BERITA TERKINI
Gerobak Prancis di Denpasar Klaim Jual Lebih dari 1.200 Croissant dan Salt Bread dalam 10 Hari

Gerobak Prancis di Denpasar Klaim Jual Lebih dari 1.200 Croissant dan Salt Bread dalam 10 Hari

Usaha kuliner keliling bernama Gerobak Prancis di Denpasar, Bali, mencatat penjualan lebih dari 1.200 croissant dan salt bread dalam 10 hari aktif berjualan. Bisnis milik Andrew ini menarik perhatian karena mengusung konsep penjualan roti bergaya Eropa menggunakan gerobak dorong, alih-alih membuka toko atau menetap di satu kafe.

Andrew mengatakan pendekatan berkeliling dipilih sebagai cara memperkenalkan croissant dengan akses yang lebih terjangkau dan mudah dijumpai. Ia menilai produk tersebut tidak semestinya hanya tersedia di kafe atau tempat makan kelas atas, melainkan bisa dipasarkan melalui cara yang lebih sederhana.

Gagasan berjualan croissant, menurut Andrew, bermula dari salah satu anggota keluarganya. Setelah itu, ia mengembangkan konsep gerobak, strategi konten, serta pendekatan pemasaran agar usahanya memiliki ciri khas. Dalam wawancara dengan Detik Food pada 16 Oktober 2026, ia menjelaskan pembagian peran saat merintis bisnis tersebut. “Anggota keluarga saya yang awalnya punya ide untuk menjual croissant. Saya kemudian memikirkan ide untuk gerobak, konten, dan hal lainnya agar bisa tampil berbeda,” ujar Andrew.

Andrew lahir di Norwich, Inggris, dan memiliki darah campuran Indonesia-Inggris. Melalui Gerobak Prancis, ia berupaya membawa roti khas Eropa lebih dekat kepada konsumen di Bali. Ia juga membandingkan cara penjualan yang diinginkannya dengan produk makanan yang mudah ditemukan dan dibeli sehari-hari.

Meski kini menekuni bisnis roti, Andrew mengaku tidak memiliki latar belakang profesional di bidang kuliner. Ia menyebut pengetahuan memasaknya berkembang dari kebiasaan membuat makanan sendiri sejak kecil. “Cukup mengejutkan, saya sebenarnya tidak punya pengalaman kuliner sama sekali,” katanya.

Pengalaman kerja sebelumnya, menurut Andrew, turut membantu dalam aspek pemasaran. Ia pernah bekerja sebagai pelayan di Waroeng D’Carik, Kedampang, dan dari sana mempelajari cara menawarkan menu khusus kepada wisatawan serta membantu promosi makanan melalui internet. Bekal tersebut kemudian ia terapkan dalam usaha yang memadukan penjualan langsung dan pemasaran lewat media sosial.

Gerobak Prancis juga tidak mengandalkan satu titik berjualan. Andrew memilih berpindah lokasi untuk menjangkau calon pembeli yang lebih luas. Ia menilai bertahan di satu tempat berisiko membatasi pasar, terlebih jika pemilihan lokasinya kurang sesuai. “Tidak ada alasan khusus untuk menetap di satu tempat. Strategi sederhana ini memungkinkan saya menjual lebih dari 1.200 croissant dan salt bread hanya dalam 10 hari,” jelasnya.

Dari sisi produk, Andrew menyebut respons pelanggan cenderung positif meski usahanya masih baru. Ia menggambarkan croissant yang dijual memiliki bagian dalam lembut dan kenyal, sementara bagian luarnya renyah dan berlapis. “Orang-orang benar-benar menyukai croissant dan salt bread kami. Croissantnya buttery, lembut dan chewy di dalam, tetapi tetap renyah, flaky dan kokoh di luar,” ujarnya.

Adapun salt bread yang ditawarkan menggunakan sourdough. Andrew menyebut roti ini memiliki bagian bawah yang renyah, dengan sisi lain yang lembut dan kenyal, serta rasa gurih yang lebih kompleks.

Perkembangan Gerobak Prancis juga terlihat dari jangkauan di media sosial. Video pertama usaha ini diunggah pada 15 September 2026 dan disebut telah meraih lebih dari 3 juta penayangan. Andrew menyatakan Gerobak Prancis baru berjalan 19 hari, dengan 10 hari di antaranya merupakan hari aktif berjualan. Ia juga mengklaim pencapaian tersebut diraih melalui 16 unggahan, dengan total penjualan lebih dari 1.200 croissant dan salt bread.

Dalam periode awal itu, Gerobak Prancis menggabungkan strategi mobilitas gerobak, penjualan langsung, dan konten media sosial untuk memperluas jangkauan konsumen di Denpasar.