BERITA TERKINI
Jasa Joki Baca Buku Viral di Media Sosial, Memantik Diskusi soal Citra dan Tekanan untuk Terlihat Pintar

Jasa Joki Baca Buku Viral di Media Sosial, Memantik Diskusi soal Citra dan Tekanan untuk Terlihat Pintar

JAKARTA — Jasa joki baca buku atau ghost reader menjadi perbincangan di media sosial setelah seorang pengguna Threads menawarkan layanan membaca buku fiksi maupun nonfiksi, berbahasa Indonesia dan Inggris. Tarif yang dipasang berkisar Rp700 ribu hingga Rp1,6 juta, bergantung pada ketebalan buku dan kebutuhan pengerjaan.

Yang ditawarkan bukan sekadar membaca. Paket layanan itu juga mencakup pemberian highlight, pemasangan penanda halaman, hingga penyediaan foto buku untuk konten media sosial. Penyedia jasa bahkan menyebut sasaran layanannya adalah orang yang ingin terlihat seperti bookworm atau pencinta buku di media sosial.

Unggahan tersebut memicu tanggapan beragam. Sebagian warganet menilainya sebagai ide bisnis yang tidak biasa, sementara yang lain mempertanyakan alasan seseorang membayar orang lain untuk melakukan aktivitas yang umumnya memberi pengalaman personal.

Di balik perdebatan itu, muncul pertanyaan lebih luas: apakah tren semacam ini menunjukkan adanya tekanan untuk selalu terlihat produktif dan pintar di ruang digital?

Membaca sebagai bagian dari citra diri

Membaca buku selama ini identik dengan upaya memperoleh pengetahuan atau menikmati cerita. Namun di media sosial, aktivitas membaca juga kerap menjadi bagian dari identitas yang ingin ditampilkan. Foto buku yang sedang dibaca, kutipan favorit, hingga ulasan bacaan dapat menjadi cara berbagi rekomendasi dan membuka ruang diskusi antarpembaca.

Situasinya menjadi berbeda ketika penampilan aktivitas membaca lebih diutamakan daripada proses membaca itu sendiri. Dalam kasus joki baca buku yang viral, layanan yang ditawarkan bertujuan membuat buku tampak telah dibaca dan dianotasi. Buku yang penuh penanda halaman dan sorotan kalimat dapat memberi kesan pemiliknya telah meluangkan waktu mempelajari isi bacaan, meski pekerjaan itu dilakukan pihak lain.

Meski demikian, fenomena ini tidak otomatis menggambarkan motif semua orang yang mengunggah konten buku. Banyak pengguna media sosial tetap membaca secara nyata dan membagikan pengalaman sebagai bagian dari interaksi komunitas. Karena itu, praktik joki baca buku dipandang sebagai kasus spesifik, bukan representasi seluruh komunitas pembaca.

Tekanan untuk terlihat produktif dan mengikuti tren

Media sosial memungkinkan orang memilih sisi kehidupan yang ingin ditampilkan, termasuk kebiasaan membaca. Dalam psikologi sosial, upaya mengatur kesan di hadapan orang lain dikenal sebagai impression management atau manajemen impresi. Konsep ini kerap digunakan untuk menjelaskan mengapa seseorang membangun citra tertentu, termasuk citra sebagai pembaca aktif yang dianggap berwawasan luas dan gemar belajar.

Tekanan semacam itu dapat muncul ketika seseorang membandingkan dirinya dengan pengguna lain yang terlihat produktif dan berpengetahuan. Buku yang sedang populer, kutipan yang dianggap mendalam, atau ulasan bacaan yang ramai dibahas dapat menjadi standar sosial yang ingin diikuti.

Keinginan mengikuti tren juga kerap dikaitkan dengan fear of missing out (FOMO), yakni kekhawatiran tertinggal dari percakapan atau pengalaman yang sedang ramai. Dalam konteks ini, seseorang bisa merasa perlu mengetahui buku yang sedang dibicarakan agar tetap relevan dalam diskusi. Namun ketika waktu dan minat membaca tidak sejalan, jalan pintas bisa tampak lebih menarik.

