BERITA TERKINI
Saat Camilan Tradisional Indonesia Masuk Panggung Dunia: Membaca Tren TasteAtlas, dari Batagor hingga Otak-otak

Saat Camilan Tradisional Indonesia Masuk Panggung Dunia: Membaca Tren TasteAtlas, dari Batagor hingga Otak-otak

Nama-nama camilan yang akrab di lidah, mendadak ramai di linimasa.

Daftar “Top 30 Indonesian Snacks” dari TasteAtlas membuat batagor, pisang goreng, dan pempek kembali dibicarakan, seolah kita baru menyadari nilainya.

Inilah isu yang mendorong tren: pengakuan internasional atas sesuatu yang selama ini terasa domestik, murah, dan dekat.

Ketika platform global memberi peringkat, percakapan publik bergeser.

Bukan lagi semata soal rasa, melainkan soal identitas, kebanggaan, dan siapa yang berhak mendefinisikan “terbaik”.

-000-

Daftar TasteAtlas dan angka yang memantik perhatian

TasteAtlas, ensiklopedia makanan dunia, merilis daftar camilan Indonesia dengan rating tertinggi berdasarkan penilaian komunitas penggunanya.

Hingga 15 Mei 2026, TasteAtlas mencatat 1.406 penilaian untuk kategori camilan Indonesia.

Sebanyak 896 penilaian dinyatakan valid oleh sistem verifikasi mereka.

Angka-angka ini tampak teknis, tetapi justru di situlah daya ledaknya.

Publik melihatnya sebagai “bukti” bahwa selera lokal bisa diterjemahkan ke bahasa global, yaitu rating.

Di saat yang sama, TasteAtlas menegaskan pemeringkatan bukan kesimpulan mutlak tentang makanan terbaik di dunia.

Daftar itu, kata mereka, bertujuan memperkenalkan makanan lokal dan menumbuhkan kebanggaan terhadap kuliner tradisional.

Kalimat penegasan itu penting, namun sering tertelan oleh euforia peringkat.

-000-

Sepuluh camilan teratas: yang akrab, yang merantau, yang bertahan

Di posisi pertama ada batagor dengan rating 4,4.

Camilan khas Bandung ini terinspirasi tradisi kuliner Tionghoa, dibuat dari adonan ikan dibungkus tahu, lalu digoreng hingga renyah.

Penyajiannya dilengkapi saus kacang, kecap, sambal, dan perasan jeruk limau.

Di posisi kedua, pisang goreng juga meraih rating 4,4.

Ia hadir di hampir seluruh wilayah Indonesia dengan variasi.

Di Bali dikenal sebagai godoh biu, di Jawa disebut gedhang gorèng.

Peringkat ketiga ditempati pempek khas Palembang.

Bahan dasarnya ikan dan tepung sagu, dengan tekstur kenyal dan kuah cuko yang asam, manis, serta pedas.

Posisi keempat adalah gorengan dengan rating 4,2.

Dalam definisi TasteAtlas, gorengan mencakup pisang, tahu, tempe, singkong, ubi, hingga nangka yang digoreng.

Urutan kelima diisi tempe mendoan asal Purwokerto.

Mendoan digoreng sebentar, bagian luar tipis dan lembut, bagian dalam tetap empuk.

Nama “mendoan” berasal dari bahasa Banyumasan yang berarti setengah matang.

Posisi keenam ditempati odading khas Bandung dengan rating 4,1.

Odading berupa roti goreng dari adonan ragi, empuk dan berongga.

Popularitasnya kembali meningkat setelah sempat viral di media sosial beberapa tahun lalu.

Peringkat ketujuh ada serabi dengan rating 4,1.

Serabi, pancake khas Indonesia dari tepung beras dan santan, memiliki variasi manis dan gurih.

Toppingnya beragam, dari gula merah dan pisang hingga oncom.

Peringkat kedelapan adalah bakwan atau bala-bala dengan rating 4,1.

Campuran sayur seperti kol, wortel, tauge, dan daun bawang membuatnya mudah dikenali, mudah pula ditemukan.

