BERITA TERKINI
Dinkes Sleman Integrasikan Program Kesehatan 2026, Perkuat Aksi Sehat hingga Pengawasan Gizi Sekolah

Dinkes Sleman Integrasikan Program Kesehatan 2026, Perkuat Aksi Sehat hingga Pengawasan Gizi Sekolah

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat sepanjang 2026. Menghadapi dinamika tantangan kesehatan global, Dinkes Sleman mengintegrasikan sejumlah program strategis, mulai dari Integrasi Layanan Primer (ILP), pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM), mitigasi penyakit menular, penanganan stunting, hingga pengawalan program nutrisi nasional.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr. Cahya Purnama, MKes, menyatakan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan menjadi pilar penting untuk mewujudkan daerah yang sejahtera, tangguh, dan produktif. Salah satu program yang didorong sebagai motor penggerak di lapangan adalah “Aksi Sehat” (Aktivitas Kesehatan Sleman Terintegrasi), yang dirancang untuk menyatukan berbagai intervensi kesehatan di tingkat masyarakat agar lebih efektif dan efisien.

“Kami ingin masyarakat Sleman bertransformasi dari sekadar objek layanan menjadi subjek yang mandiri dalam menjaga kesehatan,” kata dr. Cahya Purnama, Jumat (8/5/2026). Ia menjelaskan, Aksi Sehat telah berjalan intensif sejak Maret 2026 dengan penguatan partisipasi sosial kesehatan hingga tingkat kalurahan dan dusun, termasuk mendorong deteksi dini sebagai kebutuhan hidup.

Dalam pelaksanaannya, Dinkes Sleman menaruh perhatian pada pencegahan PTM seperti diabetes melitus, hipertensi, dan stroke. Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi rutin terkait penerapan diet seimbang, termasuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), serta mempopulerkan aktivitas fisik intensitas ringan hingga sedang melalui gerakan senam massal dan jalan sehat di tingkat dusun.

Di sisi lain, kewaspadaan terhadap penyakit menular tetap menjadi prioritas, terutama dalam konteks perubahan iklim yang dapat meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan. Langkah preventif ditempuh melalui penguatan cakupan imunisasi dan optimalisasi peran lintas sektor yang menyasar kelompok rentan, mulai dari balita hingga anak sekolah. Selain itu, peningkatan mutu layanan dan kemudahan akses skrining kesehatan di 25 puskesmas se-Sleman disebut menjadi garda terdepan untuk mendeteksi potensi kejadian luar biasa (KLB) sejak dini.

“Kami bergerak di dua jalur sekaligus. Sembari mengajak warga rutin berolahraga dan menjaga kesehatan mental terutama bagi kelompok lansia agar tetap bugar secara fisik dan psikis, kami juga memastikan benteng imunisasi tetap kokoh. Skrining yang ketat di fasilitas kesehatan diharapkan mampu mendeteksi potensi KLB sebelum meluas di tengah masyarakat,” ujar dr. Cahya.

Memasuki Mei 2026, Dinkes Sleman juga memperkuat peran dalam mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengawasan dilakukan pada aspek higienitas dan sanitasi, baik di kantin sekolah maupun pada penyedia jasa boga (catering) mitra, untuk memastikan asupan yang dikonsumsi siswa berkualitas dan aman.

Menurut dr. Cahya, keamanan pangan menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar. Ia menekankan sekolah dan penyedia dalam program MBG wajib memiliki dan menerapkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai jaminan bahwa makanan memenuhi standar gizi, aman dari kontaminasi bakteri, dan diolah secara higienis.

Dengan sinergi pembenahan pola makan, aktivitas fisik teratur, serta penguatan layanan kesehatan yang responsif, Dinkes Sleman menyatakan optimistis angka harapan hidup masyarakat dapat terus meningkat. “Investasi kesehatan dimulai dari kesadaran individu hari ini. Apa yang kita makan hari ini akan kita tuai atau berdampak di masa tua nanti. Lingkungan yang sehat dan gaya hidup yang benar adalah fondasi bagi masa depan Sleman yang lebih sehat, cerdas, dan produktif,” kata dr. Cahya.