BERITA TERKINI
Pengprov IWbA Jatim Perkuat Kolaborasi dan Sport Science, Targetkan Kejurprov hingga Pembentukan Pengurus di 38 Daerah

Pengprov IWbA Jatim Perkuat Kolaborasi dan Sport Science, Targetkan Kejurprov hingga Pembentukan Pengurus di 38 Daerah

Surabaya — Ketua Pengurus Provinsi Indonesia Woodball Association (Pengprov IWbA) Jawa Timur, Ali Kuncoro, menyatakan siap menjalankan amanah kepemimpinannya dengan memperkuat kerja kolektif serta kolaborasi lintas sektor. Selain dituntut melahirkan atlet potensial, ia juga dibebani target menuntaskan pembentukan kepengurusan IWbA di seluruh 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

“Ini amanah besar. Tidak ada kata lain selain bekerja lebih baik dan membuktikan harapan yang sudah disampaikan,” kata Ali Kuncoro kepada wartawan usai pelantikan dan pengukuhan Pengprov IWbA Jatim periode 2025–2026 di Surabaya, Minggu (25/1).

Ali menegaskan potensi atlet woodball Jawa Timur harus dibuktikan melalui program kerja yang terukur. Untuk itu, Pengprov IWbA Jatim akan membangun sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari PB IWbA, KONI Jawa Timur, hingga Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). Ia juga menyebut rencana menggandeng perguruan tinggi guna memperkuat penerapan sport science dalam pembinaan.

Dari sisi kompetisi, Pengprov IWbA Jatim menargetkan penyelenggaraan minimal dua hingga tiga kejuaraan provinsi (kejurprov) pada tahun ini sebagai tahap awal.

Selain pembinaan atlet, Pengprov juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas pelatih dan wasit, serta penguatan penyelenggaraan event. Langkah ini ditujukan agar woodball Jawa Timur tidak hanya kuat di kandang, tetapi mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Ali pun menekankan harapannya agar lebih banyak atlet woodball Jawa Timur menembus tim nasional.

Dalam waktu dekat, Pengprov IWbA Jatim juga akan mempercepat konsolidasi organisasi di daerah. Dari total 38 kabupaten/kota, kepengurusan baru terbentuk di 27 daerah, sehingga masih ada 11 daerah yang belum terbentuk, termasuk Tulungagung.

Ali menilai penguatan publikasi, frekuensi penyelenggaraan event, serta soliditas kepengurusan hingga tingkat kabupaten/kota menjadi kunci agar woodball semakin dikenal dan diminati masyarakat.