Posisi kesembilan ditempati tempe goreng.

Tempe digoreng hingga garing dan keemasan, umumnya dimarinasi bawang putih, ketumbar, kunyit, dan garam.

Menutup sepuluh besar, otak-otak dengan rating 4,1.

Camilan ini dibuat dari ikan giling, tapioka, santan, dan rempah, dibungkus daun pisang lalu dipanggang.

-000-

Mengapa berita ini menjadi tren: tiga alasan yang saling menguatkan

Pertama, ada daya tarik “diakui dunia”.

Ketika sesuatu yang kita anggap biasa mendapat panggung global, emosi kolektif bergerak cepat dari nostalgia menjadi kebanggaan.

Kedua, format peringkat memudahkan publik berdebat.

Daftar memancing pertanyaan sederhana namun memicu diskusi panjang: mengapa ini di atas itu, dan siapa yang menilai.

Ketiga, camilan adalah pengalaman lintas kelas dan lintas generasi.

Batagor di gerobak, pisang goreng di rumah, pempek di kedai, serabi di pasar, semuanya punya pintu masuk ke memori pribadi.

Karena dekat, ia mudah menjadi bahan percakapan massal.

-000-

Di balik peringkat: apa yang sebenarnya sedang kita bicarakan

Daftar TasteAtlas tampak seperti urusan selera.

Namun yang ramai justru pertanyaan yang lebih dalam: apakah kita menghargai kuliner tradisional sebelum ada validasi dari luar.

Pengakuan eksternal sering bekerja seperti cermin.

Ia tidak menciptakan nilai dari nol, tetapi membuat nilai yang lama terabaikan menjadi terlihat.

Di sini muncul paradoks kebanggaan.

Kita ingin berdiri di atas kaki sendiri, tetapi juga ingin memastikan kaki itu terlihat oleh dunia.

Di antara dua keinginan itu, peringkat menjadi pemantik, bukan penutup percakapan.

-000-

Mengaitkan tren camilan dengan isu besar Indonesia: identitas, ekonomi, dan ketahanan budaya

Isu pertama adalah identitas kebangsaan yang majemuk.

Daftar ini memperlihatkan Indonesia bukan satu rasa.

Ada Bandung dengan batagor dan odading, Palembang dengan pempek, Purwokerto dengan mendoan, serta ragam gorengan yang lintas daerah.

Keragaman itu bukan sekadar katalog.

Ia adalah cara kita memahami persatuan: bukan menyeragamkan, melainkan merawat perbedaan agar tetap hidup.

Isu kedua adalah ekonomi rakyat.

Banyak camilan dalam daftar ini lahir dari ekosistem usaha kecil.

Gerobak, warung, pasar, dan dapur rumahan menjadi infrastruktur sosial yang sering luput dari statistik besar.

Ketika camilan tradisional dibicarakan luas, ada peluang perhatian pada rantai pasoknya.

Mulai dari bahan baku, keterampilan produksi, hingga ruang jual yang aman dan tertib.

Isu ketiga adalah ketahanan budaya di era platform.

Odading yang pernah viral menunjukkan bagaimana media sosial dapat mengangkat, tetapi juga cepat melupakan.

Daftar TasteAtlas mengulang pola itu dalam skala global.

Pertanyaannya, apakah kita hanya mengejar momentum, atau membangun sistem agar tradisi kuliner tetap berlanjut.

-000-

Riset yang relevan: mengapa makanan bekerja kuat pada memori dan identitas

Riset psikologi dan ilmu saraf kerap menunjukkan hubungan erat antara aroma, rasa, dan memori autobiografis.

Dalam banyak kajian, isyarat penciuman dan rasa sering memicu ingatan yang lebih emosional dibanding pemicu visual.

Itu menjelaskan mengapa daftar camilan cepat menjadi bahan cerita.

Orang tidak hanya menyebut “batagor”, tetapi mengingat hujan sore, uang jajan, atau perjalanan pulang sekolah.

