Isu mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali mencuat pada Selasa (2/9/2025), di tengah situasi keamanan yang disebut masih dibayangi aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia. Pada saat yang sama, kondisi ekonomi dinilai sedang menghadapi tantangan karena daya beli masyarakat disebut lesu sehingga sektor riil menurun.
Dalam kabar yang beredar, Sri Mulyani disebut ingin mundur dari Kabinet Merah Putih. Terdapat pula isu yang menyebut ia mengalami tekanan terkait anggaran, bahkan muncul narasi mengenai rumahnya yang dijarah massa. Sejumlah ekonom menilai, bila benar terjadi, kabar tersebut berpotensi memengaruhi pasar keuangan.
Manajer Riset dan Pengetahuan The Prakarsa, Roby Rushandie, menilai Sri Mulyani merupakan figur penting di mata investor domestik maupun global. Menurutnya, jejaring Sri Mulyani di pasar keuangan internasional dinilai mampu menarik minat investor, yang dianggap menguntungkan pemerintah di tengah kebutuhan pembiayaan negara melalui utang.
Roby memperkirakan, jika isu pengunduran diri tersebut terbukti benar, pasar keuangan dapat bereaksi negatif. “Dengan isu ini kalau saya perkirakan jika benar-benar mundur ya, maka financial market pasti anjlok. Apalagi pasar saham, kemudian rupiah dan juga pasar obligasi,” ujar Roby seperti dikutip dari Kompas.com.
Ia menambahkan, besarnya gejolak pasar juga akan dipengaruhi oleh sosok pengganti Menteri Keuangan. Menurut Roby, figur penerus Bendahara Negara akan menentukan arah kebijakan fiskal dan sentimen investor. “Apakah memang ada tokoh lain atau kan justru nanti akan diisi dari posisi wakil menteri yang sekarang? Jadi memang ini agak risky juga ya dari sisi perekonomian kalau menurut saya,” ucapnya.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti. Ia menilai kabar mundurnya Sri Mulyani berpotensi melemahkan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

