Evaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bangli menempatkan komposisi menu dan rantai distribusi sebagai fokus pemantauan. Catatan evaluasi hingga minggu kedua Desember 2025 mencatat operasional 11 dapur SPPG yang tersebar di Kintamani, Susut, Tembuku, dan Bangli, dengan rata-rata penerima manfaat harian pada kisaran 30.000–33.000 orang. Data tersebut merujuk pada periode evaluasi yang disebutkan dan bukan konfirmasi jumlah dapur terkini per Oktober 2026.
Dalam catatan yang sama, penerima manfaat mencakup peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMK, serta kelompok 3B—balita, ibu hamil, dan ibu menyusui—di desa sasaran. Pemantauan dilakukan untuk melihat pelaksanaan program secara menyeluruh, mulai dari kesiapan dapur, mutu menu, hingga ketepatan penyaluran.
Salah satu dapur yang disorot adalah Dapur SPPG Kintamani Batur Tengah yang dilaporkan telah beroperasi stabil. Berdasarkan bahan wawancara dalam evaluasi, dapur ini melayani 917 siswa SMPN 1 Kintamani per hari dan dinilai berpotensi menjadi model pengembangan layanan di wilayah Kintamani. Dokumentasi menu yang menyertai peliputan menampilkan contoh sajian MBG berupa nasi, lauk sumber protein, sayuran, dan buah.
Dari sisi menu, evaluasi menilai komposisi harian relatif seimbang karena memadukan beberapa kelompok pangan. Sumber karbohidrat dipadukan dengan protein hewani seperti ayam, telur, dan susu, serta protein nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan, disertai sayur dan buah. Pada akhir pekan, menu kering—antara lain telur, susu, roti atau biskuit, buah, dan kacang—digunakan untuk menjaga ketersediaan asupan ketika dapur tidak beroperasi. Catatan evaluasi juga menyebut adanya pemanfaatan produk UMKM lokal, termasuk roti dan makanan ringan berbahan singkong atau tempe.
Evaluasi turut menyoroti aspek distribusi. Rantai pengiriman dari dapur ke sekolah dan posyandu dilaporkan berjalan tepat waktu. Namun, hujan deras disebut dapat menghambat pengiriman ke wilayah atas atau lereng, sementara keterbatasan armada pada jam puncak menjadi tantangan bagi sebagian dapur. Pengaturan menu basah dan kering juga disebut semakin tertata, dengan menu basah lebih banyak disalurkan pada hari sekolah, sedangkan menu kering ditempatkan pada hari tertentu dan untuk kelompok 3B.
Dalam hal pasokan, stok bahan strategis seperti beras, telur, ayam, susu, dan buah dilaporkan terkendali pada periode evaluasi. Meski demikian, ketersediaan buah tertentu—seperti pir dan jeruk impor—serta beberapa merek susu disebut terkadang berfluktuasi. Karena itu, koordinasi yang lebih intensif dengan distributor dan pasar induk dinilai penting untuk menjaga ketersediaan dan kestabilan harga menjelang Natal dan Tahun Baru.
Catatan evaluasi juga memuat pemantauan mutu dan komunikasi publik. Pada periode yang dicatat, belum terdapat laporan keracunan atau keluhan serius terkait kualitas makanan. Tim SPPG dan sekolah disebut melakukan pemantauan organoleptik sederhana serta dokumentasi foto dan video secara rutin. Meski begitu, pengawasan berkelanjutan tetap dinilai diperlukan, terutama terkait higienitas dapur, mutu menu, dan kelancaran distribusi. Evaluasi menekankan pentingnya komunikasi yang transparan agar keluhan dapat ditangani cepat dan informasi yang beredar di lingkungan sekolah maupun media sosial tidak berkembang tanpa verifikasi.
Sejumlah langkah penguatan yang direkomendasikan mencakup penyusunan rencana distribusi alternatif saat cuaca buruk, evaluasi kecukupan armada pada jam sibuk, penguatan koordinasi dengan pemasok, serta konsistensi dokumentasi pengawasan mutu. Pemantauan juga disebut perlu mencakup koordinasi kerja antara mitra, kepala SPPG, dan akuntan. Evaluasi mingguan dipandang sebagai cara untuk menilai pelaksanaan MBG secara menyeluruh, sekaligus mengingatkan agar informasi mengenai jumlah dapur dan penerima manfaat selalu disertai tanggal rujukan sehingga publik dapat membedakan data historis dari kondisi terbaru.