BERITA TERKINI
ESB Tampilkan Solusi Teknologi F&B di ALLFood Indonesia 2026 untuk Efisiensi Operasional di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

ESB Tampilkan Solusi Teknologi F&B di ALLFood Indonesia 2026 untuk Efisiensi Operasional di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

PT Esensi Solusi Buana (ESB) berpartisipasi dalam pameran ALLFood Indonesia 2026 yang digelar pada 15–18 April 2026. ESB hadir di Booth G 07-08 Hall 8, ICE BSD, Tangerang, dengan mengusung konsep “The Lean-Service Era”, yakni pendekatan teknologi terintegrasi yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha makanan dan minuman (F&B) bertahan, beradaptasi, dan tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (15/4/2026), ESB menyoroti tekanan yang dirasakan industri kuliner seiring dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah naik hingga kisaran US$99,57 per barel. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga energi, biaya logistik, hingga bahan baku.

ESB merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Penyediaan Makanan Minuman 2024 yang dirilis pada Desember 2025. Dalam laporan itu disebutkan biaya bahan baku dapat mencapai 63,81% dari total pengeluaran usaha. Selain itu, 23,92% operasional restoran disebut masih terjebak dalam proses manual, sehingga pelaku usaha dinilai perlu beradaptasi dengan sistem yang lebih efisien dan terintegrasi.

Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, menyatakan gejolak ekonomi pada 2026 menjadi momentum bagi pelaku usaha F&B untuk mengadopsi teknologi yang sesuai. Ia menjelaskan ekosistem ESB dirancang untuk menekan pemborosan, mengontrol biaya, dan menjaga profitabilitas melalui sejumlah produk yang saling terhubung, mulai dari aplikasi kasir, sistem ERP, layanan pemesanan online, hingga aplikasi berbasis AI untuk analisis data.

Dalam paparan ESB, terdapat empat pilar yang ditawarkan sebagai ketahanan operasional. Pertama, ESB POS, aplikasi kasir berbasis cloud untuk memantau transaksi secara real-time, mengurangi kebocoran pendapatan, dan meningkatkan kecepatan pelayanan.

Kedua, ESB Core (ERP), sistem ERP dan back office terintegrasi yang mencakup pengelolaan stok, akuntansi, serta pengadaan bahan baku. ESB menyebut kemampuan pemantauan inventori secara real-time dapat membantu pelaku usaha lebih adaptif menghadapi lonjakan harga bahan baku dan menjaga stabilitas operasional. Sistem ini juga diklaim dapat meningkatkan efisiensi operasional hingga 35%.

Ketiga, ESB Order, sistem pemesanan online yang menyatukan layanan dine-in, delivery, dan web-order dalam satu platform. ESB menyatakan seluruh pesanan tersinkronisasi otomatis antara kasir dan dapur untuk meminimalkan pesanan terlewat, serta diklaim dapat membantu menaikkan transaksi hingga 63%. ESB juga mengutip data BPS yang menunjukkan penggunaan website untuk penjualan F&B masih rendah, yakni 0,02%.

Keempat, OLIN AI, aplikasi AI buatan ESB yang mengolah data transaksi menjadi rekomendasi bisnis otomatis dengan akurasi hingga 98%, mencakup prediksi kebutuhan bahan baku, identifikasi menu terlaris, dan analisis tren penjualan. ESB menyebut adopsi AI di sektor F&B di Indonesia masih di bawah 1%.

Partisipasi ESB di ALLFood Indonesia 2026 turut didukung kehadiran IWARE, distributor hardware di Indonesia, sebagai Mitra Strategis dalam acara tersebut. Kolaborasi ini disebut menghadirkan ekosistem teknologi F&B yang menggabungkan perangkat lunak ESB dengan infrastruktur hardware dari IWARE, dengan tujuan membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi modal di tengah tekanan ekonomi.

Direktur Utama IWARE, Sugiharto, mengatakan ketahanan bisnis kuliner dinilai bertumpu pada fondasi teknologi yang tepat, baik dari sisi perangkat lunak maupun hardware. Dalam kesempatan yang sama, ia menyebut IWARE mendukung misi ESB di ALLFood 2026, termasuk melalui penawaran bundling dan promo lain di acara tersebut.

Melalui partisipasi di pameran ini, ESB juga menekankan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi dapat menjadi mitra strategis bagi pertumbuhan usaha. Gunawan menyampaikan harapan agar pelaku bisnis kuliner dapat lebih fokus pada inovasi, kualitas, kreativitas, serta pengambilan keputusan berbasis data, sementara aspek teknologi ditangani oleh mitra yang tepat.