Intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten kembali menjadi perhatian setelah sempat populer sebagai tren global di bidang kesehatan dan kebugaran. Di tengah munculnya berbagai riset terbaru, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah pola makan yang membatasi waktu makan ini masih efektif dan aman pada 2025.
Tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam Nutrition Science Review (2025) menyimpulkan bahwa IF tetap memiliki manfaat, terutama untuk membantu penurunan berat badan, menyeimbangkan kadar gula darah, serta memperbaiki sensitivitas insulin. Namun, hasil yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh metode yang dipilih—seperti 16:8, 5:2, atau alternate day fasting—serta konsistensi dan kualitas makanan saat jendela makan.
Menurut para ahli gizi klinis, manfaat IF tidak semata-mata berasal dari pembatasan kalori. Mereka menilai ada proses “reset metabolik” ketika tubuh berada dalam fase tidak makan, yang memberi waktu bagi tubuh untuk memperbaiki sel dan mengatur ulang hormon metabolisme.
Meski demikian, IF juga dinilai memiliki risiko bila dilakukan secara berlebihan atau tanpa panduan. Praktik yang terlalu ekstrem dapat berdampak pada kesehatan pencernaan dan keseimbangan hormon.
Sejumlah temuan terbaru turut menyoroti sisi lain dari pola ini. Studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health mencatat bahwa sebagian pelaku IF mengalami gangguan tidur, kelelahan, hingga kehilangan massa otot, terutama ketika pola makan tidak seimbang atau puasa dijalankan terlalu ketat.
Seiring berkembangnya penelitian, para ahli mendorong pendekatan yang lebih fleksibel, misalnya time-restricted eating dengan jendela makan yang disesuaikan dengan gaya hidup individu. Dengan demikian, IF pada 2025 tidak lagi dipandang sekadar tren, melainkan metode yang perlu dipersonalisasi.
Para ahli menekankan bahwa keberhasilan puasa intermiten tidak hanya ditentukan oleh durasi puasa, melainkan oleh keseimbangan nutrisi, konsistensi, serta kesesuaian dengan kondisi tubuh masing-masing.

