung, memahami investasi, serta mengenali risiko sebelum mengambil keputusan finansial. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah, adaptasi, serta kemauan untuk terus belajar karena kebutuhan dunia kerja dan usaha berubah cepat.

Pengamat ekonomi Prof. Dr. Sri Rahayu, SE., MM., menilai keterlibatan anak muda dalam usaha menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Menurutnya, keberanian memulai usaha sejak masih menempuh pendidikan bukan semata membuka peluang penghasilan mandiri, tetapi juga membentuk pola pikir kreatif, inovatif, dan tangguh.

“Ketika anak muda berani memulai usaha dari sesuatu yang sederhana, seperti kuliner, sesungguhnya mereka sedang membangun fondasi kewirausahaan. Nilai pentingnya bukan semata-mata seberapa besar omzet yang diperoleh, melainkan bagaimana mereka belajar membaca peluang pasar, mengelola modal, memahami kebutuhan konsumen, dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” kata Sri Rahayu. Ia menambahkan, pendampingan dan komunitas kewirausahaan dinilai penting agar anak muda tidak hanya berani memulai, tetapi juga mampu mengembangkan usaha secara lebih mandiri dan berdaya saing.

Di tengah aktivitas kuliah dan usaha, Indra menyimpan target jangka panjang: mengembangkan lima usaha berbeda di bidang makanan dan minuman. Ia berharap langkah yang ditempuhnya dapat menjadi inspirasi bagi anak muda lain agar tidak takut memulai, meski dengan modal dan kemampuan terbatas. Prinsip yang ia pegang, “Pilih tidur lanjutkan mimpi, atau bangun kejar mimpi,” menjadi pengingat untuk terus bergerak.

Indra juga menyampaikan apresiasi kepada Kejar Mimpi Palembang dan CIMB Niaga yang ia sebut turut menjadi bagian dari perjalanannya sebagai pengusaha muda. Memasuki usia ke-71 tahun, CIMB Niaga disebut memiliki momentum untuk menegaskan dukungan terhadap masyarakat, termasuk generasi muda yang membangun masa depan melalui ruang belajar, jejaring, dan pengembangan potensi.

Dari Kambang Iwak, Indra menjalani proses itu lewat usaha sederhana yang ditekuni secara konsisten. Bagi Indra, setiap pesanan yang dilayani dan setiap produk yang terjual merupakan bagian dari langkah membangun kemandirian—sekaligus upaya membantu keluarga dan merintis masa depan.