BERITA TERKINI
Jawa Tengah Miliki Potensi Sumber Pangan Lokal yang Belum Maksimal Dimanfaatkan

Jawa Tengah Miliki Potensi Sumber Pangan Lokal yang Belum Maksimal Dimanfaatkan

Magelang – Provinsi Jawa Tengah menyimpan potensi besar dari 13 sumber daya genetik yang belum populer diolah sebagai bahan pangan lokal. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, bahan-bahan tersebut dapat menjadi alternatif makanan pokok pengganti beras.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan bahwa banyak sumber daya genetik tersebut belum dikenal luas oleh masyarakat, belum terdata dengan baik, dan asal usulnya serta lokasi penanamannya masih belum diketahui secara pasti.

Menurut Taj, sumber daya genetik yang dimaksud sebagian besar berupa berbagai jenis umbi-umbian. Selain singkong atau ketela pohon, terdapat pula umbi lokal seperti ganyong, gembili, dan suwek yang tersebar di wilayah Jawa Tengah.

Namun, umbi-umbian tersebut belum banyak diolah menjadi makanan selingan, kudapan, atau makanan ringan. Masyarakat selama ini masih cenderung menggunakan tepung terigu yang bahan bakunya berasal dari luar negeri sebagai bahan utama pembuatan makanan ringan.

Padahal, sumber pangan lokal tersebut memiliki kandungan nutrisi dan nilai gizi yang tinggi. Dengan pengolahan yang tepat, bahan ini dapat memenuhi kebutuhan pangan di sejumlah daerah dan mengurangi ketergantungan pada beras sebagai sumber pangan utama.

Wakil Gubernur juga mengaitkan pemanfaatan pangan lokal dengan upaya penurunan angka stunting di Jawa Tengah. Saat ini, angka anak penderita stunting di provinsi ini mencapai 28,52 persen, dengan kasus tersebar di 11 kota/kabupaten seperti Kebumen, Wonosobo, Blora, dan Brebes.

Upaya Pemerintah dalam Pengembangan Pangan Lokal

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Suryo Banendro, menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi terus memberikan dukungan berupa bantuan bibit umbi-umbian, pupuk, dan obat-obatan kepada petani. Pada tahun 2018, bantuan tersebut telah diberikan kepada tiga kelompok tani di Kabupaten Boyolali, Semarang, dan Batang.

Pada tahun 2019, program ini akan dilanjutkan dengan menyalurkan bantuan kepada lima kelompok tani di Kabupaten Banjarnegara, Magelang, Temanggung, Wonosobo, dan Karanganyar.

Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, perluasan areal tanam umbi-umbian juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan ubi serta memberikan tambahan penghasilan bagi petani. Beberapa jenis umbi bahkan digunakan sebagai bahan baku produk kosmetik.

Suryo menambahkan bahwa meskipun pangan lokal mulai dimanfaatkan sebagai makanan pokok di beberapa daerah, sebagian besar wilayah masih berfokus pada konsumsi nasi. Penggunaan bahan pangan lokal masih sering dianggap sebagai alternatif bagi masyarakat yang mengalami krisis pangan.