SURABAYA — Peringatan Hari Tari Sedunia pada Selasa, 29 April 2026, menyoroti perubahan cara seni tari hadir dan diakses masyarakat. Jika selama ini tari identik dengan panggung pertunjukan, latihan disiplin di sanggar, serta ruang yang cenderung eksklusif, kini perkembangannya bergerak ke platform digital yang lebih terbuka dan dekat dengan publik.
Perkembangan teknologi dinilai membawa perubahan besar terhadap cara masyarakat menikmati seni tari. Kehadiran platform digital seperti TikTok, misalnya, membuat tarian lebih mudah dipelajari dan diikuti oleh berbagai kalangan. Gerakan tari dapat dipelajari melalui video pendek yang bisa diakses kapan saja melalui ponsel.
Fenomena tersebut membuat batas antara penonton dan pelaku tari semakin tipis. Namun, kemudahan ini juga memunculkan konsekuensi terhadap kualitas dan makna tarian. Sejumlah tarian disederhanakan agar mudah ditiru, sehingga berpotensi mengurangi nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Selain itu, penilaian terhadap tarian kini kerap didasarkan pada tingkat popularitas dan jumlah penonton. Perubahan ini memunculkan perdebatan mengenai dampak digitalisasi terhadap keberlangsungan seni tari.
Meski demikian, perkembangan platform digital juga membuka peluang besar bagi seni tari untuk dikenal lebih luas, terutama oleh generasi muda. Pada akhirnya, esensi tari tetap sebagai media ekspresi, cerita, dan perasaan yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

