BERITA TERKINI
Enam Tips Memulai Bisnis Kuliner di Area Kampus

Enam Tips Memulai Bisnis Kuliner di Area Kampus

Bisnis kuliner kerap dinilai sebagai usaha yang relatif bertahan di berbagai kondisi ekonomi. Mantan Ketua MPR RI periode 2019–2024, Bambang Soesatyo, pernah menyampaikan kepada Tempo bahwa bisnis kuliner memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian Indonesia.

Di sisi lain, beragamnya varian produk turunan serta pilihan model penjualan membuat banyak orang tertarik menekuni usaha ini. Salah satu konsep yang dinilai memiliki peluang adalah membuka usaha makanan di sekitar kampus. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang dilansir Katadata pada 2022 mencatat jumlah mahasiswa mencapai 9,32 juta orang, sehingga pasar kuliner di area kampus dinilai terbuka lebar.

Bagi calon pelaku usaha yang tinggal di kawasan permukiman mahasiswa atau dekat lingkungan kampus, berikut enam langkah yang dapat dipertimbangkan sebelum memulai bisnis kuliner.

1. Menyusun rencana bisnis
Langkah awal adalah menentukan rencana bisnis yang jelas. Tahap ini disebut krusial karena akan memengaruhi arah usaha ke depan. Rencana bisnis dapat mencakup konsep produk, model penjualan, hingga perhitungan untung-rugi.

Misalnya, bagi yang ingin berjualan tetapi kurang percaya diri dalam kemampuan memasak, konsep waralaba (franchise) dapat menjadi opsi. Jika memilih menu yang sudah banyak pesaing—seperti ayam geprek—pelaku usaha dapat mencoba membuat pembeda, misalnya dengan konsep prasmanan agar konsumen bisa mengambil sambal sesuai selera. Namun, perhitungan biaya dan potensi keuntungan tetap perlu dibuat agar konsep tersebut tidak menimbulkan masalah saat dijalankan.

2. Melakukan riset pasar
Setelah rencana bisnis terbentuk, riset pasar diperlukan untuk memahami kebutuhan dan kebiasaan konsumen di area kampus. Riset ini dapat membantu mengetahui menu yang diminati mahasiswa, kisaran harga yang terjangkau, serta gambaran demografi target pembeli.

Karena berjualan di lingkungan kampus, harga yang ramah di kantong dan tempat yang nyaman disebut menjadi pertimbangan penting. Riset pasar juga dapat dipakai untuk memetakan kondisi kompetitor di sekitar lokasi usaha.

3. Menentukan lokasi strategis
Pemilihan lokasi menjadi faktor berikutnya. Di area kampus, lokasi yang mudah dijangkau berpotensi meningkatkan peluang penjualan. Jika memiliki rumah dengan teras yang cukup luas dan berada dekat kampus, area tersebut dapat dimanfaatkan.

Jika domisili jauh, pelaku usaha bisa mempertimbangkan berjualan di kantin mahasiswa atau menyewa teras rumah di sekitar kampus sebagai tempat usaha.

4. Menyiapkan modal
Modal diperlukan untuk menutup berbagai kebutuhan awal, mulai dari bahan baku, peralatan memasak, hingga perlengkapan warung. Jika dana terbatas, pelaku usaha bisa memulai dari skala kecil, misalnya menjual camilan atau membeli bahan baku dalam jumlah sedikit.

Apabila konsep usaha membutuhkan modal lebih besar, opsi seperti mencari investor atau mengajukan kredit perbankan dapat dipertimbangkan. Namun, pemahaman atas syarat kredit dan kemampuan finansial usaha tetap perlu diperhatikan agar arus kas tidak terganggu.

5. Menyusun strategi penjualan dan pemasaran
Strategi penjualan dapat dirancang setelah produk, target konsumen, lokasi, dan modal lebih jelas. Mahasiswa disebut cenderung menyukai diskon dan promo, sehingga program seperti buy one get one free, sarapan gratis pada hari tertentu, atau potongan harga untuk pembelian bersama dapat menjadi pilihan.

Strategi juga mencakup cara pemasaran, baik konvensional seperti brosur, pamflet, dan banner, maupun melalui media sosial. Karena lebih dekat dengan kebiasaan mahasiswa, pemasaran digital termasuk penjualan melalui aplikasi transportasi online juga dapat dipertimbangkan.

6. Melakukan evaluasi rutin
Evaluasi berkala diperlukan untuk memantau kesehatan usaha. Langkah ini dapat dilakukan dengan mencatat pengeluaran, menghitung keuntungan, serta memperkirakan kapan usaha mencapai titik balik modal.

Evaluasi juga mencakup tanggapan konsumen terhadap produk dan layanan. Dengan pemantauan rutin, pelaku usaha dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan bisnis sehingga kualitas produk dapat terus ditingkatkan, termasuk bagi mereka yang baru memulai.