JAKARTA — Media sosial belakangan diramaikan tren bernama looksmaxxing, yang banyak dibahas di kalangan pria muda. Tren ini mendorong seseorang untuk memaksimalkan penampilan agar terlihat lebih menarik, namun juga memunculkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap kesehatan mental.
Dikutip dari Healthline, looksmaxxing adalah tren yang mengajak orang mengoptimalkan penampilan fisik demi mendekati standar wajah dan tubuh yang dianggap ideal. Pembahasannya umumnya beredar di media sosial, terutama di forum atau komunitas yang berfokus pada cara menjadi lebih menarik dari sisi fisik.
Beragam saran muncul dalam tren ini, mulai dari perawatan diri sederhana hingga anjuran prosedur kosmetik yang tergolong ekstrem. Sebagian orang menilai looksmaxxing sebagai bentuk self-improvement atau pengembangan diri, karena merawat penampilan dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri.
Namun, para ahli menilai tren ini kerap berangkat dari dorongan rasa tidak percaya diri dan perasaan rendah diri yang tidak sehat. “Orang-orang akan memfokuskan energi mereka untuk meningkatkan fisik mereka berdasarkan perasaan rendah diri atau tidak mampu,” kata konselor Jason Fierstein.
Masalah lain dapat muncul ketika keinginan memperbaiki penampilan berubah menjadi obsesi. Saat seseorang terus merasa penampilannya tidak pernah cukup baik, mereka berisiko terjebak dalam siklus membandingkan diri dengan orang lain dan semakin tidak percaya diri.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko body dysmorphia, yakni gangguan kesehatan mental ketika seseorang tidak bisa berhenti memikirkan kekurangan pada penampilannya. Kondisi ini juga dapat memicu kecemasan berlebih, ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri, hingga perilaku ekstrem untuk mengubah penampilan yang berpotensi membahayakan tubuh.
“Sebagai dokter kesehatan mental, kami tahu bahwa jika Anda merasa tidak memadai atau lebih rendah, itu adalah masalah yang harus dikerjakan dengan terapis yang berkualifikasi,” tuturnya.
Karena itu, para ahli menyarankan agar individu lebih dulu berfokus pada kesehatan mental dan penerimaan diri. Langkah ini dinilai dapat membantu seseorang menyikapi tren secara lebih bijak, alih-alih sekadar mengejar standar penampilan viral di media sosial yang belum tentu realistis.

