Membangun usaha bersama rekan atau keluarga kerap dipilih untuk memperbesar peluang berkembang. Namun, perjalanan bisnis tidak selalu mulus. Perbedaan visi, pengelolaan perusahaan, hingga persoalan kepemilikan merek dapat memicu berakhirnya kerja sama antarpihak yang sebelumnya menjalankan usaha bersama, atau yang kerap disebut pecah kongsi.
Di Indonesia, sejumlah bisnis yang sempat dikenal luas pernah mengalami perpisahan di level pendiri atau mitra usaha. Setelah berpisah, sebagian di antaranya melanjutkan bisnis dengan identitas merek maupun pengelolaan yang berbeda. Berikut lima contoh bisnis populer yang dikenal pernah mengalami pecah kongsi.
1. Ayam Goreng Suharti
Ayam Goreng Suharti dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris dengan menu ayam goreng kremes. Usaha ini dirintis oleh Suharti bersama suaminya, Bambang Sachlan Pratohardjo, dan berkembang dengan pelanggan di berbagai daerah.
Dalam perjalanannya, pasangan tersebut berpisah. Usaha yang sebelumnya dikelola bersama kemudian berkembang menjadi dua merek berbeda. Suharti kembali menjalankan bisnis dengan nama Ayam Goreng Ny. Suharti dan menggunakan foto dirinya sebagai identitas merek. Dalam situs Ayam Goreng Suharti disebutkan bisnis tersebut telah hadir sejak 1972.
2. Cap Kaki Tiga dan Cap Badak
Cap Kaki Tiga dan Cap Badak merupakan dua merek larutan penyegar yang dikenal masyarakat. Keduanya berawal dari kerja sama antara Wen Ken Drug, perusahaan asal Singapura, dan PT Sinde Budi Sentosa, perusahaan Indonesia di bidang produk kesehatan.
Kerja sama itu berlangsung puluhan tahun sebelum berakhir pada 2008. Setelah perpisahan, Cap Badak berkembang sebagai merek tersendiri di bawah PT Sinde Budi Sentosa, sementara Cap Kaki Tiga tetap berjalan sebagai merek yang berbeda.
3. Holycow
Holycow merupakan bisnis restoran steak yang berkembang dari usaha sederhana hingga dikenal luas. Bisnis ini dirintis oleh Afit Dwi Purwanto bersama istrinya, Lucy Wiryono, serta mitra bisnis Wanda dan Wynda.
Kerja sama para pemilik berakhir pada Mei 2012 karena perbedaan visi dan misi. Setelah berpisah, masing-masing pihak menjalankan usaha dengan identitas serta pengelolaan sendiri. Perpisahan tersebut juga memunculkan dua bisnis restoran dengan nama yang serupa, tetapi dikelola secara berbeda.
4. Tempo Gelato
Tempo Gelato populer di Yogyakarta dengan beragam pilihan rasa gelato. Usaha ini didirikan pada 2015 oleh Pascal Briere, Ema Susmiyarti, dan Rudi Festraets.
Seiring berkembangnya bisnis, para pendiri mengalami perselisihan terkait pengelolaan usaha dan pembagian keuntungan. Perselisihan tersebut kemudian memengaruhi kelanjutan kerja sama di antara mereka, sekaligus menunjukkan bahwa bisnis yang tumbuh pun dapat menghadapi persoalan internal ketika kepentingan para pendirinya berbeda.
5. Maicih
Maicih dikenal sebagai merek keripik pedas yang sempat populer berkat strategi pemasaran dan penyebaran penjualan melalui berbagai saluran. Bisnis ini bermula dari usaha keluarga yang melibatkan tiga bersaudara: Dimas Ginanjar Merdeka, Arie Kurniadi, dan Reza Nurhilman.
Dalam perkembangannya, ketiganya mengalami perbedaan visi dan misi yang berujung pada perpisahan. Setelah itu, masing-masing pihak melanjutkan kegiatan usaha melalui badan usaha berbeda. Dimas disebut meneruskan bisnis melalui CV Maicih, sedangkan Arie dan Reza menjalankan usaha melalui PT Maicih.