BERITA TERKINI
Kuliner Legendaris Tangerang yang Mendadak Jadi Tren: Nostalgia, Identitas Kota, dan Cara Kita Menjaga Ingatan Kolektif

Kuliner Legendaris Tangerang yang Mendadak Jadi Tren: Nostalgia, Identitas Kota, dan Cara Kita Menjaga Ingatan Kolektif

Ada alasan mengapa daftar “kuliner legendaris” mendadak ramai dibicarakan. Bukan semata soal lapar. Ada kerinduan pada sesuatu yang terasa stabil di tengah hidup yang cepat berubah.

Itulah konteks ketika lima kuliner legendaris di Tangerang kembali naik ke permukaan percakapan. Nama-nama yang akrab di Pasar Lama dan sekitarnya seolah memanggil orang pulang.

Berita tentang Sate Ayam H. Ishak, Es Buntin, Bubur Ayam Spesial Ko Iyo, Nasi Jagal Ibu Zahra, dan Ayam Borobudur menjadi pemantik. Ia menyentuh memori, rute jalan, dan rasa.

Di kota yang terus tumbuh, cerita makanan sering menjadi penanda paling jujur. Resep yang bertahan puluhan tahun adalah arsip hidup. Ia bekerja tanpa museum, tanpa pidato.

-000-

Mengapa Isu Ini Menjadi Tren

Alasan pertama adalah nostalgia yang mudah menular. Ketika satu orang menyebut rasa masa kecilnya, orang lain ikut mengingat. Algoritma hanya mempercepat efek domino itu.

Daftar kuliner legendaris memberi orang “peta emosi” yang sederhana. Tinggal pilih satu nama, lalu unggah cerita. Dari situ, percakapan bergerak sendiri.

Alasan kedua adalah kedekatan geografis Tangerang dengan Jakarta. Banyak orang bekerja lintas kota. Rekomendasi kuliner menjadi alasan singkat untuk menyeberang, pulang, atau singgah.

Tangerang juga punya kawasan yang sudah lama menjadi magnet, seperti Pasar Lama dan Pecinan. Ketika tempatnya sudah ikonik, daftar makanannya lebih mudah viral.

Alasan ketiga adalah daya tarik “yang bertahan lama”. Ada rasa kagum pada usaha yang tetap hidup lintas generasi. Publik menyukai narasi ketekunan, terutama yang bisa dilihat dan dicicip.

Angka-angka yang disebutkan ikut memperkuat rasa takjub. Misalnya Sate Ayam H. Ishak yang dikabarkan menjual sekitar 6.000 tusuk per hari. Itu terdengar seperti tradisi yang masih bernapas.

-000-

Lima Nama, Lima Cara Merawat Waktu

Berita ini menyebut Sate Ayam H. Ishak sebagai salah satu incaran di Pasar Lama Tangerang. Usaha ini dirintis Haji Ishak pada 1954, dari berjualan keliling hingga menetap.

Kini, generasi berikutnya melanjutkan dengan menjaga resep dan cara memasak. Kedai ini disebut hanya menyajikan sate ayam, dengan pilihan bagian yang beragam.

Keaslian rasa dijaga melalui arang batok dan kacang Madura untuk bumbu kacang. Di sinilah “teknik” menjadi bagian dari identitas, bukan sekadar prosedur memasak.

Di sisi lain ada Es Buntin, dekat Klenteng Boen Tek Bio yang disebut berdiri sejak abad ke-17. Kedai es serut ini dikelola Lim Bun Tin dan istrinya sejak sekitar 1980.

Es serut berbentuk kerucut dengan topping seperti alpukat, kelapa, cincau, cendol, pacar China, dan jelly. Ada pula varian unik seperti Es Putsal dan Es Bumi Hangus.

Kesederhanaan Es Buntin justru menjadi kekuatannya. Ia mengikat orang pada pengalaman ruang. Minum es bukan hanya soal dingin, tetapi soal berteduh dari panas kota.

Bubur Ayam Spesial Ko Iyo disebut sudah ada sejak 1966. Keunikannya terletak pada topping yang lengkap, termasuk ayam cincang, tongcai, cakwe, ati ampela, dan daun selada.

Jam bukanya sore hingga malam, membuatnya lekat dengan ritme kota setelah kerja. Bubur menjadi makanan penghibur yang tidak menuntut perayaan, tetapi memberi rasa aman.

Lalu Nasi Jagal Ibu Zahra di kawasan Bayur, disebut beroperasi sejak 1990-an dan buka 24 jam. Menu andalannya nasi hangat dengan tumisan daging sapi bercita rasa kecap manis kental.

Keputusan untuk buka 24 jam bukan detail kecil. Ia adalah bentuk layanan sosial yang sering tak kita sadari, bagi mereka yang pulang larut atau memulai kerja saat orang lain tidur.

Terakhir, Ayam Goreng dan Ayam Bakar Borobudur yang berdiri sejak 1992 di M. Haryono. Dikenal dengan ayam kampung goreng dan bakar, bumbu ungkep, dan sambal terasi turun-temurun.

Di sini “keluarga” hadir bukan sebagai slogan, melainkan sebagai cara makan. Menu pelengkap seperti sayur asem, tahu, dan tempe membuatnya terasa seperti meja rumah.

-000-

Lebih Besar dari Daftar Makan: Identitas Kota dan Ingatan Kolektif

Daftar kuliner legendaris sering terlihat ringan. Namun ia menyimpan isu besar: bagaimana sebuah kota mengingat dirinya sendiri. Makanan adalah bahasa identitas yang paling merakyat.

