Sebuah tulisan opini mempertanyakan arah pendidikan yang selama ini kerap disebut bertujuan melahirkan generasi kreatif. Penulis menilai, praktik di ruang kelas justru sering menempatkan kreativitas pada posisi pinggir, karena ukuran keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan menguasai rumus, hafalan, dan jawaban yang seragam.
Dalam gambaran yang diangkat, “anak pintar” di sekolah cenderung dilekatkan pada mereka yang cepat dan tepat menjawab soal-soal eksak. Sementara itu, anak yang menonjol dalam menggambar, menulis puisi, atau memiliki kepekaan sosial terhadap teman sekelasnya kerap dianggap tidak serius, tidak fokus, bahkan dipandang sebagai pembuat masalah. Padahal, penulis menekankan bahwa kreativitas tidak hanya lahir dari kemampuan mengolah angka, melainkan juga dari kepekaan rasa, intuisi, imajinasi, dan empati.
Penulis juga menyoroti kecenderungan lembaga pendidikan—dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi—yang dinilai terlalu sibuk melatih cara berpikir rasional lewat hitung cepat, hafalan definisi dan sejarah, serta penguasaan rumus. Akibatnya, aspek “rasa” yang melekat pada manusia, seperti kemampuan menafsirkan, mempertanyakan, dan berimajinasi, disebut kurang mendapat ruang yang memadai.
Masa kanak-kanak digambarkan sebagai fase alami untuk mengembangkan daya imajinasi. Namun, ketika anak memasuki sekolah, ruang bermain imajinasi itu dinilai perlahan menyempit. Imajinasi yang liar dianggap mengganggu, rasa ingin tahu yang luas dicap membuang waktu, dan keberanian mempertanyakan kerap dipahami sebagai sikap melawan.
Dalam pandangan penulis, kondisi tersebut membuat kreativitas seolah dibiarkan “hidup setengah mati”: cukup menjadi jargon, tetapi tidak benar-benar dipelihara dalam keseharian belajar. Sekolah disebut lebih condong mencetak generasi yang seragam ketimbang membuka ruang bagi perbedaan, padahal kreativitas justru tumbuh dari keberanian keluar jalur dan dari hal-hal yang tidak selalu dapat diukur dengan angka.
Meski mengakui pandangannya bisa dianggap sekadar keluhan, penulis menegaskan ada hal yang perlu dikritisi dalam cara sekolah memperlakukan kreativitas. Jika situasi ini terus dibiarkan, penulis mengingatkan risiko lahirnya generasi “fotokopi” yang hanya meniru tanpa kemampuan mencipta.
Tulisan itu kemudian menawarkan bayangan alternatif: sekolah yang menempatkan rasa sebagai inti pendidikan. Dalam gambaran tersebut, murid diberi ruang untuk salah tanpa takut dimarahi, guru tidak hanya menguji hafalan tetapi mendorong pertanyaan, dan kurikulum menyediakan kesempatan untuk melukis, menulis, berteater, bercocok tanam, atau sekadar merenung. Pendidikan seperti ini, menurut penulis, mungkin tidak menghasilkan murid “sempurna” versi rapor, tetapi dapat membentuk manusia yang lebih utuh.
Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa yang dibutuhkan bukan generasi yang seragam dan semata mengejar angka, melainkan generasi yang berani merasakan, berimajinasi, dan mencipta—bukan hanya mampu menjawab soal, tetapi juga mengajukan pertanyaan baru.

