BERITA TERKINI
Fenomena Tren Viral di Media Sosial: Popularitas Tak Selalu Sejalan dengan Kebenaran

Fenomena Tren Viral di Media Sosial: Popularitas Tak Selalu Sejalan dengan Kebenaran

Layar ponsel yang nyaris tak pernah padam membuat tren di media sosial terus berganti dari hari ke hari. Beragam konten muncul silih berganti, mulai dari kisah anak muda berprestasi, video hiburan, hingga aksi nekat yang tak jarang dipertontonkan dan ditonton jutaan kali. Dalam arus informasi yang serba cepat itu, ukuran keberhasilan kerap bergeser: sesuatu dianggap menarik, keren, bahkan benar, ketika menjadi viral.

Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi jebakan di era digital. Sebagian anak muda terdorong pada pola pikir sederhana, yakni menganggap sesuatu wajar dilakukan karena banyak orang ikut melakukannya. Akibatnya, popularitas berisiko mengalahkan etika, sementara jumlah suka dan pengikut seolah menjadi penentu baik-buruk sebuah perilaku.

Dalam ajaran Islam maupun norma kehidupan, kebenaran tidak diukur dari seberapa ramai dukungan yang terlihat. Salah satu peringatan yang dikutip adalah Surah Al-An’am ayat 116 yang menyebut bahwa mengikuti kebanyakan orang dapat menyesatkan dari jalan Allah, karena yang diikuti bisa jadi hanya prasangka dan kebohongan.

Peringatan tersebut dipahami sebagai penegasan bahwa banyaknya pengikut bukan bukti seseorang selalu benar, dan ribuan tanda suka bukan jaminan perilaku yang ditampilkan terpuji. Bagi pelajar, menggantungkan rasa percaya diri pada angka-angka di media sosial juga dinilai berisiko. Selain melelahkan, pujian di ruang digital mudah berubah: hari ini dipuji, esok bisa menuai hujatan.

Media sosial pada dasarnya dipandang sebagai wadah yang bergantung pada bagaimana penggunanya mengisi ruang tersebut. Alih-alih sekadar mengikuti tren yang dinilai tidak bermanfaat, energi pelajar dapat diarahkan pada kegiatan yang lebih positif, seperti berbagi ilmu, menebar inspirasi, atau membuka ruang diskusi yang berguna.

Di sisi lain, tren di dunia maya bergerak cepat. Konten yang sempat berada di puncak popularitas dapat segera kehilangan perhatian dalam hitungan hari. Namun, terdapat catatan yang diyakini tidak hilang, yakni catatan amal. Setiap ketikan, komentar, dan unggahan disebut akan tetap tercatat di hadapan Allah Swt.

Atas dasar itu, pesan yang ditekankan adalah perlunya bersikap lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Masa muda diingatkan agar tidak dihabiskan hanya untuk mengejar ketenaran sesaat, melainkan diarahkan untuk membangun akhlak yang baik, menghasilkan karya bermanfaat, serta menjaga ketaatan kepada Sang Pencipta.