Meski begitu, viralnya satu layanan tidak cukup untuk menyimpulkan motif para pengguna jasa tersebut. Tanpa penelitian terhadap pelanggan, belum ada dasar untuk memastikan apakah alasan mereka terkait tekanan sosial, keterbatasan waktu, kebutuhan praktis, atau faktor lain.

Apa yang hilang jika orang lain membaca untuk kita

Membayar orang lain untuk membaca buku berbeda dengan membeli ringkasan atau meminta rekomendasi. Dalam jasa yang ramai dibicarakan, proses membaca dan memberi anotasi dilakukan pihak lain, sementara pemilik buku dapat menggunakan hasilnya untuk membangun kesan telah membaca.

Perbedaannya terletak pada pengalaman yang hilang ketika seseorang tidak menjalani proses membaca sendiri. Saat membaca, pembaca berhadapan langsung dengan gagasan penulis, mengikuti alur argumentasi, menemukan informasi baru, dan menilai isi bacaan. Pembaca juga bisa berhenti pada bagian tertentu, menghubungkan informasi dengan pengalaman pribadi, atau mengubah pandangan setelah memahami konteks.

Ketika proses itu dialihkan, pemilik buku tidak otomatis memperoleh pemahaman yang sama. Penanda halaman dan highlight hanya menunjukkan bagian yang dianggap penting oleh pembaca lain, bukan selalu bagian yang paling relevan bagi pemilik buku. Risiko ini semakin terasa pada buku nonfiksi yang membutuhkan pemahaman konteks; membaca kutipan tanpa mengikuti argumentasi utuh dapat menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap.

Di sisi lain, bantuan orang lain untuk memahami bacaan tidak selalu bermasalah. Ringkasan, diskusi, dan rekomendasi dapat membantu seseorang mempelajari materi, terutama ketika waktu terbatas atau isi buku sulit dipahami. Perbedaannya ada pada tujuan: apakah bantuan itu dipakai untuk memperdalam pemahaman, atau untuk menciptakan kesan seolah-olah pengalaman membaca telah dijalani.

Antara literasi dan gaya hidup

Viralnya joki baca buku juga memunculkan kekhawatiran bahwa literasi bergeser menjadi sekadar gaya hidup. Namun kemunculan satu layanan yang ramai dibicarakan belum cukup untuk menyimpulkan perubahan minat baca secara luas. Fenomena ini lebih menunjukkan adanya peluang jasa yang memanfaatkan kebutuhan sebagian orang untuk menampilkan aktivitas membaca di media sosial.

Pada saat yang sama, maraknya konten buku juga dapat berdampak positif. Rekomendasi bacaan, ulasan, dan diskusi daring bisa mempertemukan pembaca dengan karya yang sebelumnya tidak dikenal, sekaligus memperluas ruang percakapan literasi. Persoalan utamanya bukan pada kebiasaan membagikan buku, melainkan ketika penampilan menggantikan pengalaman.

Diskusi soal pengakuan di era digital

Fenomena joki baca buku pada akhirnya membuka diskusi tentang hubungan pengetahuan, identitas, dan pengakuan sosial. Di satu sisi, media sosial memberi ruang untuk menunjukkan minat dan menemukan komunitas. Di sisi lain, dorongan menampilkan kehidupan yang menarik dapat membuat sebagian orang lebih fokus pada kesan daripada pengalaman yang dijalani.

Viralnya jasa joki baca buku tidak membuktikan bahwa semua orang membaca demi terlihat pintar. Namun perbincangan ini mengingatkan bahwa dalam budaya digital yang menilai banyak hal melalui tampilan, proses dan substansi bisa tertukar dengan simbol. Menjadi pembaca, pada akhirnya, bukan ditentukan oleh seberapa meyakinkan unggahan di media sosial, melainkan oleh apa yang benar-benar dipahami dan dipelajari dari sebuah bacaan.