Perubahan cara konsumen mencari referensi makanan ikut menggeser strategi pemasaran pelaku usaha kuliner. Jika sebelumnya rekomendasi banyak datang dari keluarga, teman, atau pengalaman berkunjung, kini rujukan juga muncul dari video pendek serta unggahan kreator di media sosial.
Di tengah pergeseran itu, dua merek kuliner lokal—Amanda Brownies dan Suweger—menempuh strategi yang berbeda sesuai karakter bisnisnya. Amanda Brownies merupakan usaha keluarga yang telah berjalan lebih dari dua dekade dan dikenal lintas generasi, sementara Suweger berangkat dari bisnis minuman untuk mahasiswa dan kini mulai memperluas produk ke kategori camilan.
Manager Marketing Amanda Brownies, Hilda Nathania, menggambarkan kuatnya keterhubungan merek dengan pelanggan dari generasi ke generasi. “Dulu ibu saya yang menyuguhkan Amanda untuk saya, sekarang saya yang membelikan untuk anak saya,” ujarnya dalam keterangan pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Amanda Brownies memulai usaha di Bandung pada 1999. Saat ini, perusahaan memiliki 150 outlet yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Sejak 2020, Amanda mengembangkan konten di TikTok dan bekerja sama dengan kreator makanan serta gaya hidup untuk memperkenalkan produknya kepada audiens yang lebih muda.
Berdasarkan data internal perusahaan, lebih dari 40 ribu video organik buatan pengguna menampilkan produk brownies mereka dengan total tayangan melampaui 500 juta kali. Pada Juli 2026, Amanda Brownies bergabung dengan TikTok GO by Tokopedia.
Melalui layanan tersebut, perusahaan memanfaatkan penanda lokasi untuk membantu konsumen menemukan outlet serta menyediakan voucer yang dapat ditukarkan dengan produk pilihan. Hilda mengatakan, setelah bergabung, perusahaan melihat konsumen yang tertarik pada penawaran di konten, termasuk promo group-buy, cenderung datang ke outlet pada hari yang sama atau paling lambat keesokan harinya. “Kami tidak menyangka proses konversinya bisa seefisien dan secepat itu,” kata Hilda.
Perusahaan mencatat penjualan voucer online meningkat lebih dari 80 persen pada Agustus–September 2026, atau dua bulan pertama setelah bergabung dengan layanan tersebut.
Sementara itu, Suweger lahir dari kebutuhan yang berbeda. Tiga mahasiswa tingkat akhir mendirikan merek minuman ini di Surabaya pada 2019 untuk menyediakan minuman segar dengan harga terjangkau bagi mahasiswa. Dari satu outlet di kawasan Sukolilo, Suweger berkembang menjadi sekitar 14 outlet di Surabaya dan Sidoarjo.
Sejak 2021, Suweger mengunggah konten komedi dan hiburan di TikTok. Interaksi dengan audiens kemudian menjadi salah satu sumber masukan bagi perusahaan untuk memahami minat konsumen. Pada 2026, Suweger mulai mengeksplorasi program afiliasi, flash sale, kolaborasi kreator, dan siaran langsung melalui TikTok GO by Tokopedia.
Chief Marketing Officer Suweger, Muhammad Ghiyats Humam, mengatakan perusahaan tidak hanya memantau ramainya penonton, tetapi juga ingin mengetahui apakah konten mendorong orang untuk mencoba produk. “Melalui TikTok GO by Tokopedia, kami tidak hanya melihat apakah konten kami ramai atau banyak ditonton. Kami juga ingin tahu apakah setelah melihat konten, orang menjadi tertarik dengan produknya dan akhirnya mencoba. Karena itu, kami terus belajar format seperti apa yang paling relevan untuk audiens Suweger,” ujarnya.
Salah satu produk yang dikembangkan Suweger adalah Thai Tea Jelly Boba, yang berangkat dari kategori minuman terlaris perusahaan. Berdasarkan data internal, produk tersebut masuk lima besar produk terlaris dalam sekitar satu bulan setelah peluncuran dan sempat menempati posisi kedua.
Selain minuman, Suweger mulai menawarkan camilan, termasuk dimsum dengan variasi kuah keju, bubuk cabai, dan bakso aci. Salah satu produk camilan yang masih dipantau perkembangannya disebut telah terjual hampir 1.000 unit per pekan.
Selama Mei–September 2026, Suweger mencatat pertumbuhan penjualan voucer online hingga 20 persen. Ghiyats juga menyebut lebih dari 50 persen kunjungan langsung konsumen ke outlet berkaitan dengan TikTok GO by Tokopedia. Operasional 14 gerai Suweger melibatkan sekitar 60 tenaga kerja, banyak di antaranya anak muda yang tinggal di sekitar gerai.
Pengalaman kedua merek tersebut menunjukkan bagaimana perubahan pola pencarian referensi makanan mendorong pelaku usaha menggabungkan konten media sosial dengan kanal penjualan, sekaligus memanfaatkannya untuk membaca respons konsumen secara lebih cepat.