BERITA TERKINI
Laila Nurazizah Ceritakan Tantangan Menulis Naskah "Badarawuhi di Desa Penari": Mengolah Rasa Takut dan Ekspektasi Penonton

Laila Nurazizah Ceritakan Tantangan Menulis Naskah "Badarawuhi di Desa Penari": Mengolah Rasa Takut dan Ekspektasi Penonton

Penulis skenario Laila Nurazizah, yang akrab disapa Lele Laila, mengungkap tantangan berbeda saat menggarap naskah film Badarawuhi di Desa Penari. Ia menyadari penulisan cerita prekuel dari KKN di Desa Penari—yang disebut sebagai film terlaris sepanjang masa di Indonesia—bukan pekerjaan mudah dan membawa beban tersendiri selama proses penulisan.

Meski demikian, Lele Laila menilai beban tersebut tidak menjadi penghambat utama. Ia menyebut proses pembuatan naskah film ini tetap berjalan seru sekaligus menarik.

Dalam penulisan film horor, terutama yang merupakan adaptasi dari medium lain, Lele Laila mengatakan ada dua hal yang selalu ia perhatikan. Pertama adalah mengolah perasaan takut. Menurutnya, rasa takut merupakan elemen penting yang perlu dijaga karena dapat menuntun penulis menggambarkan adegan yang memunculkan kesan seram atau situasi tidak nyaman bagi penonton.

Ia menjelaskan, rasa takut justru membantu intuisi penulis saat meramu naskah, sehingga adegan yang memang ditujukan untuk membangun horor dapat tersampaikan lebih baik. “Sebenarnya secara meramu cerita [horor atau non horor] tidak jauh berbeda. Namun, selama menulis horor, saya jadi harus bersahabat dengan rasa takut. Karena pada akhirnya rasa takut itu jadi bahan bakar yang dibutuhkan selama menulis horor,” kata Lele Laila.

Hal kedua yang dianggap penting adalah mengolah ekspektasi penonton. Dalam film adaptasi, penonton umumnya sudah mengetahui cerita asli sehingga datang ke bioskop dengan interpretasi dan bayangan tertentu tentang alur maupun visual cerita yang pernah mereka baca. Kondisi ini kerap menjadi tantangan ketika medium cerita berpindah.

“Jadi, itu memang tantangan yang cukup susah. Ketika mediumnya berganti, orang akan merasakan ada kesamaan atau justru ada sesuatu yang berbeda yang ditawarkan,” ujarnya.

Lele Laila menilai pro dan kontra terkait kesamaan atau perbedaan dari materi asli adalah hal yang wajar. Ada penonton yang menginginkan cerita tetap sama, sementara yang lain berharap ada hal baru. Untuk mengelola hal tersebut, ia rutin berdialog dengan produser dan sutradara guna menentukan bentuk olahan yang akan diterapkan. Ia menyebut beberapa pendekatan yang biasa digunakan dalam penulisan adaptasi, seperti borrowing, intercepting, dan fidelity of adaptation.

Selain itu, Lele Laila juga melakukan riset tambahan untuk memperkaya dan memperdalam naskah, meski gambaran cerita sudah tersedia di medium sebelumnya. Ia mengatakan riset tersebut terkadang mencakup riset pasar, membaca komentar di utas yang beredar, serta menganalisis harapan penonton dan aspek yang disukai dari cerita. Menurutnya, karakter utas berbeda dengan skenario film karena dalam film karakter bergerak dan cerita dibatasi durasi.

Badarawuhi di Desa Penari saat ini masih tayang di bioskop. Film ini mengisahkan kejadian lain yang disebut tak kalah seram, jauh sebelum teror yang terjadi dalam KKN di Desa Penari.

Cerita dibuka dengan empat anak muda—Mila (Maudy Effrosina), Yuda (Jourdy Pranata), Jito (M. Iqbal Sulaiman), dan Roy (Ardit Erwandha)—yang berkunjung ke sebuah desa untuk mengembalikan Kawaturih, mustika yang konon berasal dari desa tersebut. Namun setibanya di sana, mereka justru mendapat teror tak terduga dari Badarawuhi.