Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang menilai upaya pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa remaja, dengan memberi perhatian khusus pada kondisi gizi remaja putri yang kelak menjadi calon ibu.
Analis Gizi Dinkes Kota Tanjungpinang, Renta Paulina, mengatakan remaja putri yang mengalami masalah gizi berisiko tumbuh menjadi perempuan dewasa dengan status gizi yang kurang baik. “Kalau dari remaja putrinya sudah mengalami masalah gizi, kemungkinan besar dia akan tumbuh menjadi perempuan dewasa dengan status gizi yang kurang baik,” ujar Renta, Jumat, 28 Agustus 2026.
Menurut Renta, status gizi ibu berpengaruh terhadap kehamilan dan kesehatan bayi. Ia menjelaskan, ibu dengan status gizi yang kurang baik berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, yang disebut sebagai salah satu faktor risiko stunting.
Karena itu, ia menekankan pencegahan stunting perlu dilakukan dari hulu, tidak menunggu setelah anak lahir. “Jadi pencegahan stunting harus dimulai dari hulu. Jangan menunggu anak lahir baru dilakukan intervensi. Remaja putri harus kita siapkan karena mereka nantinya menjadi calon ibu,” ucapnya.
Renta juga menyoroti tantangan yang muncul dari perubahan gaya hidup remaja. Ia menyebut, remaja kini cenderung kurang bergerak dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget, bahkan hingga mengganggu pola tidur.
Ia mendorong agar edukasi mengenai gizi seimbang, aktivitas fisik, dan tidur yang cukup terus digalakkan. Menurutnya, intervensi sejak remaja penting untuk menyiapkan calon ibu yang sehat.
Renta berharap perhatian terhadap gizi remaja putri dapat dilakukan secara bersama-sama, sehingga upaya memutus rantai stunting bisa dimulai sejak dini dan menghasilkan generasi yang lebih sehat di masa depan.