Tangerang, lewat Pasar Lama dan Pecinan, memperlihatkan perjumpaan sejarah dan keseharian. Orang datang untuk makan, lalu tanpa sadar menyentuh lapisan-lapisan masa lalu.

Ketika tempat makan bertahan lama, ia menjadi penanda perubahan kota. Ia menyaksikan generasi berganti. Ia melihat harga naik. Ia melihat selera bergeser.

Di Indonesia, pembicaraan tentang kota sering terjebak pada pembangunan fisik. Padahal, yang membuat kota layak dicintai adalah memori warganya. Kuliner adalah pintu masuknya.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Rasa Bisa Mengikat Orang

Riset psikologi dan neurosains kerap menyebut hubungan kuat antara aroma, rasa, dan memori autobiografis. Pengalaman makan dapat memanggil kembali ingatan yang terasa sangat personal.

Fenomena ini sering dikenal sebagai efek Proust, merujuk pada bagaimana sensasi inderawi memicu ingatan yang lama tersimpan. Dalam konteks kuliner legendaris, efeknya menjadi sosial.

Ketika satu orang mengingat, ia bercerita. Cerita itu memicu ingatan orang lain. Dari sinilah nostalgia menjadi arus, bukan pengalaman privat semata.

Di ranah sosiologi, makanan juga dipahami sebagai penanda identitas dan kebersamaan. Kebiasaan makan membentuk rasa “kita”, baik dalam keluarga maupun komunitas kota.

Karena itu, kuliner legendaris bukan hanya bisnis yang panjang umur. Ia adalah institusi sosial kecil. Ia menampung perjumpaan, obrolan, dan rasa memiliki.

-000-

Rujukan Luar Negeri: Ketika Kuliner Menjadi Warisan Kota

Di banyak negara, kuliner legendaris juga menjadi medan tarik-menarik antara tradisi dan modernitas. Jepang, misalnya, dikenal dengan kedai tua yang menjaga resep lintas generasi.

Di sana, bisnis keluarga yang berusia panjang sering dipandang sebagai penjaga keterampilan. Orang datang bukan hanya untuk rasa, tetapi untuk menyentuh kontinuitas.

Contoh lain terlihat di Singapura lewat pusat jajanan dan kedai ikonik yang menjadi rujukan wisata. Ada upaya mendokumentasikan, menata, dan menjaga agar tradisi tetap hidup.

Di beberapa kota Eropa, pasar tua dan kedai tradisional juga mengalami tekanan serupa. Kenaikan sewa, perubahan selera, dan arus wisata dapat mengubah wajah kuliner lokal.

Rujukan ini tidak untuk menyamakan kondisi. Namun ia menunjukkan pola global: kuliner legendaris sering menjadi simbol yang diperebutkan, antara ekonomi, budaya, dan ruang kota.

-000-

Analisis: Antara Viral, Wisata, dan Kerentanan Usaha Kecil

Tren bisa menjadi berkah, tetapi juga ujian. Ketika sebuah tempat mendadak ramai, beban operasional meningkat. Konsistensi rasa diuji oleh antrean dan ekspektasi baru.

Dalam berita ini, beberapa tempat disebut mempertahankan resep dan teknik. Itu adalah modal utama. Namun modal itu rapuh jika tekanan ekonomi membuat bahan baku sulit dijaga.

Ada pula dimensi ruang kota. Kawasan yang populer sering mengalami komersialisasi. Jika biaya sewa naik, usaha legendaris bisa terdesak, meski namanya besar.

Di titik ini, kuliner legendaris menjadi cermin isu besar Indonesia: keberlanjutan UMKM, perlindungan ruang budaya, dan tata kota yang tidak menghapus jejak sejarah.

-000-

Rekomendasi: Cara Menanggapi Tren dengan Dewasa

Pertama, publik bisa mendukung dengan cara paling sederhana: datang dengan tertib, menghargai antrean, dan tidak memaksa layanan melebihi kapasitas. Viral tidak boleh menjadi beban.

Kedua, pembeli sebaiknya memperlakukan tempat-tempat ini sebagai ruang hidup, bukan sekadar latar konten. Dokumentasikan secukupnya, lalu beri ruang bagi orang lain menikmati.

Ketiga, pemerintah daerah dapat memperkuat ekosistem kawasan bersejarah seperti Pasar Lama dan Pecinan. Fokusnya pada kebersihan, akses pejalan kaki, dan pengelolaan keramaian.

Keempat, pelaku usaha bisa mempertimbangkan pencatatan resep, pelatihan internal, dan standar kerja yang menjaga rasa. Regenerasi tidak hanya soal keturunan, tetapi soal pengetahuan.

Kelima, media dan pembuat konten perlu menjaga etika. Menulis dengan akurat, tidak melebih-lebihkan, dan tidak memicu ekspektasi yang tidak realistis membantu usaha bertahan.

-000-

Penutup: Yang Kita Cari dari Sepiring Makanan

Pada akhirnya, daftar kuliner legendaris Tangerang adalah cerita tentang ketahanan. Tentang orang-orang yang menyalakan arang, menyiapkan bubur, atau menyerut es, hari demi hari.

Di tengah berita yang sering keras, kisah seperti ini terasa menenangkan. Ia mengingatkan bahwa peradaban juga dibangun oleh hal-hal kecil yang diulang dengan setia.

Jika tren ini punya makna, ia adalah ajakan untuk menjaga yang rapuh namun penting. Ingatan kolektif tidak tinggal di arsip. Ia tinggal di tempat kita masih mau kembali.

“Kita tidak hanya hidup dari apa yang kita makan, tetapi dari apa yang kita ingat saat memakannya.”