Di ranah ilmu sosial, kajian tentang warisan budaya takbenda menempatkan kuliner sebagai praktik hidup.

Ia bertahan bukan karena dipajang, melainkan karena dimasak, dijual, dibeli, lalu dimakan bersama.

Karena itu, peringkat global seharusnya dibaca sebagai kesempatan memperkuat praktik.

Bukan sekadar merayakan simbol.

-000-

Pelajaran dari luar negeri: ketika daftar kuliner memicu kebanggaan dan perdebatan

Di banyak negara, daftar atau pengakuan kuliner sering memantik reaksi serupa.

Italia, misalnya, kerap berdebat soal pizza paling “otentik” ketika masuk daftar atau panduan populer.

Jepang juga melihat bagaimana ramen berkembang dari makanan sehari-hari menjadi ikon global.

Perdebatan muncul saat standar global bertemu kebiasaan lokal.

Di Korea Selatan, gelombang budaya populer ikut mengangkat makanan jalanan menjadi magnet wisata.

Namun, diskusi tentang komersialisasi dan perubahan rasa juga mengiringi.

Referensi ini bukan untuk menyamakan pengalaman.

Melainkan untuk menunjukkan pola: ketika makanan lokal naik kelas di mata dunia, tantangan berikutnya adalah menjaga akarnya.

-000-

Membaca daftar dengan kepala dingin: rating, komunitas, dan keterbatasan

TasteAtlas menyusun peringkat dari penilaian komunitas pengguna.

Artinya, daftar mencerminkan pengalaman mereka yang menilai, pada titik waktu tertentu.

Validasi 896 penilaian menunjukkan ada mekanisme penyaringan, tetapi tetap bukan sensus selera Indonesia.

Di sinilah publik perlu cermat.

Daftar dapat menjadi pintu pengenalan, bukan palu untuk menghakimi.

Jika sebuah camilan tidak masuk sepuluh besar, itu bukan berarti ia kalah nilai budaya.

Ia mungkin kalah terlihat, kalah terdengar, atau kalah terjangkau oleh komunitas penilai.

-000-

Rekomendasi: bagaimana sebaiknya tren ini ditanggapi

Pertama, rayakan tanpa menutup ruang kritik.

Bangga boleh, tetapi tetap ingat bahwa TasteAtlas sendiri menyebut pemeringkatan bukan kesimpulan mutlak.

Kedua, jadikan momentum untuk memperkuat literasi kuliner.

Kenali asal-usul, teknik, dan keragaman nama seperti godoh biu dan gedhang gorèng.

Pengetahuan semacam ini membuat kebanggaan lebih berakar.

Ketiga, dukung ekosistem yang membuat camilan tradisional bertahan.

Ruang jual yang layak, akses bahan baku yang baik, dan regenerasi keterampilan memasak adalah bagian dari menjaga warisan.

Keempat, hindari perang selera yang menyederhanakan keragaman.

Gorengan, misalnya, adalah keluarga besar.

Membandingkannya secara kaku justru menghilangkan kisah lokal yang membuatnya hidup.

Kelima, gunakan perhatian publik untuk memperluas rasa ingin tahu.

Daftar sepuluh besar seharusnya menjadi awal, agar orang juga mencari camilan lain di luar daftar.

-000-

Penutup: ketika yang sederhana menjadi cermin bangsa

Daftar TasteAtlas membuat kita menoleh pada hal-hal kecil yang selama ini kita lewati.

Batagor, pisang goreng, pempek, serabi, bakwan, tempe, dan otak-otak bukan sekadar camilan.

Mereka adalah jejak migrasi, kreativitas, dan adaptasi yang membentuk dapur Indonesia.

Ketika dunia menilai, kita tidak harus mengejar tepuk tangan.

Kita cukup memastikan tradisi yang dinilai itu tetap bisa dimasak esok hari, oleh generasi berikutnya.

Dan bahwa kebanggaan tidak berhenti pada peringkat, melainkan berlanjut menjadi perawatan.

“Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, kita meminjamnya dari anak cucu.”