Tren kuliner Jepang pada 2026 menjadi perbincangan di media sosial, bukan hanya karena tampilannya yang menarik, tetapi juga karena kebiasaan makan yang dinilai unik oleh banyak orang. Jika selama ini makanan Jepang identik dengan sushi, ramen, atau tempura, tahun ini perhatian warganet justru tertuju pada menu bertekstur tidak biasa hingga inovasi pangan yang terdengar futuristis.
Sejumlah tren tersebut memperlihatkan perpaduan antara tradisi, teknologi, dan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Beberapa di antaranya juga disebut memiliki alasan tersendiri dan berkaitan dengan budaya makan di Jepang. Berikut lima tren makanan Jepang yang ramai dibicarakan pada 2026.
1. Shiokara, fermentasi jeroan cumi
Shiokara merupakan hidangan tradisional yang dibuat dari jeroan cumi yang difermentasi bersama daging cumi dan garam. Proses ini menghasilkan rasa asin yang tajam dengan aroma seafood yang kuat. Teksturnya disebut lengket seperti pasta, dengan cita rasa umami yang pekat dan aftertaste yang bertahan cukup lama.
Di balik kesan ekstrem bagi sebagian orang, shiokara juga mencerminkan kebiasaan memanfaatkan hampir seluruh bagian bahan makanan agar tidak terbuang. Hidangan ini umumnya dapat ditemukan di izakaya tradisional, terutama di daerah pesisir seperti Hokkaido, atau di kedai kecil yang menyajikan hidangan laut hasil pengawetan.
2. Tororo, parutan ubi gunung bertekstur licin
Tororo adalah parutan mountain yam atau ubi gunung Jepang. Teksturnya licin, lengket, dan cenderung berlendir, sehingga kerap memunculkan keraguan bagi orang yang baru melihatnya.
Meski tampilannya tidak biasa, tororo populer karena teksturnya yang unik dan dipercaya baik untuk pencernaan serta membantu menjaga stamina. Penyajiannya umumnya diletakkan di atas nasi hangat atau menjadi pendamping soba, dengan tampilan mengilap dan daya rekat yang menempel seperti lapisan tipis saat dituangkan.
3. Fungal meat berbasis koji
Koji dikenal sebagai bahan fermentasi khas Jepang. Pada 2026, pengembangannya disebut mengarah ke penggunaan yang lebih modern melalui fungal meat, yakni alternatif protein yang dibuat menggunakan jamur.
Produk ini dirancang memiliki tekstur menyerupai daging dengan rasa gurih dan umami yang kuat, namun terasa lebih ringan saat disantap. Fungal meat juga menarik perhatian karena diposisikan sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan, sehingga mulai muncul di restoran modern dan startup makanan yang mengusung konsep plant-forward.
4. Street food berbentuk ikan dengan beragam isian
Di kawasan seperti Harajuku dan Shibuya, Tokyo, kreativitas street food kembali mencuri perhatian. Salah satu yang ramai dibagikan di media sosial adalah camilan berbentuk ikan yang dapat diisi soft-serve, krim, atau bahkan isian gurih.
Bentuknya yang fotogenik membuatnya mudah viral. Meski terlihat seperti dibuat untuk kebutuhan konten, kreasi ini tetap mengandalkan keterampilan dan ketelitian dalam proses pembuatannya.
5. Cokelat tanpa kakao
Perkembangan food tech di Jepang juga melahirkan tren cokelat tanpa kakao. Produk ini dibuat dari bahan seperti biji-bijian yang difermentasi dan senyawa nabati, dengan tujuan menghadirkan tekstur lembut, tampilan mengilap, serta rasa yang menyerupai cokelat.
Tren ini disebut muncul sebagai respons terhadap tantangan lingkungan dan kebutuhan mencari bahan pangan yang lebih berkelanjutan. Di Tokyo, konsep tersebut mulai dieksplorasi oleh dessert lab dan kafe yang mengusung inovasi pangan.
Kelima tren ini menunjukkan bagaimana kuliner Jepang pada 2026 tidak hanya bergerak pada sisi rasa dan tampilan, tetapi juga pada eksplorasi tekstur, pemanfaatan bahan, serta gagasan keberlanjutan yang kian sering dibicarakan.