Tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik yang memanas sejak awal 2026 mulai dirasakan industri kuliner di Indonesia. Kenaikan harga energi, logistik, hingga bahan baku membuat pelaku usaha menghadapi tantangan efisiensi di tengah margin yang kian tertekan.
Situasi tersebut dipicu konflik di Timur Tengah yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz dan mendorong harga minyak mentah naik hingga sekitar USD 99,57 per barel. Dampaknya, biaya operasional bisnis kuliner ikut meningkat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Penyediaan Makanan dan Minuman 2024 yang dirilis pada Desember 2025 mencatat biaya bahan baku dapat mencapai 63,81% dari total pengeluaran usaha. BPS juga mencatat sekitar 23,92% operasional restoran masih bergantung pada proses manual, yang dinilai kurang efisien ketika tekanan biaya meningkat.
Merespons kondisi tersebut, PT Esensi Solusi Buana (ESB) memperkenalkan solusi teknologi terintegrasi dalam ajang ALLFood Indonesia 2026 yang berlangsung pada 15–18 April 2026 di ICE BSD, Tangerang. Mengusung konsep “The Lean-Service Era”, ESB menawarkan pendekatan ekosistem digital untuk membantu pelaku usaha makanan dan minuman menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi.
Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, menilai situasi ekonomi saat ini menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk beralih ke sistem operasional yang lebih efisien dan berbasis teknologi. “Gejolak ekonomi 2026 justru menjadi momentum kritis bagi pelaku usaha F&B untuk segera mengadopsi teknologi yang tepat. Saat harga bahan baku melonjak dan margin semakin tipis, setiap rupiah dalam operasional harus dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
ESB menawarkan empat pilar utama untuk mendukung ketahanan bisnis kuliner. Pertama, ESB POS, aplikasi kasir berbasis cloud untuk memantau transaksi secara real-time dan mengurangi potensi kebocoran pendapatan. Kedua, ESB Core (ERP) yang mengintegrasikan pengelolaan stok, akuntansi, dan pengadaan bahan baku, dengan klaim dapat meningkatkan efisiensi operasional hingga 35%.
Pilar ketiga adalah ESB Order yang menggabungkan sistem pemesanan dine-in, delivery, dan web-order dalam satu platform, serta diklaim dapat meningkatkan transaksi hingga 63%. Keempat, OLIN AI, aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang mengolah data transaksi menjadi rekomendasi bisnis dengan tingkat akurasi hingga 98%.
ESB juga menyoroti masih rendahnya adopsi teknologi di sektor F&B. Berdasarkan data BPS, penggunaan website untuk penjualan kuliner tercatat hanya 0,02%, sementara adopsi AI di sektor ini masih di bawah 1%.
Partisipasi ESB dalam pameran tersebut didukung IWARE sebagai mitra strategis penyedia infrastruktur perangkat keras. Kolaborasi ini disebut menghadirkan solusi end-to-end yang menggabungkan perangkat lunak dan perangkat keras untuk mendukung transformasi digital bisnis kuliner.
Direktur Utama IWARE, Sugiharto, mengatakan kondisi ekonomi global mempercepat kebutuhan pelaku usaha untuk mengadopsi teknologi secara menyeluruh. “Kami percaya ketahanan bisnis kuliner terletak pada fondasi teknologi yang tepat, baik dari sisi perangkat lunak maupun hardware,” ujarnya.
Melalui keikutsertaan di ALLFood Indonesia 2026, ESB menegaskan teknologi tidak lagi sekadar alat pendukung, melainkan mitra strategis untuk menjaga efisiensi dan mendorong pertumbuhan bisnis. Selama pameran berlangsung, pengunjung dapat mencoba langsung berbagai solusi teknologi ESB serta memperoleh penawaran khusus yang tersedia di lokasi acara.

