BERITA TERKINI
Kabut Asap di Singapura Tekan Sektor Kuliner, Omzet Pedagang Turun hingga 60 Persen

Kabut Asap di Singapura Tekan Sektor Kuliner, Omzet Pedagang Turun hingga 60 Persen

Kabut asap yang menyelimuti Singapura mulai berdampak pada aktivitas ekonomi, terutama sektor makanan dan minuman. Berkurangnya jumlah pengunjung membuat sejumlah pedagang di pusat kuliner melaporkan penurunan omzet, bahkan ada yang mempertimbangkan untuk menutup usaha jika situasi tak kunjung membaik.

Menurut laporan The Straits Times pada 18 Oktober 2026, salah satu lokasi yang terdampak adalah Tekka Centre di kawasan Little India. Pusat kuliner tersebut mengalami penurunan kunjungan seiring memburuknya kualitas udara.

Zaiton Bee, pemilik warung makan berusia 73 tahun, mengatakan jumlah pelanggan hariannya turun dari sekitar 500 orang menjadi 200 orang. Ia menyebut penurunan itu mencapai sekitar 60 persen, di tengah usahanya yang sebelumnya sudah terbebani kenaikan biaya operasional.

Kondisi tersebut membuat Zaiton mempertimbangkan untuk menghentikan usahanya apabila pendapatan tidak menunjukkan perbaikan. Pedagang lain juga menghadapi situasi serupa karena masyarakat cenderung mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menghindari paparan kabut asap.

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan pedagang kaki lima. Sejumlah restoran turut melaporkan penurunan jumlah pelanggan. Restoran Harry’s, misalnya, menyebut kunjungan di sejumlah gerainya turun sekitar 40 persen. Sebagian pelaku usaha makanan pun mulai lebih mengandalkan layanan pesan antar dan pesanan untuk dibawa pulang.

Sementara itu, Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) pada 18 Oktober 2026 memperkirakan Indeks Standar Polutan (PSI) untuk Senin, 19 Oktober 2026, berada pada kisaran 101–190, yang masuk kategori tidak sehat.

NEA juga menyampaikan kabut asap dari Kalimantan masih berpotensi bergerak menuju Singapura. Perubahan arah angin dan kemungkinan hujan di kawasan sekitar diperkirakan dapat memengaruhi pergerakan asap dalam beberapa hari ke depan.

Pemerintah Singapura mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas fisik berat atau berkepanjangan di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru.

Di tengah kondisi itu, pelaku usaha kuliner menghadapi tantangan menjaga pendapatan sekaligus menanggung biaya operasional. Jika jumlah pelanggan terus menurun, keberlangsungan usaha kecil yang bergantung pada kunjungan langsung berisiko semakin tertekan.

Kabut asap pun tidak hanya menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap mata pencaharian pedagang serta aktivitas ekonomi sehari-hari di Singapura.