Ida Rosmawati mengembangkan Kuliner Iva dengan produk andalan roti jala berkuah durian. Usaha kuliner khas Melayu ini berawal dari keinginannya melanjutkan usaha kelompok yang telah dirintis selama enam tahun, sebelum kemudian ia kembangkan secara mandiri.
Perjalanan tersebut disampaikan Ida dalam program UMKM Bicara – Connect & Level Up di RRI Pekanbaru. Ia menuturkan, usaha roti jala mulai berkembang pada masa pandemi COVID-19, ketika situasi ekonomi menjadi tantangan bagi banyak pelaku usaha.
Sebelum menekuni bisnis kuliner, Ida sempat menjalankan usaha perabot. Namun pengalaman selama bergabung dalam usaha kelompok roti jala membuatnya memilih meneruskan usaha tersebut. “Sangat sayang jika usaha kelompok ini ditinggalkan, sehingga saya memutuskan untuk melanjutkannya dan mengembangkannya secara mandiri,” ujarnya.
Ida menekankan komitmennya menjaga kualitas bahan baku dan konsistensi rasa sebagai kunci mempertahankan kepercayaan pelanggan. Salah satu ciri utama produk Kuliner Iva terletak pada kuah durian yang menggunakan buah durian asli tanpa tambahan perisa buatan.
Dalam praktiknya, fluktuasi harga durian menjadi tantangan tersendiri. Kenaikan harga bahan baku dapat berdampak pada biaya produksi. Meski demikian, Ida memilih mempertahankan kualitas daripada mengurangi penggunaan bahan utama. “Kalau harga durian murah kita untung, tapi kalau durian mahal kita jangan sampai mengurangi kualitas,” katanya.
Menurut Ida, konsistensi rasa menjadi investasi jangka panjang karena pelanggan yang kembali membeli mengharapkan cita rasa yang sama seperti sebelumnya. Prinsip tersebut ia terapkan seiring meningkatnya permintaan terhadap roti jala durian yang diproduksinya.
Kuliner Iva juga berkembang bertahap dari skala rumahan. Ida memulai produksi dengan modal sekitar Rp300 ribu dan mengolah hingga empat kilogram tepung untuk membuat roti jala. Seiring waktu, pesanan meningkat dan ia pernah memenuhi permintaan untuk dua acara pesta besar dalam satu hari, dengan kebutuhan produksi mencapai 20 kilogram tepung.
Peningkatan pesanan itu menjadi tantangan sekaligus peluang. Ida menyebut ketelitian dalam proses pembuatan dan pengelolaan bahan baku penting agar setiap pesanan terpenuhi tanpa mengorbankan kualitas.
Dari sisi pemasaran, Ida memanfaatkan platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Ia juga rutin mengikuti bazar untuk memperkenalkan produknya secara langsung, serta membawa roti jala ke berbagai perkumpulan ibu-ibu agar masyarakat lebih mengenal kuliner tradisional yang ditawarkannya.
Ida menilai makanan tradisional masih memiliki peminat di tengah banyaknya pilihan kuliner modern. “Makanan tradisional sampai saat ini masih sangat digemari oleh masyarakat,” ucapnya.
Selain kualitas bahan, Ida menempatkan kejujuran dan keramahan sebagai prinsip dalam menjalankan usaha. Ia juga terbuka terhadap kritik dan masukan konsumen untuk mengevaluasi produk maupun pelayanan, dengan tujuan menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan memastikan produk tetap sesuai harapan pasar.
Ke depan, Ida menargetkan Roti Jala Kuliner Iva dapat masuk ke gerai oleh-oleh khas daerah di Pekanbaru. Ia berharap langkah tersebut dapat memperluas pemasaran sekaligus mengenalkan kuliner tradisional Melayu kepada lebih banyak masyarakat.
Di tengah persaingan dan perubahan harga bahan baku, Ida terus berupaya mempertahankan ciri khas roti jala kuah durian dengan mengandalkan cita rasa autentik dan konsistensi kualitas.