Ketegangan di Minneapolis, Minnesota, dilaporkan meningkat setelah bentrokan antara warga dan agen federal dalam rangkaian operasi penegakan imigrasi. Situasi ini disebut telah memicu aksi protes yang meluas dan memperdalam polarisasi politik di Amerika Serikat.
Dalam rangkaian insiden tersebut, dilaporkan dua warga tewas akibat tindakan agen bersenjata. Mereka disebut bernama Renee Good dan Alex Pretti. Kematian keduanya disebut mendorong unjuk rasa menjadi semakin berani, sementara mantan Presiden Barack Obama dan Bill Clinton dikabarkan mendukung agar aksi protes terus berlanjut.
Kerusuhan di Minneapolis disebut bermula setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah “Operasi Metro Surge” untuk menangkap imigran ilegal. Kebijakan itu kemudian ditindaklanjuti oleh Departemen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) yang melakukan pencarian dan deportasi imigran ilegal di berbagai wilayah.
Namun, kebijakan tersebut menuai penolakan. Sejumlah politisi lokal di Minnesota dikabarkan secara terbuka menentang pengerahan ICE. Pemerintah Negara Bagian Minnesota juga disebut telah menggugat untuk menghentikan Operasi Metro Surge.
Wali Kota Minneapolis Jacob Frey dilaporkan menyampaikan bahwa kepolisian kota tidak akan bekerja sama dengan agen federal. Dalam konferensi pers pekan lalu, Frey disebut menyatakan petugasnya akan “melawan ICE di jalanan”.
Gubernur Minnesota Tim Walz juga dikabarkan berpihak kepada para pengunjuk rasa. Walz disebut meminta Trump menarik “3.000 agennya yang tidak terlatih” dari Minnesota, serta mengerahkan Garda Nasional untuk membagikan donat dan kopi kepada demonstran.
Dukungan terhadap pengunjuk rasa juga disebut datang dari tokoh Demokrat lain, termasuk Gubernur California Gavin Newsom. Ia dikabarkan menilai agen federal tidak bekerja dengan baik sehingga menimbulkan korban jiwa.
Dalam beberapa minggu terakhir, agen imigrasi federal disebut telah menembak dan menewaskan dua warga negara Amerika di Minneapolis. Kehadiran agen federal di kota itu, menurut laporan tersebut, telah meradikalisasi sebagian pengunjuk rasa dan memperuncing polarisasi di tingkat nasional.
Beberapa minggu setelah kematian Renee Good, dan sehari setelah penembakan fatal terhadap Alex Pretti oleh agen Patroli Perbatasan AS, sekelompok pengunjuk rasa pada Minggu malam dilaporkan menyerbu sebuah hotel yang mereka yakini menjadi tempat menginap petugas imigrasi federal.
Aksi tersebut disebut cepat berubah menjadi kerusuhan. Para aktivis dilaporkan menyemprotkan cat bertuliskan kata-kata kasar terhadap ICE di jendela hotel dan menerobos masuk ke lobi, sementara agen bersenjata berupaya menahan massa.
Para agen federal disebut meminta bantuan aparat lokal, tetapi dilaporkan bantuan datang terlambat dan menolak melakukan pemindahan massa secara fisik. Kerusuhan akhirnya dibubarkan setelah lebih banyak agen federal datang dan menggunakan gas air mata.
Insiden ini disebut sebagai eskalasi terbaru dalam tindakan keras pemerintahan Trump di Minnesota. Lembaga-lembaga pemerintah federal dilaporkan berhadapan dengan jaringan aktivis beserta dukungan politik mereka, dan kedua pihak disebut memperkirakan potensi pertumpahan darah lebih lanjut.
Insiden terbaru yang disorot terjadi pada Sabtu, ketika agen Patroli Perbatasan AS dilaporkan menembak dan menewaskan Alex Pretti, warga Minneapolis berusia 37 tahun yang bekerja sebagai perawat.
Pretti disebut membawa pistol Sig P320 yang dimilikinya secara sah saat demonstrasi anti-ICE. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) mengklaim Pretti mengacungkan senjata kepada para agen, meski laporan tersebut menyebut hal itu tidak tampak jelas dalam rekaman video kejadian.
Meski Minneapolis berjarak lebih dari 1.000 mil dari perbatasan selatan AS, ICE pada Desember lalu mengumumkan rencana peluncuran Operasi Metro Surge di Minneapolis dan St. Paul. Operasi itu disebut berkaitan dengan mencuatnya kabar jaringan penipuan bernilai miliaran dolar yang dipimpin warga Somalia.
Trump juga dilaporkan mengumumkan pengerahan tambahan 2.000 agen ICE, Patroli Perbatasan, dan agen federal lain ke Minneapolis pada awal bulan ini.
Menurut laporan tersebut, Departemen Kehakiman AS telah mendakwa 98 anggota jaringan penipuan Somalia—banyak di antaranya disebut warga negara AS yang dinaturalisasi—atas pelanggaran pidana. ICE juga menyatakan telah menangkap 3.000 orang yang disebut sebagai “imigran ilegal kriminal” selama Operasi Metro Surge, berdasarkan pernyataan lembaga itu pekan lalu.

